Qatar: Agresi Israel Ujian Besar bagi Sistem Internasional
POROS PERLAWANAN – Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani menyatakan bahwa agresi Israel merupakan ujian besar bagi sistem internasional. Hal ini disampaikannya dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB yang membahas serangan terhadap kantor perwakilan Hamas di Doha.
Menurut Tasnimnews Agency pada Jumat 12 September, dalam pidatonya, Al Thani mengapresiasi solidaritas para anggota Dewan Keamanan atas insiden tersebut dan menilai upaya Dewan untuk mengeluarkan pernyataan pers sebagai langkah yang sangat berarti.
Ia menekankan bahwa serangan Israel menyasar sebuah gedung yang ditempati oleh tim negosiasi Hamas, yang juga terletak di kawasan permukiman yang padat dengan sekolah dan kantor diplomatik. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara anggota PBB dan menilai bahwa sistem internasional tengah menghadapi ujian serius.
Al Thani juga mengkritik sikap Perdana Menteri Israel yang, menurutnya, membenarkan agresi tersebut dengan dalih yang lemah dan interpretasi hukum yang keliru.
“Para pemimpin Israel lolos dari hukuman karena kesombongan dan mabuk kekuasaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya peran mediasi dalam konflik yang berlangsung, dan menggambarkan Qatar sebagai “sinar harapan” di tengah situasi yang berdarah.
“Qatar akan terus menjalankan peran kemanusiaan dan diplomatiknya tanpa ragu. Kami telah membuktikan komitmen kami terhadap perdamaian dengan cara kami sendiri,” katanya.
Dalam pernyataan tegas, Al Thani menyebut Israel sebagai negara yang kini dipimpin oleh kelompok ekstremis yang haus kekerasan, dan menegaskan bahwa perilaku serta retorika Rezim Israel tidak dapat diterima oleh negara-negara Kawasan maupun rakyatnya.
“Pembebasan sandera bukan prioritas bagi otoritas Israel. Para ekstremis yang kini berkuasa tidak peduli terhadap nasib para sandera,” tambahnya.
Ia menutup pernyataannya dengan seruan agar dunia internasional tidak tunduk pada arogansi kaum ekstremis dan terus mendorong tercapainya Solusi Dua Negara sebagai jalan keluar yang adil dan berkelanjutan.
