Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Komite Nobel Tegaskan Independen, Trump Gagal Jadikan Hadiah Perdamaian Alat Propaganda

Komite Nobel Tegaskan Independen, Trump Gagal Jadikan Hadiah Perdamaian Alat Propaganda

POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, Komite Hadiah Nobel Perdamaian Norwegia menolak tunduk pada manuver Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang berambisi menjadikan penghargaan bergengsi tersebut sebagai alat legitimasi politik. Komite menegaskan bahwa keputusan mereka tidak akan dipengaruhi kampanye media maupun tekanan diplomatik dari Gedung Putih.

Dalam wawancara dengan AFP, Sekretaris Komite, Kristian Berg Harpviken menyatakan bahwa meskipun sorotan media terhadap kandidat tertentu begitu besar, hal itu tidak memengaruhi pembahasan internal. “Kami melihat perhatian yang besar, tetapi itu sama sekali tidak mengubah arah diskusi kami,” katanya di Oslo. Komite dijadwalkan mengumumkan pemenang Nobel tahun ini pada 10 Oktober.

Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari, Trump gencar mengeklaim dirinya “layak” menerima Nobel. Ia menyebut perannya dalam menghentikan perang serta berjanji menyelesaikan konflik di Gaza dan Ukraina. Untuk memperkuat narasinya, Trump bahkan menonjolkan dukungan dari sekutunya, Perdana Menteri rezim Zionis, Benyamin Netanyahu, dan Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev. Namun, publik menilai klaim ini hanya upaya murahan untuk menutupi wajah imperialisme AS yang justru menyalakan api perang di berbagai belahan dunia.

Fakta menunjukkan bahwa batas akhir nominasi Nobel 2024 telah ditutup pada 31 Januari, hanya 11 hari setelah Trump kembali menjabat. Dengan demikian, klaim dukungan yang terus diumbar jelas tidak memiliki bobot hukum maupun legitimasi nyata.

Nobel Bukan Panggung Propaganda AS

Komite Nobel menegaskan bahwa nominasi dapat diajukan oleh ribuan figur berpengaruh, termasuk anggota parlemen, profesor, dan mantan penerima Nobel. Namun daftar panjang 338 kandidat dirahasiakan selama 50 tahun. “Menjadi kandidat bukanlah prestasi. Pemenanglah yang luar biasa,” tegas Harpviken, sambil menekankan bahwa keputusan Komite didasarkan pada kajian ahli, bukan kampanye politik.

Meski begitu, media Norwegia melaporkan Trump bahkan sempat menyinggung langsung soal Nobel dalam percakapan telepon dengan Menteri Keuangan, Jens Stoltenberg. Fakta ini menunjukkan bagaimana Washington berusaha menggunakan semua jalur diplomatik untuk memoles citra presidennya.

Namun sejarah membuktikan bahwa Komite tidak mudah ditundukkan. Pada 2010, Nobel tetap diberikan kepada pejuang demokrasi Tiongkok, Liu Xiaobo meski keputusan itu menimbulkan ketegangan besar dengan Beijing.

Trump dan Arogansi Kekuasaan

Analis Norwegia menilai langkah Trump justru berbalik arah. “Tekanan seperti ini biasanya kontraproduktif,” kata Halvard Leira dari Institut Hubungan Internasional Norwegia. Tiga sejarawan peraih Nobel bahkan menerbitkan opini yang menguraikan alasan mengapa Trump tidak pantas menerima Nobel, mulai dari kedekatannya dengan Vladimir Putin hingga sikap anti-multilateralisme.

Jika Komite sampai menyerahkan penghargaan itu kepada Trump, kata Leira, dunia akan melihatnya sebagai tanda tunduk pada kekuasaan AS. Bagi banyak kalangan, upaya Trump hanyalah cermin arogansi imperialis Washington yang berusaha merampas simbol perdamaian demi kepentingan politiknya sendiri.

Tags: