Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Sekjen Hizbullah: Jika Israel Serang Lebanon, Sistem Keamanan yang Dibangunnya Selama 8 Bulan Bakal Runtuh dalam Tempo Satu Jam

Sekjen Hizbullah: Jika Israel Serang Lebanon, Sistem Keamanan yang Dibangunnya Selama 8 Bulan Bakal Runtuh dalam Tempo Satu Jam

POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, Syekh Naim Qasim menegaskan bahwa Hizbullah telah sepenuhnya mematuhi ketentuan perjanjian gencatan senjata di Lebanon. Ia menekankan bahwa “tidak ada pelanggaran yang tercatat dari pihak kami” terhadap musuh atau dalam hal kerja sama dengan negara Lebanon.” Ia menambahkan bahwa “Israel adalah pihak yang melanggar perjanjian ribuan kali.”

“Israel menyesali penandatanganan perjanjian setelah jelas bahwa kesepakatan tersebut memungkinkan Hizbullah mempertahankan kekuatan militernya di Lebanon. Itulah mengapa Israel tidak mematuhi perjanjian tersebut,” kata Syekh Qasim dalam peringatan 40 hari syahidnya Brigjen Mohammad Saeed Izadi (Hajj Ramadan), Selasa malam 5 Agustus.

“Apa yang terjadi di Suriah sangat memengaruhi langkah-langkah yang diambil oleh Israel, sehingga Israel menyesali telah menyusun perjanjian tersebut.”

Sekjen Hizbullah menekankan bahwa Amerika Serikat membawa tuntutan yang dirancang untuk melemahkan Lebanon, Gerakan Perlawanan, dan rakyat Lebanon secara keseluruhan, karena tuntutan tersebut hanya menguntungkan kepentingan Israel.

Dia juga membahas isi memorandum ketiga Utusan AS Tom Barrack, yang dia gambarkan sebagai “lebih buruk” daripada dua versi sebelumnya. Syekh Naim Qasim menyoroti bahwa salah satu tuntutan utamanya mengharuskan Hizbullah untuk membongkar setengah dari infrastruktur militernya dalam waktu sebulan. Sementara perjanjian tersebut hanya mengharuskan Israel untuk menarik diri dari tiga lokasi strategis dari lima lokasi yang saat ini didudukinya.

“Inti dari memorandum Amerika Serikat pada dasarnya adalah Israel memiliki kebebasan penuh versus semua tuntutan yang diajukan kepada Lebanon. Washington ingin menghapus kemampuan militer Lebanon yang diwakili oleh Perlawanan dan mencegah Militer Lebanon memperoleh senjata yang dapat merugikan Israel.”

Dia juga menyatakan bahwa Amerika Serikat, bersama beberapa negara Arab, telah menguras Lebanon dengan slogan “lakukan apa pun yang diperlukan dan kami akan memberikan apa yang Anda inginkan.” Ia menandaskan, mematuhi Amerika Serikat dan menyerahkan senjata Hizbullah tidak akan menghentikan agresi Israel, yang diakui secara terbuka oleh pejabat Israel sendiri.

Syekh Qasim kembali menegaskan penolakan Hizbullah terhadap perjanjian baru apa pun, dengan menyatakan bahwa kelompok tersebut menentang perjanjian baru dan justru bersikeras untuk menegakkan perjanjian yang telah disepakati dan ditandatangani. Ia menekankan bahwa mereka tidak akan pernah menerima jadwal implementasi apa pun yang diusulkan di saat Israel masih terus melakukan agresi.

Sebelum ini, seorang petinggi Hizbullah memperingatkan agar tidak menyerah pada tekanan eksternal untuk melucuti senjata sebagai imbalan atas dana negara. Ia mempertanyakan nilai dukungan finansial tersebut jika hal itu akan menjadikan Lebanon sebagai negara boneka. Ia juga mempertanyakan apakah menyerahkan senjata atas permintaan Israel, Amerika Serikat, dan beberapa negara Arab, benar-benar dapat dianggap sebagai upaya menjaga kedaulatan.

Syekh Naim Qasim menekankan bahwa sebaiknya Israel tidak memaksa Lebanon untuk berperang besar-besarn. Karena jika itu terjadi, “Perlawanan, Militer, dan rakyat akan mempertahankan [Lebanon], rudal akan menghujani entitas Israel, dan semua sistem keamanan yang dibangunnya selama delapan bulan akan runtuh dalam satu jam.”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *