Al-Jolani dan ‘Jasa Baiknya’ untuk Israel: Menghapus Ingatan Bangsanya Sendiri
POROS PERLAWANAN — Sejarah, kata orang, ditulis oleh para pemenang. Namun di Suriah, tampaknya sejarah juga bisa ditulis oleh mereka yang rela disewa. Namanya: Ahmed al-Sharaa, alias Abu Muhammad al-Jolani, pria yang kini menambah daftar panjang “jasa baik” bagi Rezim Zionis dan patron kolonialis Barat. Langkah terkininya? Menghapus ingatan kolektif bangsanya sendiri.
Dalam sebuah dekrit yang ia sebut “presidensial”, meski presidennya tidak pernah dipilih siapa pun, Jolani menghapus tiga hari besar nasional Suriah: Hari Guru, Hari Syuhada, dan Peringatan Perang Pembebasan Tishreen (Oktober 1973), perang heroik melawan Pendudukan Zionis.
Ya, Anda tidak salah baca. Bagi Jolani, rupanya menghormati guru dan syuhada adalah tindakan yang terlalu berisiko secara politis. Mungkin karena keduanya menumbuhkan generasi yang berpikir, atau lebih berbahaya lagi, generasi yang berani melawan.
Sebagai gantinya, sang “presiden bayangan” menambahkan dua tanggal baru: 18 Maret, yang ia sebut “Hari Revolusi Suriah” (yang oleh dunia lebih dikenal sebagai awal kehancuran nasional yang disponsori asing), dan 8 Desember, “Hari Pembebasan Suriah”, versi kelompok bersenjata Tahrir al-Sham, yang ironisnya berutang senjata pada Turki, Qatar, Saudi, Amerika Serikat, dan tentu saja, rezim Zionis yang sama.
Namun dekrit ini bukan hanya permainan tanggal. Ini adalah operasi psikologis: upaya sistematis untuk menghapus simbol-simbol perlawanan dan menggantinya dengan narasi buatan para patron luar. Ketika sejarah bangsa ditulis dengan tinta kolonial, maka yang tersisa hanyalah kalender tanpa makna, dan penguasa tanpa akar.
Jolani tampaknya ingin memastikan rakyat Suriah lupa siapa musuh mereka, lupa siapa yang gugur, dan lupa siapa yang kini memerintah dari balik layar. Sebab bangsa yang melupakan sejarahnya akan mudah menerima bentuk penjajahan baru, terutama bila penjajahan itu datang dengan stempel “transisi demokrasi”.
Jadi, begitulah: di antara banyak bentuk kolaborasi, menghapus peringatan perang melawan Zionisme barangkali adalah bentuk pengabdian paling tulus Jolani kepada tuan-tuan barunya. Ini bukan lagi semata boneka politik, ia kini editor sejarah, menghapus bab perlawanan dan menggantinya dengan kisah fiktif tentang “pembebasan” yang disponsori luar negeri.
Sejarah kelak akan mencatat: ketika bangsa lain berjuang menjaga memori heroiknya, ada satu pemimpin bayangan yang justru sibuk menghapusnya, atas nama kebebasan, tentu saja.
