Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

YNet: Smotrich dan Ben Gvir Menunggu Negosiasi Gencatan Senjata Gagal

POROS PERLAWANAN — Dua Menteri garis keras dalam Kabinet Zionis, Bezalel Smotrich dan Itamar Ben Gvir, dikabarkan menunggu kegagalan negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung, dengan harapan proses tersebut akan runtuh seperti upaya sebelumnya.

Menurut laporan Tasnim News Agency pada Senin 6 Oktober, yang mengutip edisi daring harian berbahasa Ibrani Yedioth Ahronoth (YNet), kedua Menteri dari partai sayap kanan tersebut tidak menarik diri dari koalisi Pemerintahan Benyamin Netanyahu, meskipun secara terbuka menentang rencana gencatan senjata yang diusulkan Presiden AS, Donald Trump.

Menunggu Kegagalan, Bukan Menentang Langsung

Laporan YNet menyebut bahwa Smotrich dan Ben Gvir memberikan lampu hijau bagi Netanyahu untuk melanjutkan proses negosiasi (setidaknya pada tahap pertama), karena mereka yakin Hamas tidak akan menerima tuntutan keras yang tercantum dalam kesepakatan tersebut.

Keduanya memimpin partai Zionisme Religius dan Otzma Yehudit. Meski mengungkapkan ketidakpuasan terhadap isi perjanjian yang dibahas pada hari sebelumnya, mereka tidak menunjukkan perlawanan terbuka yang dapat mengguncang koalisi.

Sikap ini dianggap sebagai strategi politik “menunggu jatuhnya perjanjian dari dalam”, bukan konfrontasi langsung terhadap Netanyahu.

Sumber di sekitar Perdana Menteri mengatakan bahwa selama Knesset (Parlemen Israel) masih dalam masa reses, Netanyahu memiliki waktu untuk menstabilkan koalisinya dan memperkuat dukungan politik dari sayap kanan ekstrem.

Lampu Hijau Taktis, Harapan Kegagalan

Hingga Senin pagi, berbagai laporan dari lingkaran Kabinet menunjukkan bahwa Smotrich dan Ben Gvir secara de facto memberikan restu kepada Netanyahu untuk menjalankan tahap awal rencana gencatan senjata.

Namun, sejumlah sumber internal di kedua partai menegaskan bahwa dukungan ini bersifat taktis, karena mereka meyakini peluang keberhasilan perjanjian sangat rendah.

Seorang pejabat dari blok kanan berkata kepada YNet: “Kami memiliki perbedaan serius terkait pembebasan tahanan Palestina. Tapi demi memulangkan tentara yang ditawan, kami menyepakati tiga prinsip utama: memulangkan semua tentara, membubarkan Hamas, dan melucuti senjata Jalur Gaza.”

Menurut sumber itu, baik Netanyahu maupun Trump berkomitmen pada tiga prinsip tersebut, sehingga tidak ada ancaman langsung terhadap kelangsungan koalisi dalam jangka pendek.

Potensi Krisis Koalisi Tetap Ada

Meski untuk sementara stabil, analis politik Israel memperingatkan bahwa ketegangan dalam Kabinet Netanyahu tetap berisiko meledak sewaktu-waktu.

Faksi Zionisme Religius dan Otzma Yehudit disebut masih berjaga-jaga, terutama jika Hamas tidak segera membebaskan para sandera atau jika gencatan senjata berlanjut lebih lama dari yang diinginkan.

Dalam skenario tersebut, seruan untuk melanjutkan perang diyakini akan meningkat drastis, membuka kemungkinan runtuhnya koalisi Netanyahu dan kembalinya instabilitas politik di Israel.

Analisis Politik: Koalisi yang Berdiri di Atas Ketidakpercayaan

Situasi ini mencerminkan paradoks dalam politik Israel saat ini: Koalisi Netanyahu bertahan bukan karena kesatuan visi, melainkan karena kalkulasi politik dari setiap faksi ekstrem kanan yang menunggu kegagalan pihak lain.

Smotrich dan Ben Gvir menolak perjanjian gencatan senjata, namun memilih untuk tidak menjatuhkan pemerintahan, karena jatuhnya perjanjian secara alami akan memperkuat posisi politik mereka di dalam negeri.

Dengan demikian, seperti dicatat oleh YNet, Kabinet Netanyahu mungkin tidak akan runtuh hari ini, tetapi sedang menunggu saat yang tepat untuk meledak dari dalam.

Tags: