Wakim: Pelucutan Senjata Perlawanan Jalan Menuju Tragedi ‘Sabra Shatila Baru’ di Lebanon
POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, mantan Anggota Parlemen Lebanon, Najah Wakim mengingatkan bangsa Arab dan rakyat Lebanon bahwa setiap upaya untuk melucuti senjata Perlawanan hanya akan membuka jalan bagi tragedi baru sekelas pembantaian Sabra dan Shatila. Dalam wawancaranya dengan Al Mayadeen, Wakim menegaskan bahwa senjata Perlawanan bukan sekadar isu dalam negeri, melainkan persoalan kedaulatan dan keberlangsungan hidup rakyat Lebanon di tengah ancaman konstan musuh Zionis.
Menurutnya, mereka yang mendorong agar senjata Perlawanan diserahkan kepada otoritas negara sesungguhnya menutup mata terhadap kenyataan: negara Lebanon sendiri masih berada dalam cengkeraman kekuatan eksternal, terutama Amerika Serikat, yang menjadi sponsor utama Israel. Ia menegaskan, bagaimana mungkin rakyat Lebanon percaya bahwa otoritas yang dikendalikan asing mampu melindungi warga sipil, jika sejarah justru menunjukkan sebaliknya.
Wakim mengingatkan kembali tragedi kelam pada 16–18 September 1982. Saat itu, pasukan Pendudukan Zionis di bawah Ariel Sharon mengepung kamp pengungsi Sabra dan Shatila di Beirut. Milisi sekutu Zionis lalu dilepaskan masuk, melakukan pembantaian berdarah terhadap ratusan warga Palestina dan Lebanon yang tak berdaya seperti perempuan, anak-anak, hingga lansia. Tentara Zionis menjaga perimeter, memastikan tidak ada yang melarikan diri, dan tidak ada bantuan yang bisa masuk. Semua itu terjadi hanya beberapa minggu setelah pejuang PLO dipaksa angkat kaki dari Beirut dengan jaminan internasional. Hasilnya: rakyat sipil menjadi korban, tanpa perisai dan tanpa pembela.
“Apakah kita ingin mengulang kesalahan yang sama?” tegas Wakim. “Jika Perlawanan dilucuti hari ini, yang menanti bukan stabilitas, melainkan Sabra dan Shatila baru.”
Mengenai Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF), Wakim menolak klaim bahwa lembaga tersebut sepenuhnya berdaulat. Ia menyebutkan bahwa Amerika sendiri menghalangi persenjataan tentara Lebanon. Maka pertanyaan kunci, menurutnya, adalah mengapa senjata yang dimiliki Perlawanan tidak disalurkan ke tangan LAF, melainkan justru diminta dihancurkan.
Bagi Wakim, Perlawanan bukanlah kelompok yang muncul dari ruang kosong. Ia lahir dari inisiatif rakyat, dari kegigihan para pengungsi Palestina mempertahankan hak tinggal di tanah mereka, serta dari tekad masyarakat Lebanon melindungi diri dari agresi berulang Zionis. Keberadaan Perlawanan, meski menghadapi tantangan, adalah sumber harapan bahwa negeri ini tidak akan pernah tunduk sepenuhnya pada proyek dominasi Israel.
Lebih jauh, Wakim menyoroti KTT Doha yang dinilainya hanya melahirkan bahasa simbolis tanpa keputusan berarti. Ia menyindir sikap setengah hati yang hanya menyerukan pembekuan perjanjian dengan Israel tanpa tindakan konkret. “Itu konyol,” tegasnya, “karena yang dibutuhkan Lebanon adalah langkah nyata, bukan sekadar klausul kosong.”
Di akhir pernyataannya, Wakim menyerukan agar segala pembahasan soal senjata, pengaturan keamanan, maupun penyelesaian politik hanya bisa dibahas melalui konsensus nasional, bukan paksaan asing. Baginya, hanya strategi berdaulat yang lahir dari kehendak rakyat sendiri yang dapat menjaga martabat dan keamanan Lebanon. Setiap ketergantungan pada patron eksternal, ia peringatkan, hanyalah jalan menuju penghinaan dan tragedi baru di masa mendatang.
