Media Ibrani Akui Rekonstruksi di Iran Lebih Cepat Dibanding Tel Aviv
POROS PERLAWANAN – Sebuah media Zionis mengungkapkan bahwa proses rekonstruksi di Iran pascaperang berjalan jauh lebih cepat dibandingkan di Tel Aviv. Meski pembayaran ganti rugi sudah dimulai, pemulihan infrastruktur di Israel masih jauh dari harapan. Salah satu contoh mencolok adalah Menara Da Vinci di Tel Aviv, yang hingga kini masih menyisakan bekas serangan rudal Iran.
Menurut laporan Tasnim News Agency pada Minggu 28 September, jurnalis Yufal Nissany menggambarkan bahwa pada tingkat kemajuan saat ini, rekonstruksi Menara Da Vinci diperkirakan memakan waktu sekitar dua tahun.
Pemerintah Kota Tel Aviv sendiri mewajibkan izin khusus untuk setiap bangunan yang rusak sebelum pemulihan bisa dimulai, sebuah prosedur yang diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan.
Laporan itu juga mengutip pernyataan Ketua Sementara Asosiasi Insinyur Israel, Yisrael David. “Pemugaran Menara Selatan seharusnya bisa selesai dan penghuninya kembali, tetapi beginilah situasi di Israel. Baru sekarang, tiga bulan setelah pembongkaran, izin pemugaran akhirnya diterbitkan,” ujarnya.
David menambahkan dengan nada getir: “Saya yakin di Iran, dua menara seperti ini sudah lama bisa dipugar dan dihuni kembali. Tak ada gambaran kemenangan yang lebih jelas daripada itu. Namun di sini, segalanya berjalan lamban.”
David, yang ditunjuk untuk memimpin proyek restorasi Menara Da Vinci, mengungkapkan bahwa kerusakan akibat perang Iran–Israel Juni lalu membuat proyek ini semakin kompleks. Menara setinggi 155 meter dengan 44 lantai itu menampung lebih dari 400 penyewa dan juga berfungsi sebagai ruang perkantoran, sehingga perhitungan biaya dan tanggung jawab renovasi menjadi berbelit.
“Dalam proyek perkantoran, pemilik properti langsung menanggung biaya renovasi, lalu mengeklaimnya lewat pajak. Prosesnya sederhana. Akan tetapi, dalam proyek hunian dengan ratusan penyewa, setiap individu punya kepentingan dan masalah berbeda. Inilah yang memperlambat segalanya,” jelasnya.
Kerusakan struktural Menara Utara juga dinilai sangat serius, ibarat “tertembak tepat di perut”. Selain itu, sistem vital seperti sprinkler, lift, air, listrik, hingga jaringan komunikasi mengalami kerusakan parah. Setiap lantai masih harus dinilai secara detail sebelum perbaikan dimulai.
Kekhawatiran bertambah dengan kewajiban izin mendirikan bangunan dari Pemerintah Kota Tel Aviv, yang diyakini penyewa hanya akan memperpanjang waktu tunggu. “Setelah inspeksi dan perencanaan selesai, seharusnya pekerjaan bisa dimulai. Tapi pemerintah kota tetap bersikeras menuntut izin resmi, yang jelas akan memakan waktu berbulan-bulan,” ujar salah seorang pemilik apartemen.
