Serangan Yaman Sasar Pusat Sensitif Israel, Termasuk Markas Besar Gabungan Angkatan Darat
POROS PERLAWANAN — Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Brigadir Jenderal Yahya Saree, pada Rabu 3 September mengumumkan operasi ganda yang melibatkan dua rudal balistik terhadap target-target sensitif di Wilayah Pendudukan Israel. Sebelumnya, pasukan Yaman juga melaksanakan operasi pesawat nirawak yang menargetkan markas gabungan tentara Israel serta sejumlah lokasi di Laut Merah.
Saree menyebutkan bahwa pesawat nirawak Yaman telah melakukan empat operasi militer. “Dalam salah satu operasi, pesawat nirawak Sammad 4 menargetkan markas gabungan tentara Israel di wilayah Yaffa yang Diduduki. Tiga operasi lainnya difokuskan pada target pertahanan di pangkalan Al-Khudeera, Bandara Ben Gurion di Yaffa, dan Pelabuhan Ashdod,” ujarnya.
Operasi gabungan pesawat nirawak dan rudal Yaman juga dilakukan untuk menegakkan larangan pergerakan maritim Israel di Laut Merah dan Teluk Arab, termasuk serangan terhadap kapal MSC ABY menggunakan dua pesawat nirawak dan satu rudal jelajah.
Sebelumnya, media Israel melaporkan peluncuran rudal balistik dari Yaman ke Wilayah yang Diduduki, yang diklaim berhasil dicegat. Beberapa jam kemudian, Saree menegaskan bahwa operasi militer ganda di Tel Aviv melibatkan dua rudal balistik, salah satunya rudal fragmentasi hulu ledak ganda Palestine 2.
“Operasi ini berhasil memaksa jutaan warga Zionis mengungsi ke tempat perlindungan, serta menghentikan sementara operasional bandara. Langkah ini merupakan respons awal terhadap agresi atas negara kami dan bertujuan membantu rakyat Palestina serta saudara-saudara kami di Jalur Gaza,” katanya.
Dampak Strategis terhadap NATO dan Militer Barat
Menurut situs web Amerika Warzone, Angkatan Laut AS telah memulai pengembangan rudal Angkatan Laut baru untuk menggantikan rudal ESSM. Pengembangan ini merupakan respons terhadap pengalaman konflik Laut Merah melawan pasukan Yaman. Situs tersebut menyoroti proyek kolaboratif antara AS dan 11 sekutu NATO, muncul setelah serangkaian operasi presisi Yaman terhadap kapal perusak dan kapal Barat di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab.
Para analis menekankan bahwa keberhasilan operasi Yaman menunjukkan bahwa rudal ESSM, meski dimodernisasi, gagal menghadapi ancaman kompleks berupa kombinasi drone canggih dan rudal multi-arah. NATO kini meninjau kembali doktrin Angkatan Lautnya, dengan fokus pada pengembangan sistem pertahanan yang fleksibel, berjangkauan jauh, dan mampu mengisi ulang amunisi saat beroperasi di laut.
Program rudal baru ini bertujuan menangkis rudal hipersonik dan drone bersenjata, sekaligus menutup celah yang ditinggalkan oleh operasi Yaman. Pergeseran strategis ini mencerminkan kekhawatiran Barat terhadap perkembangan militer cepat di zona konflik seperti Yaman serta potensi perubahan keseimbangan teknologi militer di masa depan.
Sementara itu, Israel menghadapi tantangan signifikan dari Perlawanan Yaman, yang membuat pendekatan defensif tradisional menjadi kurang efektif. Operasi canggih Yaman di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, yang memadukan rudal multi-arah, drone canggih, dan taktik asimetris, menandai tingkat ancaman baru yang menguji kemampuan pertahanan dan ofensif Israel.
