Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Trump Bela Netanyahu: Anak-Anak Gaza Mati Kelaparan, Hamas Disalahkan

POROS PERLAWANAN – Dalam pernyataan terbaru yang sarat ironi dan kontradiksi, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump membela Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu atas krisis kemanusiaan yang semakin parah di Jalur Gaza. Tanpa menyebut blokade brutal Israel sebagai penyebab utama kelaparan massal, Trump justru menggambarkan Netanyahu sebagai sosok yang “berusaha memastikan distribusi makanan berjalan lancar”.

Dilansir Tasnim News Agency pada Rabu 30 Juli, dalam percakapan informal bersama wartawan di pesawat kepresidenan AS, Trump mengeklaim bahwa Israel sedang mencegah Hamas mengakses bantuan dan dana internasional. Narasi yang telah berulang kali dibantah oleh berbagai lembaga kemanusiaan, termasuk PBB dan WHO.

“Saya berbicara dengan Netanyahu dua hari lalu tentang pusat distribusi makanan di Gaza. Ia ingin memastikan distribusi makanan dilakukan dengan benar dan tidak jatuh ke tangan Hamas,” ujar Trump.

Lebih lanjut, ia menyatakan, “Anak-anak di Gaza kelaparan dan mereka perlu diberi makan,” seraya menekankan pentingnya kontrol ketat atas distribusi bantuan. Namun, Trump tidak menjelaskan secara konkret seperti apa mekanisme pusat distribusi tersebut, terutama ketika mekanisme distribusi bantuan yang saat ini dikelola oleh Israel dan AS justru terbukti menjadi tragedi berdarah.

“Jebakan Maut” Bernama Bantuan

Fakta di lapangan menunjukkan kebalikan dari klaim Trump. Dalam beberapa pekan terakhir, tentara Israel dan pasukan pendukung AS menembaki warga Gaza yang mengantre makanan, menyebabkan 1.179 orang gugur dan lebih dari 7.957 lainnya luka-luka. Insiden ini terjadi di pusat-pusat distribusi yang diklaim sebagai “koridor kemanusiaan”.

Perserikatan Bangsa-Bangsa bahkan menyebut empat dari pusat distribusi itu sebagai “jebakan maut”, karena menjadi lokasi pembantaian massal warga sipil yang kelaparan dan tak bersenjata. Bantuan yang seharusnya menjadi penyelamat berubah menjadi pemicu kematian, sebuah bukti nyata bahwa retorika kemanusiaan hanya menjadi kedok untuk kejahatan sistematis.

Dukung Netanyahu, Tolak Palestina

Trump juga menyatakan bahwa ia belum berbicara dengan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer mengenai keputusan London untuk mengakui negara Palestina pada September mendatang, jika Israel tidak memenuhi syarat-syarat tertentu, termasuk menerima gencatan senjata.

“Kami tidak pernah mengangkat isu ini dan Amerika Serikat tidak setuju dengan hal tersebut,” tegas Trump, mengindikasikan penolakan penuh terhadap pengakuan Palestina sebagai negara merdeka.

Pernyataan ini kembali menegaskan konsistensi posisi Washington dalam mendukung dominasi penuh Israel di Kawasan, bahkan ketika narasi kemanusiaan dijadikan tameng diplomatik. Trump, seperti para pendahulunya maupun penerusnya, tidak berdiri di luar sistem; ia justru mengungkap dengan jujur wajah asli sistem itu, tanpa balutan sopan santun diplomasi.

Bahasa Empati, Tapi Peluru yang Bicara

Di balik klaim tentang “makanan untuk anak-anak Gaza”, terhampar kenyataan bahwa peluru, drone, dan bom tetap menjadi bahasa utama yang dipilih Amerika dan Israel. Begitupun ketika Trump berbicara tentang distribusi bantuan, dunia menyaksikan bahwa satu-satunya hal yang benar-benar “didistribusikan” secara teratur adalah penderitaan, kehancuran, dan kematian.

Retorika semacam ini bukan hanya kosong, bahkan menyesatkan, membingkai penjajahan sebagai perlindungan, dan menyulap pembantaian menjadi “manajemen kemanusiaan”.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *