Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Trump Kembali Klaim Akan Hancurkan Program Nuklir Iran

POROS PERLAWANAN — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali melontarkan klaim tidak berdasar bahwa negaranya telah menghancurkan program nuklir Republik Islam Iran.

Menurut laporan Kantor Berita Mehr pada Senin 6 Oktober, mengutip Al Jazeera, Trump menyampaikan pernyataan tersebut dalam upacara peringatan berdirinya Angkatan Laut AS. Dalam pidatonya, ia mengulang klaim lama bahwa Amerika Serikat telah “menghancurkan” program nuklir Iran.

Trump menambahkan dengan nada ancaman: “Saya berharap Iran tidak memulai kembali program nuklirnya, karena kami akan dipaksa untuk menghadapinya. Jika mereka melanjutkan, kita tidak perlu menunggu lama.”

Ia kemudian menegaskan: “Jika kami tidak menyerang fasilitas nuklir Iran, negara itu akan memiliki senjata nuklir dalam waktu satu bulan.”

Trump juga menyombongkan diri bahwa hanya dirinya yang “berani” melakukan tindakan terhadap Iran.

“Kita telah menunggu selama 22 tahun untuk menyerang Iran, dan tidak ada presiden Amerika yang berani melakukan hal itu,” ujarnya di hadapan personel Angkatan Laut. “Kami tidak ingin mengirim kalian ke medan perang kecuali benar-benar terpaksa.”

Klaim Lama, Tanpa Bukti Baru

Pernyataan Trump tersebut muncul di tengah situasi tegang di Timur Tengah dan bertepatan dengan meningkatnya tekanan terhadap Iran di forum internasional. Namun hingga kini, tidak ada bukti independen yang mendukung klaim bahwa program nuklir Iran telah dihancurkan.

Republik Islam Iran berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai dan bertujuan untuk kebutuhan energi, medis, dan penelitian ilmiah, bukan untuk pembuatan senjata.

Pejabat tinggi Iran juga menolak klaim Trump dan menegaskan bahwa “program nuklir Iran tidak dapat dihancurkan”, karena ilmu pengetahuan tidak bisa dimusnahkan dengan bom atau sanksi.

Seorang pejabat senior di Teheran bahkan menekankan: “Anda bisa menyerang fasilitas, tapi tidak bisa menghancurkan pengetahuan. Program nuklir Iran adalah hasil dari kemampuan nasional, bukan proyek rahasia militer.”

Konteks Politik dan Retorika Militer

Analis menilai bahwa pernyataan Trump lebih mencerminkan retorika politik domestik menjelang Pemilu Amerika Serikat, daripada strategi keamanan nyata di Kawasan.

Dengan mengangkat isu Iran, Trump berupaya memperlihatkan ketegasan Militer AS dan mengalihkan perhatian publik dari tekanan internal yang dihadapinya.

Namun, klaim tersebut justru memunculkan kembali perdebatan mengenai kredibilitas kebijakan luar negeri Washington, terutama setelah keluarnya AS dari Perjanjian Nuklir Iran (JCPOA) pada 2018, sebuah langkah yang banyak dikritik oleh komunitas internasional karena memperburuk ketegangan regional.

Klaim Trump bahwa Amerika Serikat telah menghancurkan program nuklir Iran tidak memiliki dasar teknis maupun bukti faktual.

Sementara Iran menegaskan bahwa program nuklirnya tidak pernah dimaksudkan untuk tujuan militer dan tidak dapat dihancurkan karena berlandaskan pengetahuan dan teknologi nasional yang tidak bisa dibalikkan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *