Penasihat Macron: Tel Aviv Ciptakan Kontroversi, Bukan Solusi
POROS PERLAWANAN – Seorang penasihat senior Presiden Prancis Emmanuel Macron mengaku terkejut dengan reaksi keras Tel Aviv atas sikap Paris yang mendukung solusi dua negara dan pengakuan terhadap negara Palestina. Ia juga menegaskan perlunya menghentikan agresi militer Israel di Jalur Gaza dan membuka akses bantuan kemanusiaan.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Minggu malam 27 Juli, pejabat tersebut menyoroti eskalasi korban di pihak Israel dan menyampaikan pesan jelas dari Elysée:
“Semakin banyak tentara Israel yang tewas dalam bentrokan dengan Hamas. Pesan kami kepada Tel Aviv: Perang ini harus dihentikan, dan bantuan kemanusiaan harus segera memasuki Gaza.”
Hipokrit Politik dan Reaksi Berlebihan Tel Aviv
Penasihat Macron juga menyatakan bahwa dukungan Prancis terhadap solusi dua negara telah menjadi posisi resmi selama lebih dari 40 tahun, dan mempertanyakan alasan kemarahan Tel Aviv terhadap pernyataan Macron.
“Kami tidak mengerti mengapa Tel Aviv marah atas posisi Presiden yang konsisten. Kami justru terkejut dengan kontroversi yang mereka ciptakan atas pengakuan negara Palestina,” ujarnya.
Ironisnya, Prancis selama ini dikenal sebagai salah satu pemasok senjata dan pendukung politik utama Israel, bahkan saat rezim tersebut melancarkan serangan brutal terhadap Jalur Gaza. Namun, sedikit pernyataan lisan dari Macron mengenai pengakuan Palestina langsung memicu respons diplomatik dari Tel Aviv.
Israel Panggil Diplomat Prancis, Macron Tetap Pada Sikap
Sebagai tanggapan atas komentar Macron, pihak Israel memanggil wakil duta besar Prancis untuk Wilayah Palestina yang Diduduki pada Minggu. Tindakan ini dinilai sebagai reaksi berlebihan atas pernyataan yang sejatinya bersifat simbolik dan belum disertai langkah konkret.
Macron sebelumnya menyampaikan keprihatinan atas kondisi kemanusiaan yang “mengerikan dan tidak dapat diterima” di Gaza, setelah berdiskusi dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi.
Dalam pernyataannya, Macron mengatakan, “Kita tidak bisa menerima kelaparan anak-anak di Gaza. Saya berkomitmen untuk mengakui negara Palestina di Majelis Umum PBB pada bulan September mendatang.”
Diplomasi Kosong atau Pergeseran Nyata?
Meski dinilai sebagian kalangan sebagai retorika tanpa kekuatan dorong nyata, pernyataan Prancis cukup menggoyahkan narasi Zionis bahwa Barat sepenuhnya berada di barisan mereka. Reaksi keras Israel menunjukkan bahwa bahkan dukungan setengah hati terhadap Palestina pun dianggap sebagai ancaman terhadap hegemoni diplomatik Tel Aviv.
