Iran Cabut Akreditasi 2 Inspektur IAEA yang Ketahuan Pindahkan Dokumen Sensitif Fasilitas Nuklir Fordow ke Wina
POROS PERLAWANAN — Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) dalam laporan triwulanan terbaru mengonfirmasi bahwa Iran mencabut akreditasi dua Inspektur Badan tersebut karena memindahkan dokumen sensitif dari fasilitas nuklir Fordow ke Wina.
Kantor Berita Tasnim melaporkan pada Kamis 4 September bahwa insiden ini terjadi saat dokumen yang seharusnya tetap berada di Fordow dibawa ke Wina oleh kedua Inspektur yang termasuk personel paling berpengalaman di IAEA. Badan tersebut menyebut tindakan Iran “tidak dapat dibenarkan” dan menegaskan insiden ini bukan pelanggaran kerahasiaan. Meski dokumen yang dipindahkan berisi deskripsi fasilitas nuklir, namun menurut IAEA, tidak mengandung informasi yang membahayakan keamanan fasilitas tersebut.
Kekhawatiran Iran dan Sejarah UNSCOM
Iran menekankan bahwa informasi sensitif yang diberikan kepada IAEA berpotensi digunakan untuk merencanakan serangan terhadap fasilitas nuklirnya. Kekhawatiran ini mengacu pada sejarah program pemantauan senjata PBB di Irak, yang dikenal sebagai UNSCOM. Program UNSCOM, yang dibentuk pada 1991 setelah Perang Teluk, bertugas memantau pelucutan senjata Irak, khususnya senjata kimia, biologi, dan rudal, serta memastikan penghancuran fasilitas persenjataan negara tersebut.
Dokumen-dokumen yang bocor kemudian menunjukkan bahwa data yang dikumpulkan inspektur UNSCOM, termasuk informasi sensitif tentang fasilitas militer dan infrastruktur Irak, telah diteruskan ke dinas intelijen AS dan Inggris. Informasi ini digunakan untuk merencanakan serangan udara AS dan Inggris terhadap Irak pada 1998 dalam Operasi Desert Fox. Serangan ini semula dilatarbelakangi oleh klaim kegagalan Irak bekerja sama, namun kemudian terungkap bahwa data inspeksi digunakan langsung untuk menentukan target militer.
Kerja Sama Agensi dengan Israel
Selain itu, dokumen yang dirilis sebelumnya mengungkapkan kerja sama erat Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, dengan pejabat Israel dalam upaya memantau program nuklir Iran. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa Grossi diduga menyesuaikan laporan Badan tersebut sesuai arahan Israel, yang menentang pengembangan nuklir Iran.
Pejabat Iran terus memperingatkan bahwa informasi sensitif yang diberikan kepada IAEA berisiko jatuh ke tangan pihak bermusuhan, termasuk AS dan Israel, yang dapat digunakan untuk merencanakan serangan terhadap infrastruktur nuklir Iran.
