Loading

Ketik untuk mencari

Berita Nasional Opini

Senjata Baru Sudah Datang, Masalah Rakyat? Silakan Antri di Belakang Granat

Sumber: Anadolu

POROS PERLAWANAN – Di tengah desah napas rakyat yang semakin berat menanggung beban pajak dan pungutan liar bak perampok berseragam, Pemerintah kita bukan main lagi menunjukkan kelasnya dalam hal menetapkan skala prioritas. Bukan main!

Badan Pusat Statistik (BPS), dengan data yang begitu rinci hingga bikin pengangguran malu, melaporkan pencapaian gemilang, bahwa impor senjata tercatat senilai Rp1,06 triliun dalam tujuh bulan pertama 2025. Sebuah angka yang mungkin hanya setara dengan uang saku rokok para Anggota Dewan yang hidupnya sudah disubsidi dari uang kita.

Sementara rakyat menjerit karena harga tempe dan BBM yang sulit dijangkau, negara justru asyik berbelanja di “supermarket” senjata global. Mari kita urai satu per satu “belanjaan bulanan” para pemimpin kita ini.

1. Senjata Militer (HS 93019000): Rp768,14 Miliar untuk… Apa?

Sebanyak 99.883 kg senjata militer yang bukan pistol atau revolver, mungkin agar terlihat lebih sophisticated dibeli dengan harga yang cukup untuk membangun ribuan kilometer jalan di pedalaman.

– UEA menyumbang 60.750 kg senilai Rp423,78 miliar. Mungkin karena setelah sukses membangun Dubai, mereka kini ahli dalam membangun ilusi pertahanan.

– AS menyuplai 12.651 kg senilai Rp189,91 miliar. Tidak salah lagi, ini pasti untuk melindungi kepentingan nasional… AS.

– Italia, negara mode dan pizza, tak ketinggalan menyetor 22.489 kg senjata senilai Rp120,70 miliar. Karena selain tampil gaya, tentara kita juga harus bellissimo saat membawa senjata.

2. Bom, Granat, dan Kawan-kawan (HS 93069010): Rp292,66 M untuk Ledakkan Masalah?

Sementara masalah bangsa ini cenderung diomongkan dan tidak pernah diledakkan, kita justru mengimpor alat peledaknya.

– Prancis menjadi supplier terbesar di kategori ini. Hanya dengan 2.910 kg, mereka meraup Rp207,62 miliar. Itu artinya, setiap gram granat Prancis harganya lebih mahal dari caviar. Karena yang namanya art de la guerre tentu saja premium.

– Republik Ceko mengirim 14.000 kg senjata seharga Rp41,33 miliar. Jumlah yang cukup untuk membuat para pengusaha UMKM yang kesulitan modal hanya bisa gigit jari.

– Korea Selatan tidak hanya ekspor K-Pop, tapi juga 6.604 kg amunisi perang senilai Rp27,39 miliar. Oppa memang punya style, termasuk style dalam urusan ekspor mesin pembunuh.

3. Amunisi Lainnya (HS 93069090): Rp5,88 Miliar untuk Peluru yang (Mungkin) Lebih Murah dari Beras

Di kategori ini, kita melihat “efisiensi”.

– AS lagi-lagi masuk, dengan 410 kg amunisi senilai Rp4,18 miliar. Sedikit tapi tajam, seperti komentar sarkas netizen.

– Korea Selatan mendominasi volume dengan 16.010 kg namun hanya dihargai Rp1,70 miliar. Murah meriah! Seperti diskon akhir tahun di e-commerce, tapi untuk barang yang membunuh.

– Puncak dari semua ini adalah Jepang. Mereka hanya menjual 2 kg—kira-kira seberat dua paket terigu—dengan nilai Rp1,197 juta. Ini bukan lagi soal nilai, tapi tentang komitmen. Atau mungkin cuma sampel gratis, “Silakan dicoba, kalau suka, pesan lagi”.

Kesimpulan?

Sebuah Negara yang Berbeda dengan Keinginan Rakyatnya

Jadi, totalnya 141.632 kg besi dan mesin pembunuh telah mendarat di Tanah Air. UEA menjadi pemasok terbesar, karena tampaknya kita lebih percaya pada negara yang baru serius berperang beberapa dekade terakhir daripada mengurus warganya sendiri yang sudah berperang melawan kemiskinan sejak merdeka.

Inilah wajah negeri kita, di saat rakyatnya diperas untuk membayar pajak jalan, pajak udara, dan pajak mimpi, uang hasil perasan itu dengan gagahnya diubah menjadi logam-logam mengilap dari mancanegara.

Kita mungkin tidak punya rumah sakit yang layak, tetapi kita punya granat dari Paris. Kita mungkin hanya punya guru yang digaji murah, tetapi kita punya rudal dari Arizona. Kita mungkin memiliki anggota DPR yang tunjangannya selangit dan tidak sensitif dengan keadaan, tetapi mereka akan sangat terlindungi oleh senjata-senjata seharga triliunan ini.

Kita semua berharap senjata-senjata ini benar-benar akan membuat kita tidur lebih nyenyak. Atau setidaknya, membuat para wakil rakyat yang sudah hidup dalam balutan subsidi dan tunjangan megah itu, merasa jauh lebih aman, setidaknya dari kita.

Sumber:

1. Indonesia Impor Senjata Sampai Rp1,06 Triliun, Terbanyak dari UEA
https://smartfm.sonora.id/read/584292449/indonesia-impor-senjata-sampai-rp106-triliun-terbanyak-dari-uea

2. Fact Sheet: The United States and Indonesia Reach Historic Trade Deal
https://www.whitehouse.gov/fact-sheets/2025/07/fact-sheet-the-united-states-and-indonesia-reach-historic-trade-deal/

Tags: