Loading

Ketik untuk mencari

Eropa

Sanksi Pelabuhan dan Udara: Duel Erdogan dan Netanyahu Senilai $9,5 Miliar

Hamas Bantah Dukung Pertukaran Dubes Turki-Israel

POROS PERLAWANAN – Turki menempati peringkat teratas dalam daftar 10 negara dengan persepsi paling negatif terhadap Israel, menurut laporan terbaru Pew Research Center. Survei tersebut mengungkap bahwa 93 persen warga Turki memiliki pandangan tidak suka terhadap Israel.

Sejak meletusnya Perang Gaza pada Oktober 2023, Turki menjadi salah satu negara Muslim yang paling vokal mengecam agresi Israel. Presiden Recep Tayyip Erdogan secara konsisten mengeluarkan pernyataan keras terhadap Tel Aviv, meski hubungan politik dan ekonomi kedua negara semula cukup erat.

“Israel tidak akan berhenti di Gaza. Setelah menaklukkan Ramallah, mereka akan mengincar Suriah dan Lebanon,” kata Erdogan kala itu. Ia juga menegaskan bahwa, “Hamas tidak hanya melindungi Gaza, tetapi juga Turki. Negara-negara Islam harus membentuk aliansi melawan terorisme Israel”.

Awalnya berbentuk kecaman politik, sikap Turki terhadap Israel berkembang menjadi tekanan ekonomi sistematis. Pada Mei 2024, delapan bulan setelah perang dimulai, Ankara resmi mengumumkan sanksi ekonomi terhadap Israel, yang terus berlanjut dan semakin ketat hingga kini.

Eskalasi Hubungan Turki–Israel Sejak Oktober 2023

Ketegangan diplomatik antara Ankara dan Tel Aviv dapat dibagi dalam enam fase utama:

1. Pernyataan Politik dan Reaksi Awal (Oktober–November 2023)

Pada 7 Oktober 2023, Erdogan menyerukan pengekangan dari kedua pihak saat Operasi Badai Al-Aqsa dimulai. Namun, pada 11 Oktober, ia menyebut aksi Israel di Gaza sebagai “pembantaian” dan menawarkan mediasi.

Pernyataan kontroversial Erdogan pada 25 Oktober yang menyebut, “Hamas bukan organisasi teroris, melainkan kelompok pembebasan,” membuatnya membatalkan kunjungan kenegaraan ke Israel. Sebagai balasan, Israel mengevaluasi ulang hubungan politik dengan Turki pada 28 Oktober.

Pada November, Erdogan kembali melontarkan tudingan bahwa Israel adalah “negara teroris” yang melakukan “genosida”, dan berjanji akan mengambil langkah hukum untuk mengategorikan pemukim ilegal sebagai teroris. Turki juga menarik duta besarnya dari Tel Aviv dan mendukung gugatan internasional terhadap Israel.

2. Eskalasi Diplomatik dan Jalur Hukum (Desember 2023–Maret 2024)

Erdogan menyamakan tindakan Israel dengan kejahatan terhadap kemanusiaan. Pada Januari–April 2024, aparat Turki menangkap puluhan orang yang dituduh menjadi mata-mata Israel.

Pada Februari, Menlu Hakan Fidan menuduh Israel mengejar “ekspansi wilayah” alih-alih “keamanan”, dan mengajukan gugatan ke Mahkamah Pidana Internasional. Maret, Erdogan kembali menuduh Netanyahu melakukan genosida, yang dibalas Israel dengan memanggil pulang duta besarnya dari Ankara.

3. Sanksi Ekonomi dan Pertemuan dengan Hamas (April–Mei 2024)

Turki mulai menerapkan larangan ekspor terhadap lebih dari 1.000 produk ke Israel, termasuk bahan bangunan. Pada Mei, perdagangan bilateral dihentikan sepenuhnya, dengan nilai dagang tahun sebelumnya tercatat sebesar $9,5 miliar.

Erdogan juga menyebut bahwa lebih dari 1.000 anggota Hamas dirawat di rumah sakit Turki, meskipun kemudian diklarifikasi bahwa mereka berasal dari Gaza. Turki juga mendukung gugatan Afrika Selatan terhadap Israel di Mahkamah Internasional.

4. Ancaman Militer dan Pemutusan Hubungan (Juni–November 2024)

Juli 2024, Erdogan menyamakan Netanyahu dengan Hitler dan memperingatkan bahwa Turki bisa saja “memasuki wilayah Palestina yang Diduduki”. Parlemen Turki kemudian menyatakan Netanyahu sebagai penjahat perang.

November 2024, Turki memutuskan seluruh hubungan diplomatik dengan Israel, termasuk menolak izin terbang pesawat Presiden Israel, Isaac Herzog yang hendak melintasi wilayah udara Turki dalam perjalanan ke Azerbaijan.

5. Ketegangan Regional di Suriah (Desember 2024–Juni 2025)

Setelah kejatuhan rezim Bashar al-Assad, konfrontasi Turki-Israel merambah ke ranah militer di Suriah. Israel dilaporkan menyerang pangkalan Turki pada April 2025, yang dibalas dengan pelarangan penerbangan Netanyahu melintasi wilayah udara Turki.

Juni 2025, Erdogan menyebut bahwa konflik Israel-Iran sudah mendekati “titik tidak bisa kembali” dan berjanji meningkatkan produksi rudal nasional.

6. Perkembangan Terbaru (Juli–Agustus 2025)

Ketegangan terus berlanjut. Netanyahu mengakui genosida Armenia untuk pertama kalinya, yang dibalas Turki sebagai “kemunafikan politik”. Erdogan juga menutup sebagian besar rute dagang ke Israel.

Dampak Ekonomi: Turki Menutup Akses Pelabuhan dan Udara

Sanksi Turki mulai berdampak signifikan terhadap ekonomi domestik Israel. Sebelum embargo, Turki menyuplai sekitar 50 persen semen dan gipsum, serta 25 persen besi dan baja ke Wilayah Pendudukan. Total nilai impor dari Turki mencapai $5,5 miliar—sekitar 6,3 persen dari total impor Israel.

Produk utama ekspor Turki ke Israel termasuk:

1. Kendaraan dan suku cadang: $196 juta
2. Polimer plastik: $124 juta
3. Peralatan elektronik: $112 juta
4. Besi dan baja: $93 juta.

Sebaliknya, ekspor Israel ke Turki hanya sekitar $1,5 miliar, didominasi oleh bahan kimia dan produk teknologi tinggi. Neraca perdagangan pun menguntungkan Turki sekitar $4 miliar.

Setelah sanksi diperluas, Pemerintah Turki melarang kapal berbendera Israel berlabuh di pelabuhan nasional. Kapal-kapal Turki juga dilarang berlayar ke pelabuhan Israel. Sebuah kapal Israel bahkan ditolak masuk ke Pelabuhan Istanbul dan dialihkan ke Piraeus, Yunani.

Semua pelabuhan Turki kini mewajibkan deklarasi bahwa kapal tidak berhubungan dengan Israel dan tidak mengangkut kargo militer ke Wilayah Pendudukan. Akibatnya, pengiriman ke Yordania dan Otoritas Palestina via Pelabuhan Ashdod ikut terdampak.

Federasi Kamar Dagang Israel menyatakan bahwa situasi ini tengah ditinjau, namun para importir Israel telah merasakan dampaknya. Bahkan, produsen Turki dilaporkan menolak bekerja sama dengan perwakilan perusahaan Israel dalam pameran dagang internasional di Jerman.

Langit Turki Tertutup untuk Pesawat Israel

Menteri Luar Negeri Hakan Fidan baru-baru ini mengumumkan bahwa Turki menutup wilayah udaranya bagi pesawat Israel. Kebijakan ini memicu kekhawatiran di kalangan maskapai Tel Aviv karena banyak rute ke Eropa Timur dan Kaukasus yang bergantung pada jalur udara Turki.

Meskipun penutupan ini awalnya hanya berlaku untuk pesawat pemerintah Israel, para pengamat menilai bahwa Ankara memiliki banyak instrumen untuk terus menekan Tel Aviv secara ekonomi dan diplomatik.

Parlemen Turki kemudian mengesahkan resolusi untuk:

1. Menangguhkan keanggotaan Israel di PBB dan organisasi internasional,

2. Menyerukan pemutusan hubungan parlemen seluruh dunia dengan Israel hingga kebijakan Gaza diubah.

Erdogan Menggerakkan Seluruh Instrumen Negara

Konflik Israel–Turki tidak lagi terbatas pada arena diplomasi. Dalam setahun terakhir, Erdogan telah memobilisasi semua instrumen negara—politik, hukum, ekonomi, dan militer untuk menekan Israel.

Meski belum ada sinyal resmi bahwa Turki akan mengintervensi Gaza secara langsung, kekhawatiran di dalam negeri Israel terus tumbuh. Langkah-langkah Erdogan sejauh ini tidak semata ditujukan untuk kebutuhan politik dalam negeri, tetapi didorong oleh tekanan opini publik dan dinamika geopolitik Kawasan.

Referensi:

[1] https://www.bizportal.co.il/general/news/article/20020991
[2] https://www.calcalist.co.il/local_news/article/hkxj11vvkge
[3] https://www.calcalist.co.il/world_news/article/syiatz19xe
[4] https://www.ynet.co.il/news/article/h1jysa2gex
[5] https://tn.ai/3392214

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *