Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat Lebanon

Sekjen Hizbullah: Kami Tidak Akan Menyerah dan Tidak Akan Menyerahkan Senjata Perlawanan

POROS PERLAWANAN – Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassim, menegaskan bahwa Hizbullah tidak akan menyerahkan senjatanya dan tidak akan tunduk pada tekanan apa pun yang bertujuan melucuti kekuatan perlawanan. Ia menyampaikan hal ini dalam pidatonya pada peringatan satu tahun syahidnya Fouad Shukr, komandan senior Hizbullah dan salah satu arsitek awal struktur militer perlawanan di Lebanon.

“Siapa pun yang hari ini menuntut penyerahan senjata Hizbullah, sesungguhnya menuntut agar senjata itu diserahkan langsung kepada Israel. Tidak ada seorang pun yang boleh berbicara tentang perdamaian dengan narasi penyerahan diri,” ujar Sheikh Qassem di hadapan para hadirin di Beirut menurut al-Manar pada Rabu malam (30/7).

Mengenang Komandan Fouad Shukr

Dalam pidatonya, Sheikh Qassim memaparkan peran strategis mendiang Fouad Shukr yang sejak sebelum invasi Israel ke Lebanon tahun 1982 telah memimpin kelompok kecil bernama Kelompok Kovenan cikal bakal struktur awal militer Hizbullah.

Sheikh Qassim menjelaskan bahwa Shukr merupakan:

1. Komandan pertempuran Kufra dan Yatir pasca syahidnya Sayyid Abbas al-Moussawi (Sekjen Hizbullah sebelumnya).

2. Pemimpin kontingen Hizbullah yang dikirim ke Bosnia selama konflik Balkan.

3. Pendiri dan kepala unit Angkatan Laut Hizbullah.

Tokoh kunci dalam koordinasi operasional dengan Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah hingga saat syahidnya.

“Fouad Shukr bukan hanya militer. Ia adalah pemikir strategis dan penggerak rakyat, serta sahabat Imam Khomeini dan pengikut setia Imam Khamenei,” ungkap Qassem.

Gaza: Genosida yang Dilegalkan Dunia

Sheikh Qassim secara tegas menuding Israel dan Amerika Serikat sebagai pelaku utama kejahatan sistematis terhadap warga sipil di Gaza.

“Apa yang terjadi di Gaza adalah kejahatan terorganisir dan berkelanjutan, didukung penuh oleh Amerika. Dunia menyaksikan genosida ini dan tetap bungkam. Tidak ada preseden kejahatan semasif ini dalam sejarah kontemporer,” katanya.

Ia menyampaikan penghormatan kepada tokoh perlawanan Palestina, termasuk Ismail Haniyeh, dan memuji keteguhan George Abdullah, tahanan politik Lebanon yang ditahan di Prancis selama lebih dari 40 tahun tanpa bersedia mencabut keyakinannya.

Senjata Perlawanan: Pilar Pertahanan Nasional

Sheikh Qassim menegaskan bahwa senjata Hizbullah adalah bagian dari arsitektur pertahanan nasional Lebanon dan bukan alat separatis.

“Senjata ini milik rakyat Lebanon dan terkait erat dengan tugas mempertahankan kedaulatan nasional. Mereka yang mengaitkan gencatan senjata di selatan Lebanon dengan pelucutan senjata perlawanan sedang menjalankan agenda eksternal,” tegasnya.

Ia menyatakan bahwa formula “Tentara, Rakyat danPerlawanan” bukan sekadar simbol, melainkan realitas fungsional yang telah mencegah agresi total Israel selama dua dekade terakhir.

Ancaman Strategis dan Proyek Hegemonik Asing

Sheikh Qassim memperingatkan bahwa Lebanon saat ini sedang menghadapi ancaman eksistensial dari tiga arah: Israel, ISIS, dan proyek hegemoni AS di bawah payung “Timur Tengah Baru.”

“Kami tidak akan membiarkan Lebanon dijadikan bagian dari entitas Zionis. Bahkan jika seluruh dunia bersepakat untuk menundukkan kami, kami tidak akan menyerah. Siapa pun yang mencoba mencabut senjata perlawanan, baik dari dalam negeri, regional, atau internasional, sedang melayani proyek Israel.”

Ia juga menegaskan bahwa meskipun ada perjanjian gencatan senjata terbatas di selatan Sungai Litani, itu tidak berarti berakhirnya perlawanan.

“Perjanjian itu tidak menciptakan jaminan keamanan bagi Lebanon. Lihatlah apa yang terjadi di Suriah: agresi membentuk ulang batas, pemerintahan, dan masa depan sebuah bangsa. Kami tidak akan membiarkan itu terjadi di Lebanon.”

Kepada Pemerintah: Hentikan Agresi, Bangun Kembali

Sheikh Qassim menyerukan kepada negara untuk bertindak tegas dalam dua hal utama:

1. Menghentikan agresi Israel dengan segala cara yang tersedia.

2. Memulai proses rekonstruksi, bahkan jika harus menggunakan dana cadangan nasional.

Ia menutup pidatonya dengan peringatan bahwa perlawanan siap berdialog dengan siapa pun, setelah Israel menghentikan agresinya, mundur dari wilayah pendudukan, dan membebaskan para tawanan.

“Kami terbuka untuk membahas masa depan senjata ini sebagai bagian dari strategi pertahanan nasional, tetapi kami tidak akan pernah menyerahkannya kepada Israel. Jika seluruh dunia bersatu dan semua dari kami gugur, Israel tetap tidak akan mampu menguasai Lebanon.”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *