Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Chicago Resmi Jadi ‘Zona Perang’, The Guardian Sebut Trump ‘Idap Gangguan Mental Serius’

POROS PERLAWANAN — Dikutip dari surat kabar Kayhan, pada Selasa 7 Oktober, Pemerintahan Donald Trump dilaporkan telah mengumumkan status darurat militer dan mengerahkan 300 personel Garda Nasional ke Chicago. Langkah ini diambil menyusul pecahnya bentrokan hebat antara warga dan pasukan militer di kota tersebut.

Sementara itu, surat kabar Inggris, The Guardian menggambarkan Trump sebagai sosok dengan gangguan mental serius. Sejumlah psikolog Amerika Serikat menilai Trump menunjukkan tanda-tanda narsisme parah, ditandai dengan fokus berlebihan pada diri sendiri, kebutuhan ekstrem akan kekaguman, rasa superioritas, ketidakmampuan berempati, serta kepekaan berlebih terhadap kritik.

Menurut laporan The Guardian, Trump kerap menanggapi kritik dengan hinaan dan label kasar seperti “sampah”, “nyamuk”, “pecundang”, “pembohong”, hingga “musuh rakyat”. Analisis perilakunya di dunia maya semakin memperkuat dugaan adanya gangguan psikotik.

“Dalam beberapa pekan terakhir, banyak pengamat di Amerika dan luar negeri menilai perilaku Trump, terutama di dunia maya, semakin tidak wajar”, tulis The Guardian.

Perilaku Nyeleneh dan Kontroversi Video AI

Beberapa hari lalu, Trump memicu kemarahan publik setelah merilis video yang dibuat dengan kecerdasan buatan (AI). Dalam video tersebut, Hakim Jeffries (pemimpin minoritas kulit hitam pertama di Dewan Perwakilan Rakyat AS) digambarkan mengenakan topi bergaya Spanyol dan kumis tebal, diiringi musik mariachi khas Meksiko.

Video itu memicu kecaman keras dari komunitas Latino yang menuduh Trump menyebarkan konten “rasis”, “berbahaya”, dan “menjijikkan”. Meski dikritik luas, Trump kembali mengunggah video serupa beberapa hari kemudian.

The Guardian juga mencatat bahwa Trump sempat mengunggah video lain di platform Truth Social, menampilkan versi dirinya yang dihasilkan AI sedang berbicara tentang “tempat tidur medis canggih”, sebuah teori konspirasi yang diklaim dapat menyembuhkan segala penyakit.

Menurut kantor berita ISNA, seperti halnya Joe Biden, Trump kini menjadi subjek pertanyaan publik mengenai kesehatan mentalnya.

Baru-baru ini, Trump mengeklaim (tanpa dasar ilmiah) bahwa konsumsi Tylenol oleh ibu hamil dapat menyebabkan autisme pada anak. Dalam kesempatan lain, ia salah menyebut “Albania” alih-alih “Armenia” ketika membahas perjanjian damai antara Armenia dan Azerbaijan bersama Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer.

Kesalahan ini bahkan diulanginya dalam wawancara dengan Fox News.

Trump dan Rencana Militerisasi Kota

Dalam pidatonya di hadapan para komandan militer, Trump menyebut sejumlah kota besar seperti San Francisco, Chicago, New York, dan Los Angeles sebagai “tempat yang sangat tidak aman”. Ia mengeklaim akan “memperbaikinya satu per satu”.

“Kita harus menggunakan beberapa kota berbahaya ini sebagai tempat pelatihan bagi militer kita,” ujar Trump kepada Menteri Perang, Pete Hegsett, sebagaimana dikutip The Guardian.

Langkah itu ternyata bukan sekadar retorika. Dalam beberapa waktu terakhir, Pemerintahan Trump dilaporkan telah menargetkan sejumlah wilayah yang dikuasai Partai Demokrat dengan alasan “memerangi kejahatan dan menahan imigran ilegal”.

Chicago Jadi Medan Tempur

Pada Minggu lalu, Chicago resmi ditetapkan sebagai “zona perang”. Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristy Noem, membela keputusan pengerahan Garda Nasional dalam wawancara dengan Fox News, menyebut kota itu “medan pertempuran” yang perlu dikendalikan.

Menurut laporan AFP, meskipun seorang hakim sempat memblokir keputusan tersebut, Trump tetap mengizinkan pengerahan 300 pasukan Garda Nasional ke kota terbesar ketiga di AS itu pada Sabtu malam.

Survei CBS yang dirilis Minggu menunjukkan bahwa hanya 42 persen warga Amerika mendukung pengerahan militer ke kota-kota besar, sementara 58 persen menentang langkah tersebut.

Bentrokan Berdarah dan Eskalasi Kekerasan

Situasi di Chicago dengan cepat memburuk. Menurut laporan Reuters, bentrokan antara pasukan Federal dan pengunjuk rasa berujung pada insiden penembakan seorang wanita Amerika di lengan.

Departemen Keamanan Dalam Negeri AS membenarkan kejadian itu, menyatakan bahwa korban (seorang warga sipil) terluka setelah diduga “menyerang mobil patroli polisi” bersama beberapa orang lainnya. Wanita itu kini dirawat di rumah sakit, tanpa keterangan lebih lanjut mengenai kondisinya.

Selama bentrokan, Agen Federal dilaporkan menembakkan gas air mata, peluru karet, dan semprotan merica untuk membubarkan massa yang memblokir kendaraan penegak hukum. Suasana di jalanan Chicago digambarkan “seperti adegan perang”.

Menteri Noem kembali menggunakan istilah “zona perang” untuk menggambarkan situasi kota itu, dan menuding para pengunjuk rasa sebagai bagian dari geng kriminal terorganisasi.

“Kota ini telah menjadi zona perang, dan para pejabat lokal berbohong tentang apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya dalam wawancara di Fox News.

Kesimpulan

Kebijakan Trump dalam mengerahkan pasukan Militer ke Chicago memperdalam ketegangan politik dan sosial di Amerika Serikat. Dengan meningkatnya kekerasan dan tuduhan bahwa Pemerintah “memerangi rakyatnya sendiri”, banyak pengamat menilai langkah ini bukan sekadar upaya penegakan hukum, melainkan ujian paling serius terhadap demokrasi Amerika modern.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *