Pemimpin Tertinggi: Perundingan Nuklir dengan AS Justru Merugikan dan Tidak Melayani Kepentingan Nasional Iran
POROS PERLAWANAN – Dalam pidato langsung yang disiarkan kepada bangsa Iran pada Selasa malam 23 September Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei secara khusus menyoroti arah perkembangan program nuklir Iran.
Pernyataan beliau disampaikan setelah sejumlah analis dan beberapa pejabat negara mengusulkan dilakukannya kembali perundingan dengan Amerika Serikat mengenai program nuklir tersebut. Pemimpin Tertinggi dengan tegas menyatakan bahwa terlibat dalam pembicaraan dengan Washington dalam kondisi saat ini justru akan merugikan bagi Iran.
“Mereka sudah menentukan hasil dari perundingan sebelumnya; mereka ingin kita membongkar program nuklir dan menghentikan pengayaan uranium. Dapatkah ini disebut sebagai negosiasi? Mereka sedang mendikte hasilnya kepada kita,” tegasnya.
Ayatullah Khamenei menekankan peran vital pengayaan uranium bagi pembangunan negara, menyebutkan pemanfaatannya baik untuk saat ini maupun masa depan di berbagai sektor, seperti pertanian, kedokteran, industri, dan pembangkit listrik. “Kita telah mencurahkan energi dan sumber daya yang sangat besar untuk program nuklir ini sehingga menjadi satu dari hanya sepuluh negara di dunia yang mampu melakukan pengayaan uranium. Memang, sembilan negara lainnya memiliki senjata nuklir, namun kita tidak berambisi untuk memilikinya, baik sekarang maupun di masa depan.”
Lebih lanjut beliau berargumen bahwa, di luar hasil yang sudah ditentukan dari potensi perundingan, AS menggunakan taktik ancaman untuk memaksa Iran duduk di meja perundingan yang pada hakikatnya tidak berguna dan kontra-produktif. “Jika kita bernegosiasi di bawah ancaman, kita akan dipersepsikan lemah terhadap intimidasi. Amerika akan berkesimpulan bahwa mereka dapat memaksa kita melakukan apapun dengan ancaman,” paparnya.
Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa tidak ada “bangsa bermartabat” yang bersedia bernegosiasi dalam situasi demikian. “Saya tidak dapat memprediksi perubahan situasi di masa depan, namun yang pasti, dalam kondisi saat ini, keterlibatan dengan Amerika mengenai isu nuklir tidak lain adalah jalan buntu.”
Pemimpin Tertinggi juga menggarisbawahi pola kebohongan dan pengingkaran yang konsisten dilakukan oleh AS dan sekutu-sekutu Baratnya. Beliau menyiratkan bahwa bahkan jika suatu perjanjian berhasil dicapai, pihak Barat akan menolak memenuhi kewajibannya. Sebagai bukti, beliau mengutip pengalaman Implementasi Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), perjanjian nuklir pada 2015.
JCPOA, yang ditandatangani antara Iran dan P5+1 (lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus Jerman), membatasi program nuklir Iran sebagai imbalan atas pencabutan sanksi-sanksi Barat. Washington menarik diri secara sepihak dari pakta tersebut pada 2018 di bawah Pemerintahan Trump, sementara sekutu-sekutu Eropanya, meski tetap menjadi penanda tangan, mulai mengingkari komitmen mereka. Pascapenarikan diri AS, Teheran menghadapi sanksi dan tekanan ekonomi yang justru lebih berat dibandingkan era sebelum JCPOA.
Iran sempat terlibat dalam beberapa putaran pembicaraan dengan negara-negara Eropa selama Pemerintahan Biden. Namun, Biden menarik diri dari proses negosiasi ketika kesepakatan hampir tercapai pada 2022, yang bertepatan dengan terjadinya kerusuhan dalam negeri Iran.
Upaya lain juga dilakukan; Teheran menyetujui negosiasi dengan Pemerintahan kedua Trump yang diagendakan awal tahun ini. Akan tetapi, tepat ketika Iran mempersiapkan putaran keenam negosiasi tidak langsung pada Juni, fasilitas-fasilitas nuklirnya diserang oleh Israel, dan kemudian oleh Amerika Serikat, yang memicu 12 hari peperangan dan mengakibatkan lebih dari 1000 korban jiwa warga Iran.
Merujuk pada serangan tersebut, Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa tidak ada ancaman atau pemboman apa pun yang dapat melenyapkan kapabilitas nuklir Iran. “Saat ini, di dalam negeri, terdapat puluhan cendekiawan dan profesor terkemuka. Ini berdasarkan laporan resmi dari pihak terkait, sehingga dapat diandalkan. Ada puluhan ilmuwan distingtif, ratusan peneliti, dan ribuan lulusan dari berbagai disiplin ilmu terkait nuklir yang aktif berkarya.”
