Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Wakil Presiden Iran: Perjanjian Kairo Membuat Eropa Semakin Arogan

Israel Hayom: Tanpa Bom Nuklir, Iran Sudah Miliki Daya Tangkal

POROS PERLAWANAN – Kepala Organisasi Energi Atom Iran sekaligus Wakil Presiden, Mohammad Eslami menilai Perjanjian Kairo justru memperkuat sikap keras negara-negara Eropa terhadap Teheran. Ia memperingatkan bahwa sejak perjanjian teknis antara Abbas Araghchi dan Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi ditandatangani, posisi Eropa “semakin arogan dan penuh tekanan”.

Menurut surat kabar Kayhan pada Kamis 18 September, Eslami mengatakan bahwa pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan Eropa tidak memiliki kapasitas untuk memainkan peran independen dalam diplomasi internasional. “Eropa lebih memilih mengikuti Amerika Serikat. Perluasan mekanisme pemicu dan upaya melanjutkan Resolusi 2231 hanya akan memperkuat landasan bagi tekanan dan ancaman baru terhadap Iran,” ujarnya.

Kritik terhadap Troika Eropa

Kritik itu mengemuka setelah pernyataan terbaru Troika Eropa dalam pertemuan Dewan Gubernur IAEA. Dalam pernyataan tersebut, Inggris, Prancis, dan Jerman mengabaikan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, tetapi kembali menuduh Teheran melanggar komitmen JCPOA. Mereka menuding Iran membangun instalasi pengayaan baru di Isfahan, membatasi akses inspektur, dan tidak transparan terkait stok uranium yang diperkaya.

Teheran menilai tuduhan itu bermotif politik. “Jika perhatian utama mereka adalah transparansi, seharusnya mereka mengutuk serangan sabotase terhadap fasilitas nuklir kami. Diamnya Eropa justru menjadi lampu hijau bagi para pelaku agresi,” tegas Eslami.

Eropa sebagai “Polisi Jahat”

Menurut Eslami, sejak penandatanganan JCPOA pada 2015 hingga kini, Eropa tidak pernah menjalankan komitmen ekonomi dan politiknya terhadap Iran. Sebaliknya, mereka berulang kali mengancam mengaktifkan mekanisme pemicu untuk mengembalikan sanksi PBB. “Mereka bahkan mengakui bahwa sejak 2019 sudah ada cukup alasan bagi mereka untuk mengaktifkan mekanisme itu, namun hanya menundanya karena alasan politik,” katanya.

Dalam pandangan Teheran, peran Eropa selama dua dekade terakhir tidak pernah konstruktif. Dari perundingan di Saadabad hingga JCPOA, negara-negara Eropa kerap tampil sebagai “polisi jahat” yang memperkuat strategi “Tekanan Maksimum” Amerika Serikat.

Diplomasi Iran dan Respons Eropa

Meski demikian, Iran tetap membuka jalur diplomasi. Kontak antara Abbas Araghchi dan Menlu Prancis, serta konsultasi dengan Uni Eropa, menunjukkan Teheran tidak menutup pintu perundingan. Namun, menurut Eslami, respons Eropa justru berupa ancaman. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaya Kalas, misalnya, memperingatkan bahwa “jendela diplomasi hampir tertutup” dan hanya tersisa beberapa minggu sebelum sanksi baru diberlakukan.

Bagi Teheran, sikap ini menegaskan bahwa Eropa tidak lagi memiliki bobot independen dalam politik global. “Mereka sekadar mengikuti garis kebijakan Washington,” kata Eslami.

Risiko Perpanjangan Resolusi 2231

Eslami juga menolak gagasan memperpanjang Resolusi 2231, yang menjadi dasar hukum bagi JCPOA. Menurutnya, perpanjangan hanya akan memperpanjang tekanan, penyanderaan isu nuklir, dan lingkungan ancaman bagi Iran. “Berakhirnya resolusi akan menghilangkan alasan Eropa dan Amerika untuk menekan kami. Memperpanjangnya justru mengulang siklus dua dekade terakhir yang merugikan kepentingan nasional,” tegasnya.

Tags: