Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Petinggi Jihad Islam Sindir AS yang Peduli Tawanan Israel, Namun Abaikan Nasib Belasan Ribu Tahanan Palestina

Petinggi Jihad Islam Sindir AS yang Peduli Tawanan Israel, Namun Abaikan Nasib Belasan Ribu Tahanan Palestina

POROS PERLAWANAN – Dalam analisis politik komprehensif tentang perkembangan terbaru pertempuran Al-Aqsa dan dampaknya di kawasan, perwakilan Jihad Islam di Iran, Nasser Abu Sharif, menegaskan bahwa keteguhan Palestina dan sikap prinsipil yang diambil oleh kubu Poros Perlawanan, dengan Yaman sebagai yang terdepan, telah membentuk kembali lanskap strategis di kawasan tersebut, dan memperkuat perimbangan baru yang menghancurkan proyek-proyek normalisasi dan hegemoni Amerika dan Zionis.

“Badai al-Aqsa bukanlah reaksi terhadap kejahatan tertentu yang dilakukan oleh entitas Zionis, melainkan respons terhadap sejarah panjang pembantaian, pengusiran, dan pendudukan,” kata Abu Sharif dalam wawancara eksklusif dengan al-Masirah.

“Operasi bersejarah pada 7 Oktober itu dilakukan untuk mempertimbangkan kembali pilihan perlawanan, serta mengakhiri ilusi penyelesaian dan negosiasi yang tidak membuahkan hasil.”

“Merupakan suatu kebodohan untuk bertanya kepada rakyat Palestina mengapa mereka memprovokasi Zionis, padahal Israel yang menduduki tanah mereka dan merampas semua hak mereka selama beberapa dekade.”

“Apa yang terjadi telah menunjukkan kebohongan Barat dan mengungkap klaim mereka soal hak asasi manusia. AS tidak pernah jadi mediator, tapi bagian dari proyek yang dijalankan oleh kubu Zionis.”

“Kubu yang berkuasa di AS dan Barat masih tunduk pada pandangan Zionis yang memiliki dimensi religius bagi umat Kristen Evangelis.”

“Semua pemimpin gerakan Zionis adalah ateis, tetapi mereka telah menarik arus religius Barat untuk menciptakan basis pendukung bagi entitas itu.”

“Proyek ‘Israel Raya’ adalah bagian dari visi kolonial Barat. Tanpa dukungan AS dan Barat, entitas Zionis itu mustahil bertahan lama dalam perang-perangnya.”

“Di dalam entitas Zionis ada perasaan isolasi dan kebencian yang semakin meningkat. Masyarakat Barat dan AS mengalami perubahan yang jelas dalam sikap mereka terhadap Rezim Zionis. Elite politik yang berkuasa di Barat masih menjadi tawanan hegemoni Zionis dan pengaruhnya di bidang keuangan dan media.”

“AS peduli kepada puluhan tawanan Zionis, sementara lebih dari 17 ribu tahanan Palestina telah mendekam di penjara-penjara Israel selama bertahun-tahun. Hal ini mencerminkan inti dari bias Amerika terhadap isu-isu bangsa.”

Terkait dengan tentang sikap resmi Arab, Abu Sharif mengatakan,“Keyakinan yang paling rendah dan lemah adalah bahwa negara-negara Arab berada di pihak Palestina. Tetapi kenyataannya tidak demikian, karena kelemahan dan perpecahan Arab justru menguntungkan musuh.”

Ia menyeru negara-negara Arab untuk “memutuskan hubungan politik dan diplomatik dengan entitas tersebut, sebagai langkah dasar untuk mengubah perimbangan.”

“Kami tidak meminta rezim-rezim Arab mengerahkan tentara, tetapi kami menginginkan sikap politik dan ekonomi yang jelas dalam menghadapi genosida.”

Abu Sharif memberikan pujian khusus kepada Yaman dengan mengatakan,“Yaman telah keluar dari perang yang panjang, tetapi telah melakukan tugasnya. Hari ini Yaman menjadi negara yang dihormati dan bermartabat.”

“Dalam konfrontasi dengan entitas Zionis, Yaman menghentikan pasokan ekonomi entitas itu melalui Laut Merah. Yaman tidak kalah ketika melakukan tugasnya, bahkan mendapatkan nilai, kehormatan, martabat, dan posisi di antara bangsa-bangsa.”

“Gaza telah membuktikan diri di hadapan bangsa, Hizbullah melakukan hal yang sama, dan Yaman telah membuktikan diri di hadapan semua negara lain. Setelah Yaman menutup pelabuhan Eilat, beberapa rezim Arab membangun jembatan darat untuk mengangkut bantuan kepada musuh, dan ini adalah contoh dari pengkhianatan Arab.”

Mengenai posisi Palestina yang bersatu, Abu Sharif menegaskan bahwa “semua faksi Palestina adalah mitra Hamas dalam negosiasi, sama seperti mereka adalah mitra di lapangan.”

“Setiap kesepakatan yang akan datang harus menjamin penarikan penuh dari Jalur Gaza, dan hal ini sedang dibahas dan dinegosiasikan di Kairo.”

Abu Sharif menyoroti pentingnya persatuan sikap Arab dan Islam di belakang perlawanan, dengan mengatakan, “Jika Umat Islam secara serius mendukung Front Perlawanan, situasinya akan berbeda.” Kami menyambut segala bentuk dukungan bagi rakyat Palestina, serta segala bentuk sikap tegas dan serius dalam menghadapi genosida.”

Dia menekankan perlunya menolak normalisasi hubungan apa pun yang mengorbankan hak-hak rakyat Palestina.

Dia menegaskan penolakan terhadap segala bentuk perwalian atau campur tangan asing dalam urusan Palestina, sambil menambahkan, “Kami menolak pemerintahan internasional atau kehadiran utusan tinggi Barat, karena ini adalah masalah Palestina sepenuhnya.”

“Kami tidak ingin negara-negara Arab membuka normalisasi yang luas dengan entitas Zionis dengan imbalan apa pun bagi rakyat Palestina,” pungkasnya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *