Mantan Presiden Rusia Kirim ‘2 Berita Buruk’ kepada para Pimpinan Eropa
POROS PERLAWANAN – Melalui akun di medsos X, Wakil Ketua Dewan Keamanan Nasional Rusia, Dmitry Medvedev menanggapi spekulasi soal kematian Presiden AS yang tidak muncul di hadapan publik selama beberapa hari terakhir.
Diberitakan Fars, Medvedev mencuit bahwa dia memiliki “2 berita buruk” untuk Kanselir Agung Jerman, Friedrich Merz dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Berita pertama adalah “Donald Trump masih hidup” dan berita kedua adalah “Rusia tengah merangsek maju (di medan perang Ukraina).”
“Mungkin segalanya akan berakhir seperti tahun 1945 (berakhirnya Perang Dunia II dan kekalahan Nazi). Mungkin kalian akan dikenali dari gigi-gigi kalian,” cuit mantan Presiden Rusia itu kepada Merz dan Macron.
Medvedev menyindir Merz dan Macron sebagai “kembar tidak identik” dan “keajaiban langka.” Menanggapi sikap mereka berdua dalam perang Ukraina, Medvedev berkata bahwa salah satu dari mereka berdua “bernafsu untuk membalas dendam”, sementara lainnya seperti “ayam jantan (lambang nasional Prancis) yang ketakutan terhadap pemburu di balik pintu (hanya berpura-pura berani).” Dia juga menyebut mereka “memeras Trump” dengan mengangkat isu Putin.
“Mereka berdua benar-benar telah melupakan pelajaran dari Perang Dunia II,” imbuh Medvedev.
Sebelum ini, Jubir Kemenlu Rusia, Maria Zakharova menanggapi pedas pernyataan Kanselir Agung Jerman soal Moskow dengan berkata bahwa Merz seharusnya “merujuk kepada psikiater.”
Merz mengeklaim bahwa Moskow “melakukan intervensi luas” dalam demokrasi Jerman dan “melancarkan serangan kepada keamanan teknologi informasi Jerman.” Statemen ini dilontarkan Merz dalam menjustifikasi pembentukan Dewan Keamanan Nasional dan penambahan jumlah personel militer Jerman.
Zakharova merespons Merz dengan mengungkit dukungan luas Berlin untuk Kiev. Dia berkata bahwa setelah AS, Jerman adalah pendukung terbesar kedua Ukraina.
“Saya rasa, masalah ini harus dikaji oleh seorang psikiater. Selama 3 tahun, Jerman memfasilitasi rezim neo-Nazi di Kiev dengan senjata, termasuk perangkat militer berat. Dan sekarang tiba-tiba Jerman mencemaskan media-media sosial,” kata Zakharova.
