Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Perselisihan Strategi Perang Gaza Meluas hingga ke Markas Besar Tentara Israel

Perselisihan Strategi Perang Gaza Meluas hingga ke Markas Besar Tentara Israel

POROS PERLAWANAN – Ketegangan internal dalam tubuh militer Israel semakin menajam. Perselisihan antar cabang markas besar mengenai strategi perang di Kota Gaza kini menyeret para komandan senior ke dalam perdebatan terbuka.

Menurut Tasnim News Agency (Kamis, 11/9) yang mengutip media berbahasa Ibrani, konflik muncul terkait perlu tidaknya mengevakuasi penduduk Kota Gaza. Kepala Staf IDF, Jenderal Eyal Zamir, bersikeras melaksanakan evakuasi, sementara Jaksa Agung Militer, Hakim Yifat Tamer Yerushalmi, menentang keras langkah tersebut.

Harian Haaretz melaporkan pada Rabu malam bahwa Yerushalmi menolak rencana evakuasi sebelum ada jaminan tempat tinggal bagi sekitar satu juta warga sipil. Namun, Zamir tetap mengeluarkan perintah evakuasi, meski bertentangan dengan rekomendasi hukum militer.

Saluran TV Israel 7 juga menyoroti bahwa peringatan Jaksa Militer diabaikan. Zamir tetap memerintahkan pemindahan paksa penduduk Gaza ke wilayah selatan, sebuah keputusan yang dinilai melanggar arahan hukum militer.

Perbedaan pandangan terkait jalannya perang di Jalur Gaza bukanlah hal baru. Ketegangan serupa telah muncul sejak awal invasi hampir dua tahun lalu dan berlanjut hingga kini. Hanya saja, sebagian besar konflik internal biasanya tidak terekspos ke publik.

Menurut analis Israel, akar persoalan terletak pada ketiadaan strategi praktis untuk keluar dari “rawa Gaza.” Kebuntuan ini menimbulkan friksi di tingkat tertinggi, memperlihatkan bahwa Israel bukan hanya gagal menundukkan Gaza, tetapi juga kian terjebak dalam pertarungan internal yang melemahkan soliditas militernya.

Analisa

Perselisihan di tubuh militer Israel ini menunjukkan keretakan serius dalam jantung kekuatan negara tersebut. Perdebatan antara Kepala Staf dan Jaksa Agung Militer terkait evakuasi satu juta penduduk Gaza bukan semata perbedaan teknis, melainkan cerminan krisis strategis yang lebih dalam.

Fakta bahwa perintah militer dikeluarkan bertentangan dengan rekomendasi hukum internal memperlihatkan bahwa Israel sedang bergerak dengan strategi yang rapuh, terburu-buru, dan penuh kontradiksi. Perpecahan ini mengindikasikan bahwa militer Israel kesulitan menyusun visi jangka panjang yang realistis untuk Gaza.

Lebih jauh, konflik internal ini memperlihatkan bahwa Israel tidak hanya menghadapi perlawanan sengit di lapangan, tetapi juga krisis legitimasi di dalam institusi pertahanannya sendiri.

Dengan demikian, perselisihan ini adalah tanda bahwa perang Gaza telah berubah dari medan konflik eksternal menjadi arena krisis internal. Israel kini tidak hanya menghadapi tantangan untuk menaklukkan Gaza, tetapi juga tantangan untuk menjaga keutuhan barisan militernya sendiri, sebuah kondisi yang berpotensi lebih berbahaya daripada perlawanan di medan tempur.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *