Prancis Siapkan Diri untuk Perang Baru di Lebanon: Sekongkol dengan Israel Melawan Poros Perlawanan
POROS PERLAWANAN — Pasukan Prancis yang ditempatkan di Lebanon selatan di bawah bendera UNIFIL diduga bekerja sama dengan Rezim Israel dalam aktivitas intelijen dan operasi militer untuk menargetkan pasukan Hizbullah. Sejumlah laporan menunjukkan bahwa Prancis tengah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan perang besar di wilayah tersebut.
Menurut laporan Kantor Berita Tasnim, pada Selasa 7 Oktober, meningkatnya serangan pesawat tak berawak (drone) Israel terhadap posisi Hizbullah, khususnya di Lebanon selatan, menimbulkan pertanyaan serius tentang peran UNIFIL. Pasukan penjaga perdamaian itu dinilai tidak hanya gagal menjalankan mandatnya, tetapi juga diduga terlibat dalam kerja sama militer dengan Israel.
Dalam laporannya, surat kabar Lebanon Al-Akhbar menyoroti catatan pasukan UNIFIL, khususnya kontingen Prancis, yang disebut kerap bertindak di luar mandat PBB. “Selama empat dekade terakhir, pasukan UNIFIL asal Prancis tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi juga melaksanakan agenda yang sejalan dengan kepentingan musuh, yaitu Israel”, tulis harian tersebut.
Laporan itu menambahkan bahwa sejak gencatan senjata diberlakukan pada November 2024, aktivitas pasukan Prancis di Lebanon meningkat signifikan. Meskipun datang atas nama PBB, pasukan ini disebut berbeda dari batalion UNIFIL lainnya. Tanpa batasan wilayah operasi maupun koordinasi resmi dengan Dewan Keamanan PBB, mereka membentuk unit intervensi cepat dengan persenjataan canggih, siap bergerak ke titik mana pun di selatan Sungai Litani kapan saja, baik dalam situasi darurat maupun untuk mendukung pasukan lain.
Sebelumnya, beredar laporan mengenai penggunaan drone Prancis untuk memberikan dukungan intelijen kepada Israel di Lebanon selatan. Pesawat tak berawak tersebut dilaporkan mengirimkan data kepada Militer Israel sebelum dan sesudah operasi pembunuhan menggunakan drone di wilayah Lebanon selatan, bahkan hingga Beirut dan Lembah Bekaa.
Secara struktur dan kemampuan, pasukan Prancis dinilai telah melampaui fungsi penjaga perdamaian dan justru membentuk satuan dengan kemampuan intelijen militer dan serangan ofensif.
Batalion Prancis di bawah UNIFIL diketahui memiliki satu skuadron kendaraan lapis baja ringan (LAV) yang berfokus pada pengintaian dan pengumpulan data intelijen. Hal ini menjelaskan alasan mereka kerap memasuki jalan-jalan kecil dan kawasan permukiman padat di Lebanon selatan.
Melalui jaringan terpadu di dalam struktur UNIFIL, Prancis diduga secara rutin memperbarui “bank target” Israel dari darat dan udara. Pasukan yang mengenakan seragam PBB itu berperan dalam pengumpulan intelijen manusia (HUMINT) serta pemetaan fasilitas untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi sensitif yang sulit dijangkau oleh Militer Israel.
Sumber-sumber keamanan juga menyebutkan bahwa pasukan Prancis telah menempatkan senjata semi-berat dan bahkan sistem strategis, termasuk rudal pertahanan udara Mistral, di Lebanon selatan. Keberadaan persenjataan ini menimbulkan pertanyaan mengenai ancaman apa yang sebenarnya diantisipasi oleh Prancis, sekaligus menimbulkan kesan bahwa negara itu tengah mempersiapkan skenario perang berskala luas.
Selain itu, di bidang komunikasi dan pertahanan teknologi, Prancis dilaporkan telah mengerahkan perangkat anti-drone NEROD dan kendaraan lapis baja pengangkut personel VBCI di kawasan selatan Litani. Langkah ini menunjukkan perubahan postur pasukan Prancis menuju peran yang lebih ofensif, yang berpotensi menjadi faktor penentu dalam eskalasi konflik di Lebanon.
