Arbain: Model Baru Perlawanan dan Infrastruktur Strategis Peradaban Islam
POROS PERLAWANAN — Dalam kerangka geopolitik kontemporer, perlawanan bukan hanya dimaknai sebagai aksi militer, melainkan sebagai strategi peradaban. Misi besar ini berorientasi pada lahirnya peradaban baru Islam yang berakar pada tauhid, keadilan, dan martabat manusia.
Sejarah umat manusia menunjukkan bahwa setiap upaya menuju cita-cita Ilahi selalu berhadapan dengan kekuatan tiran. Kapitalisme liberal yang kini mendominasi dunia merupakan kelanjutan dari proyek panjang penaklukan: mulai dari kolonialisme Eropa, perdagangan budak Afrika, hingga perang dagang global. Peradaban baru Islam berdiri sebagai antitesis struktural dari model ini, sebuah perlawanan fundamental terhadap sistem hegemonik yang eksploitatif.
Proyek Zionisme: Israel sebagai Garnisun Peradaban Barat
Pendirian “Israel Raya” adalah proyek strategis Zionisme global yang sejak awal dirancang untuk menjadi garnisun peradaban Barat di jantung dunia Islam. Roger Garaudy menegaskan bahwa Zionisme bertujuan memindahkan seluruh orang Yahudi ke Palestina guna mendirikan negara eksklusif Yahudi (The Trial of Israeli Zionism). Imam Khomeini lebih jauh menyatakan bahwa Israel merupakan instrumen untuk mendominasi dan menjajah dunia Islam (Sahifa Imam).
Dengan dukungan penuh Amerika Serikat dan Barat liberal, Zionisme berusaha menciptakan ketegangan permanen di Asia Barat, sebuah kawasan yang justru menyimpan peradaban monoteistik besar dengan visi anti-penindasan. Maka konfrontasi dengan Israel bukan hanya isu teritorial, melainkan konfrontasi peradaban.
Revolusi Islam sebagai Titik Balik Global
Sejak awal, Revolusi Islam Iran berdiri dalam oposisi terhadap demokrasi liberal Barat. Dengan mengutamakan persatuan umat sebagai strategi, Revolusi ini berhasil membangkitkan kesadaran identitas kolektif Muslim dalam setengah abad terakhir.
Perkembangan terbaru memperlihatkan transformasi dimensi global perlawanan. Penetrasi rudal presisi Iran ke jantung Tel Aviv dan Haifa adalah pesan simbolis bahwa pusat peradaban Barat tidak lagi kebal. Netanyahu bahkan mengakui: kekalahan Israel berarti kekalahan peradaban Barat. Dengan demikian, pertempuran di Al-Aqsa dan Gaza bukan konflik regional, melainkan pertarungan garis depan antara dua peradaban.
Asyura sebagai Basis Epistemologis Perlawanan
Peristiwa Asyura tidak bisa dipandang hanya pertempuran fisik, melainkan gerakan epistemologis dan kultural yang mendefinisikan garis antara kebenaran dan kebatilan. Pernyataan Imam Husein yang mengatakan, “Orang seperti aku, tidak akan berbaiat kepada orang seperti Yazid” adalah prinsip abadi yang menafikan kompromi dengan tirani.
Dalam kerangka ini, Arbain bukan hanya ritual ziarah, melainkan artikulasi politik dan kultural yang menentukan posisi umat dalam pertarungan peradaban: bersama kebenaran atau bersama kebatilan. Arbain menjadi medium rekonstruksi identitas kolektif Syiah dan umat Islam, yang berakar pada loyalitas kepada Imam dan penolakan terhadap kekuatan zalim.
Arbain sebagai Infrastruktur Strategis Peradaban
Pawai Arbain, dengan jutaan peziarah dari lintas negara, adalah fenomena geopolitik yang membentuk jaringan solidaritas transnasional. Pawai ini berpotensi menjadi model pemerintahan kerakyatan dalam bidang ekonomi, sosial, keamanan, dan politik. Arbain adalah “parlemen rakyat Islam” di jalan raya Karbala, di mana umat mengibarkan panji Huseini sebagai simbol kebangkitan melawan hegemoni global.
Lebih dari ritual, Arbain adalah infrastruktur strategis: menjadi media kolektif yang menyuarakan pesan perlawanan, sarana diplomasi kultural umat Islam, serta ruang mobilisasi massa melawan tirani neoliberalisme, Zionisme, dan hegemoni Barat.
Teologi Perlawanan dan Dinamika Strategi
Perlawanan Islam didasarkan pada teologi tauhid, Imamah, keadilan, dan penantian Imam Mahdi. Dari sini lahir berbagai strategi: taqiyyah sebagai proteksi, kelonggaran heroik sebagai manuver, hingga konfrontasi lapangan sebagai puncak. Bentuknya fleksibel sesuai konteks, namun substansinya permanen: konfrontasi dengan tirani tidak pernah berhenti, hanya bertransformasi.
Arbain sebagai Manifestasi Kemenangan Peradaban
Arbain adalah model perlawanan peradaban yang tak tertandingi. Arbain membentuk jaringan spiritual, politik, dan sosial yang menjanjikan kebangkitan Islam. Sebagaimana ditegaskan Amirul Mukminin dalam Nahjul Balaghah Khotbah 56: “Ketika Allah melihat bahwa kami benar, Dia menurunkan bencana kepada musuh-musuh kami, dan Dia menurunkan kemenangan kepada kami.”
Dengan demikian, Arbain adalah manifestasi janji Ilahi: kemenangan bagi mereka yang jujur, teguh, dan berani dalam menghadapi penindasan. Arbain adalah simbol perlawanan global, penghubung identitas umat, dan fondasi peradaban baru Islam yang menantang dominasi Barat–Zionis.
