Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Potret Israel Hari Ini: Dari ‘Tentara Tanpa Rasa Takut’ Menjadi ‘Tentara Tanpa Harapan’

Netanyahu Terpojok, Penyelidikan Tragedi 7 Oktober Picu Kontroversi di Israel

POROS PERLAWANAN – Ada satu hal yang mungkin tidak pernah masuk dalam buku panduan Militer Israel: bagaimana menghadapi musuh yang tak bisa ditembak dan dibom, yaitu pikiran sendiri. Ironisnya, jumlah tentara yang kalah melawan musuh internal ini justru meningkat 2,5 kali lipat hanya dalam setahun terakhir. Ya, 2,5 kali lipat. Sebuah statistik yang lebih dramatis daripada klaim kemenangan mereka di medan tempur.

Sebuah laporan yang dirilis Tasnimnews Agency, mengutip harian berbahasa Ibrani Ma’ariv edisi Selasa 9 September, menyingkap fakta getir: jumlah pencarian dan pertanyaan mengenai bunuh diri di Israel meningkat 2,5 kali lipat dibandingkan musim panas lalu. Namun jangan salah, mayoritas pencarian itu datang dari mereka yang paling diandalkan rezim, para tentara yang terjun langsung ke Gaza, menyaksikan kematian rekan, atau pulang dengan rasa bersalah karena perintah-perintah brutal yang dijalankan.

Laporan itu juga mencatat bahwa sejak perang Gaza dimulai, pusat layanan bantuan psikologis di Israel telah menerima lebih dari 100.000 panggilan darurat terkait masalah kesehatan mental. Satu angka yang lebih besar daripada jumlah panggilan darurat medis di banyak negara kecil. Di bulan Juli saja, mereka menanggapi 206 panggilan dari orang yang benar-benar mencoba bunuh diri. Bayangkan: satu bulan, ratusan tentara sudah berada di tepi jurang.

Fakta yang paling tragis sekaligus ironis: pada Mei lalu, saat Israel meluncurkan Operasi Gideon’s Chariots, yang seharusnya dipamerkan sebagai simbol supremasi militer, justru ada dua tentara Israel yang bunuh diri. Dalam bulan yang sama, panggilan terkait upaya bunuh diri melonjak dari 105 kasus pada April menjadi 131 kasus pada Mei. Artinya, di balik parade operasi militer, sebenarnya yang sedang meledak adalah bom di kepala tentara sendiri.

Seorang Psikolog Sosial, yang juga Direktur Layanan Bantuan Psikologis Israel, menuturkan kepada Ma’ariv (dikutip Tasnim): “Setelah sekitar dua tahun perang, kondisi psikologis masyarakat Zionis semakin memburuk dari hari ke hari. Tentara cadangan terus dipanggil, tawanan perang belum dibebaskan, dan masyarakat sepenuhnya terjebak dalam rutinitas perang dan lingkaran setannya. Dalam keadaan seperti itu, ketika seseorang yang hampir bunuh diri menghubungi kami, yang paling terasa adalah hilangnya harapan, mereka tidak lagi bisa membayangkan masa depan untuk melanjutkan hidup.”

Dengan kata lain: bahkan psikolognya pun sudah terdengar seperti pasien terapi.

Lebih jauh lagi, yang lebih memprihatinkan bagi Tel Aviv, fenomena ini bukan kasus per kasus, melainkan epidemi sosial. Para psikolog menyebutnya sebagai “epidemi bunuh diri” yang bersifat emosional. Begitu satu tentara memilih mengakhiri hidup, yang lain melihatnya sebagai “solusi praktis”. Sebuah “contagion” yang membuat kematian tak lagi hanya datang dari roket Perlawanan, tetapi juga dari pistol milik tentara sendiri yang diarahkan ke pelipis mereka.

Jika biasanya propaganda Militer Israel menonjolkan heroisme, kali ini yang lebih menonjol adalah angka-angka bunuh diri tentaranya sendiri. Angka yang tak bisa ditutup dengan sensor foto perang, tak bisa ditambal dengan konferensi pers jenderal berwajah tegang.

Di sinilah paradoks paling pahit terbuka: Israel boleh punya nuklir, tapi senjata pamungkas itu ternyata tak ada gunanya melawan kesunyian di kepala tentaranya sendiri. Mereka bisa menghancurkan gedung, tapi gagal membangun harapan. Mereka bisa menembus bunker Gaza, tapi tak mampu menembus kabut depresi yang menutup pikiran pasukan mereka sendiri.

Maka, tanpa sadar, Israel sedang menjalani perang yang tak pernah mereka persiapkan: perang melawan diri sendiri. Perang yang sejauh ini, sebagaimana ditulis Ma’ariv pada 9 September, mereka sudah kalah di front paling sunyi itu, atau dengan kalimat yang lebih telak: Israel bukan lagi negara dengan “tentara tanpa rasa takut”. Mereka kini hanyalah “negara” dengan “tentara tanpa harapan”.

Tags: