Inilah Lima Negara Muslim yang Jadi Mitra Ekonomi Pelaku Pembunuhan Warga Gaza
POROS PERLAWANAN – Selama lebih dari 21 bulan genosida brutal di Gaza berlangsung, dan serangan militer gegabah di Yaman, Lebanon, Suriah, hingga invasi langsung ke wilayah Iran mengoyak stabilitas Asia Barat, beberapa pemerintahan negara Muslim tetap memilih untuk melanjutkan dan bahkan memperluas hubungan dagang dengan rezim Zionis yang melakukan kejahatan kemanusiaan ini.
Menurut data Watchdog for Economic Composition (OEC) dan laporan Kantor Berita Mehr pada Senin 11 Agustus, lima negara Muslim berada di puncak daftar negara dengan volume perdagangan terbesar dengan Israel:
1. Turki
Dengan volume perdagangan mencapai sekitar $6,6 miliar pada 2023, Turki menempati posisi teratas. Meski ekspor Turki ke Israel sangat dominan ($5,3 miliar), angka ini mengalami penurunan pada 2024 akibat retorika politik dan kebijakan Erdogan yang mendorong penangguhan perdagangan penuh. Namun, total perdagangan tetap di kisaran $2,6 miliar, dilakukan melalui negara ketiga atau jalur ke Palestina.
2. Uni Emirat Arab (UEA)
UEA menduduki posisi kedua dengan perdagangan senilai $1,97 miliar pada 2023. Uniknya, saat genosida Israel di Gaza dimulai, volume perdagangan UEA dengan Israel malah meningkat 11%. UEA juga menjadi aktor kunci dalam skema AS untuk mengelola masa depan Gaza, menandai peran strategis dalam geopolitik regional.
3. Mesir
Mesir berada di urutan ketiga dengan total perdagangan sekitar $1,9 miliar pada 2023. Sebagian besar adalah impor Mesir dari Israel ($1,7 miliar), sementara ekspor Mesir ke Israel kecil, namun meningkat dua kali lipat pada tahun berikutnya.
4. Republik Azerbaijan
Sebagai salah satu sekutu ekonomi dan militer Israel terpenting, Azerbaijan melakukan perdagangan senilai $1,55 miliar pada 2023, didominasi ekspor minyak mentah ke Israel (lebih dari 98% dari total ekspor senilai $1,4 miliar). Minyak ini menjadi sumber energi vital untuk pesawat tempur Israel yang membombardir Gaza dan wilayah lain.
5. Malaysia
Menjadi negara yang tidak mengakui Israel secara resmi dan secara hukum melarang normalisasi hubungan, Malaysia mengejutkan dengan volume perdagangan sekitar $377 juta pada 2023, meningkat menjadi $458 juta pada tahun berikutnya. Sebagian besar merupakan ekspor Malaysia ke Israel, sebuah fakta yang memicu keprihatinan dan perdebatan tajam.
Saling Ketergantungan Berdarah dan Memalukan
Fenomena peningkatan dan keberlanjutan hubungan dagang ini, di tengah pembantaian anak-anak dan warga sipil Gaza, serta serangan terhadap pejuang Perlawanan di Yaman, Lebanon, dan Suriah, merupakan aib yang tak bisa dibungkam.
Beberapa pemerintahan negara Muslim tampaknya mengutamakan kepentingan ekonomi jangka pendek dan strategi geopolitik berisiko, mengabaikan solidaritas umat dan penderitaan saudara mereka.
Lebih dari sekadar transaksi ekonomi, hubungan ini secara tidak langsung mendukung mesin perang rezim Zionis, mulai dari suplai bahan bakar jet tempur hingga alat perang mutakhir yang terus membunuh warga sipil tak berdosa dan menghancurkan wilayah-wilayah Muslim.
Pilihan Moral di Tengah Krisis Kemanusiaan
Keterlibatan lima negara ini dalam perdagangan dengan Israel, yang dilakukan di tengah genosida Gaza dan agresi berkepanjangan, adalah panggilan keras bagi umat Muslim dan komunitas internasional untuk menilai kembali prioritas dan nilai-nilai mereka.
Dukungan ekonomi apapun kepada rezim yang membunuh warga sipil harus dilihat sebagai bentuk complicity (pembiaran dan keterlibatan) terhadap kejahatan perang dan pelanggaran HAM.
Solidaritas sesama bangsa Muslim harus melampaui retorika dan menjadi aksi nyata, menuntut penghentian total semua hubungan yang menopang kekejaman, serta mendukung perjuangan rakyat yang tertindas untuk kebebasan dan keadilan.
