Tongkat Musa di Gaza akan Tenggelamkan Para Penjajah
POROS PERLAWANAN – Dalam setiap operasi perlawanan Palestina, sebuah nama bukan hanya tanda pengenal. Ini adalah simbol, doa, sekaligus janji. Perlawanan tidak pernah memilih nama secara asal. Kali ini, “Tongkat Musa” dipilih sebagai tajuk operasi yang diumumkan sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam. Nama itu hadir bukan sebagai kiasan kosong, melainkan sebuah deklarasi terbuka, bahwa di tengah api, reruntuhan, dan kepungan Gaza, masih ada keteguhan yang tak bisa dipatahkan.
Latar belakangnya jelas. Rezim Zionis dengan pongah meluncurkan operasi besar yang mereka sebut “Kereta Perang Gideon 2”, sebuah simbol arogansi kekuatan militer, seakan Gaza hanyalah tanah tak bertuan yang bisa ditaklukkan dengan mesin baja dan deru meriam. Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Hanya beberapa jam setelah pengumuman itu, di Al-Zaytoun dan Jabalia, pasukan penjajah disergap dalam bentrokan terukur, rapi, dan mematikan.
Seorang Komandan Al-Qassam dengan tenang menegaskan: “Apa yang dilihat musuh hanyalah setetes air dari lautan yang menanti mereka.” Kalimat singkat, tapi cukup untuk mengguncang keyakinan lawan.
Pemilihan nama “Tongkat Musa” sarat dengan sejarah dan spiritualitas. Musa adalah seorang Nabi yang mengguncang tirani Firaun bukan dengan bala tentara, melainkan dengan tongkat yang sederhana, lambang keberanian yang menantang kemustahilan. Demikian pula rakyat Palestina, mereka menghadapi raksasa bersenjata lengkap dengan tekad, terowongan, dan strategi yang lahir dari penderitaan panjang.
Pesan yang hendak ditegaskan jelas dan terang-benderang bahwa Gaza bukan hanya jalur sempit di peta, melainkan labirin Perlawanan. Setiap rumah, setiap jalan, setiap terowongan adalah jerat yang siap menelan siapa pun yang datang dengan niat menjajah.
“Kota ini memiliki lebih banyak terowongan daripada area yang diduduki pasukan Pendudukan,” ujar Mayor Jenderal Faez Al-Duwairy dari Yordania kepada Al Mayadeen pada Jumat 5 September. Artinya, Gaza bukanlah kota yang bisa direbut dengan mudah. Gaza adalah kuburan terbuka bagi pasukan asing dan penjajah.
Pergeseran Taktik
Perlawanan pun menunjukkan wajah barunya. Dari bentrokan terbuka, mereka beralih ke penyergapan cepat, operasi kecil, dan strategi hit-and-run yang mematikan. Jabalia, Khan Younis, Al-Zaytoun, semuanya sudah menjadi panggung di mana tentara Zionis dipaksa menelan pahitnya kehilangan.
Bagi Israel, ini bukan lagi tentang menancapkan bendera di Gaza. Ini tentang bertahan hidup dari rumah ke rumah, lorong ke lorong, di kota yang setiap sudutnya bisa berubah menjadi lorong kematian.
Namun pertempuran ini bukan semata pertempuran militer. Ada politik, ada narasi, ada psikologi. Sebagaimana “Kereta Perang Gideon 2” dimaksudkan untuk menebar ketakutan, “Tongkat Musa” dipakai Perlawanan untuk menyalakan keberanian. Analis politik, Adel Shadid menyebut pengumuman ini sebagai pukulan psikologis yang memicu kepanikan di kalangan Zionis, sekaligus menumbuhkan keraguan atas efektivitas invasi.
Di sini, pertarungan opini menjadi sama pentingnya dengan pertempuran senjata. Bagi entitas Israel sendiri, pertanyaan yang muncul semakin tajam, apakah Gaza pantas menjadi ladang kuburan bagi anak-anak mereka?
Sebuah Tongkat dan Mimpi Buruk
Operasi “Tongkat Musa” adalah pesan berlapis. Bahwa Perlawanan Palestina tidak hanya bertahan, tetapi juga merebut kendali narasi. Mereka melawan bukan dengan jumlah yang besar, melainkan dengan simbol, strategi, dan kesabaran yang diwariskan sejarah.
Zionis boleh datang dengan kereta perang, pesawat tempur, dan propaganda. Namun Gaza, dengan tongkat kecilnya, sedang menulis ulang bab besar perlawanan dunia, bahwa siapa pun yang menganggap tanah ini bisa ditaklukkan, pada akhirnya akan menemukan diri mereka terseret ke dalam mimpi buruk yang tak berkesudahan.
