Pelucutan Senjata Hizbullah: Proyek Gagal yang Menguatkan Perlawanan Lebanon
POROS PERLAWANAN — Di jantung Timur Tengah, Lebanon kembali menjadi ajang tarik-menarik kekuatan global. Hizbullah, yang dulu digempur habis-habisan, kini justru bangkit dengan posisi lebih kokoh. Apa yang semula dianggap titik lemah, berubah menjadi kartu penentu dalam persamaan geopolitik Kawasan.
Dalam hitungan bulan, Hizbullah di Lebanon bergerak dari kondisi di bawah tekanan maksimum menuju tekanan moderat. Pergeseran ini sendiri sudah cukup menjadi bukti kuatnya posisi politik dan militer organisasi tersebut.
Kalkulasi Lawan yang Gagal
Arab Saudi, Israel, Amerika Serikat, dan Prancis sebelumnya gencar mendorong narasi bahwa Hizbullah harus melucuti senjata. Bagi mereka, langkah ini merupakan kunci untuk menyingkirkan Lebanon dari peta pengaruh regional sekaligus melemahkan komunitas Syiah.
Namun, strategi itu mengabaikan kenyataan mendasar: legitimasi politik Lebanon bergantung pada keberadaan seluruh klan utama. Menghapus Hizbullah berarti mempertaruhkan runtuhnya sistem politik Lebanon itu sendiri.
Dua bulan terakhir memperlihatkan kegagalan kalkulasi pihak lawan. Alih-alih berhasil menekan, mereka kini harus berhadapan dengan kenyataan bahwa tujuan pelucutan senjata hampir mustahil dicapai. Pernyataan Tom Barrack—yang menegaskan Israel akan menentukan sendiri apa yang bisa disepakati dan apa yang tidak—justru memperlihatkan frustrasi mendalam. Israel paham, apa yang gagal diraih lewat diplomasi tidak mungkin dipaksakan lewat serangan militer.
Senjata sebagai Penyeimbang
Tekanan militer malah memperkuat posisi Hizbullah. Semakin jauh wacana pelucutan senjata didorong, semakin jelas pula kerumitan dan resistensi yang dihadapinya. Rencana Militer Lebanon untuk menyerahkan proposal pada akhir September berubah arah: bukan jadwal pelucutan, melainkan daftar syarat, termasuk penarikan Israel dari tujuh titik pendudukan di selatan. Pesan diplomatiknya jelas: selama ancaman Israel berlanjut, pelucutan senjata Hizbullah bukan saja tidak realistis, tetapi juga berbahaya.
Bagi Militer Lebanon, senjata Hizbullah ibarat pedang Damokles yang menggantung di atas kepala Israel—faktor penentu keseimbangan keamanan relatif sejak perang 2006. Selama 17 tahun terakhir, stabilitas Lebanon lebih ditopang arsenal Hizbullah ketimbang kekuatan resmi negara. Bahkan, dibanding Suriah yang secara militer lebih kuat, Lebanon relatif lebih aman berkat keberadaan persenjataan Hizbullah.
Dukungan Internal dan Resistensi Sosial
Dengan narasi membela Tanah Air dari ancaman eksternal, Hizbullah mengamankan dukungan signifikan dari berbagai klan Lebanon. Opsi konflik internal, yang kerap diembuskan media regional, tampak tidak realistis. Meskipun Syiah memiliki keunggulan demografis, Hizbullah enggan memanfaatkan ketegangan sosial sebagai alat politik, karena hal itu hanya akan merugikan Lebanon secara keseluruhan.
Lebanon dalam Konstelasi Regional
Wacana “penolakan senjata” yang belakangan ramai sejatinya merupakan upaya mengeluarkan Lebanon dari konstelasi regional. Dalam tiga dekade terakhir, pengaruh Lebanon di Timur Tengah melampaui ukuran geografis maupun jumlah penduduknya. Dengan wilayah kecil dan populasi hanya 4,5 juta jiwa, Lebanon tampil sebagai kekuatan regional berkat Poros Perlawanan. Tak mengherankan bila negara ini dipandang “berbahaya” oleh blok Barat dan sekutunya. Karena itulah agenda pelucutan senjata terus diulang, meski berulang kali gagal.
Senjata dan Identitas Syiah
Lebih jauh, pelucutan senjata Hizbullah juga dipersepsikan komunitas Syiah sebagai pintu masuk untuk melemahkan Syiah secara global. Pengalaman Bahrain dan Azerbaijan menjadi contoh nyata: meski mayoritas penduduknya Syiah, absennya kekuatan bersenjata membuat mereka tersingkir dari peta politik domestik maupun regional. Dari perspektif ini, mempertahankan senjata Hizbullah berarti mempertahankan eksistensi Syiah di Kawasan.
Melampaui Sektarianisme
Namun, isu ini bukan semata persoalan sektarian. Revolusi Islam yang diilhami Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei sejak awal menolak pendekatan berbasis sekte. Fokus mereka adalah kebangkitan Islam melawan hegemoni global. Karena itu, konfrontasi terhadap Syiah di Lebanon sejatinya merupakan bagian dari konfrontasi terhadap kebangkitan Islam itu sendiri.
Persamaan Lebanon, Persamaan Regional
Hari ini, narasi tersebut terasa di berbagai komunitas: menyingkirkan Hizbullah berarti menyingkirkan Lebanon; mempertahankan Hizbullah berarti menjaga Lebanon dalam percaturan regional. Persoalan senjata Hizbullah, dengan demikian, tidak lagi sekadar isu internal Lebanon, melainkan representasi pertarungan geopolitik Timur Tengah yang lebih luas.
