[Editorial] – Operasi Badai Al‑Aqsa dan Runtuhnya Arsitektur Penipuan Barat
POROS PERLAWANAN — Dua tahun setelah Operasi Badai Al‑Aqsa, dunia masih bergulat dengan dampak strategis dan moral dari peristiwa yang mengguncang fondasi kekuasaan kolonial modern. Serangan yang dimulai pada pagi 7 Oktober 2023 itu bukan semata-mata operasi militer; ini adalah momen pembalikan sejarah. Hari ketika kebohongan tentang “akhir isu Palestina” terbakar habis di bawah kenyataan yang tak dapat lagi disembunyikan oleh propaganda Barat dan sekutunya di Tel Aviv.
Menurut Kayhan pada Selasa 7 Oktober, beberapa hari sebelum badai itu datang, Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, Jake Sullivan menyatakan dengan angkuh bahwa “isu Palestina telah berakhir”. Ia berbicara dengan keyakinan bahwa Rencana Abraham, arsitektur geopolitik yang dirancang untuk menormalkan pendudukan dan mengubur Palestina di bawah lapisan proyek ekonomi, telah mencapai tujuan. Namun, apa yang terjadi justru sebaliknya: satu operasi bersenjata mengembalikan keadaan Palestina ke peta dunia, menghancurkan klaim stabilitas semu, dan menelanjangi arogansi imperium Amerika–Israel.
Arsitektur yang Retak
Tentu, rencana Abraham bukan semata bisa kita pandang sebagai kesepakatan politik; ini adalah proyek ideologis yang mengubah normalisasi menjadi instrumen kolonisasi. Barat berharap dengan memperluas jejaring ekonomi dan militer Israel di jantung dunia Arab, kesadaran umat akan dilumpuhkan dan perlawanan akan kehilangan relevansinya. Namun darah para syuhada di Gaza menulis ulang narasi itu. Badai Al‑Aqsa membuktikan bahwa setiap struktur kekuasaan yang dibangun di atas penindasan dan kebohongan, cepat atau lambat, akan runtuh dari dalam.
Sementara Washington berbicara tentang “de‑eskalasi”, yang terjadi di lapangan adalah kebalikan total: Gaza dikepung, dibiarkan kelaparan, dan dijadikan laboratorium uji senjata. Dunia menyaksikan bagaimana retorika “hak membela diri” menjadi lisensi untuk membunuh dan untuk genosida. Namun justru di tengah kegelapan itu, lahir kembali satu cahaya yang selama puluhan tahun coba dipadamkan: semangat Palestina yang tak bisa ditundukkan.
Kegagalan yang Terencana
Badai Al‑Aqsa setidaknya menggagalkan tiga proyek besar sekaligus: normalisasi, integrasi keamanan regional, dan invasi Gaza. Dokumen yang terungkap dari media Israel menunjukkan bahwa Rezim Pendudukan telah menyiapkan operasi besar terhadap Hamas hanya enam hari sebelum 7 Oktober. Dengan kata lain, operasi Perlawanan itu bukan sekadar serangan balasan. Ini adalah tindakan pencegahan terhadap rencana pembantaian yang lebih luas. Dalam konteks inilah Badai Al‑Aqsa menjadi simbol bukan hanya keberanian, melainkan juga kejernihan strategis Perlawanan.
Amerika Serikat dan sekutunya terkejut bukan karena kehilangan korban atau wilayah, tetapi karena kehilangan kendali atas narasi. Dunia kini berbicara tentang Palestina bukan sebagai “masalah keamanan” Israel, melainkan sebagai ukuran moral kemanusiaan. Masyarakat global, dari Jakarta hingga Johannesburg, turun ke jalan, bukan karena propaganda politik, tetapi karena nurani yang terusik oleh kebenaran yang tak lagi bisa dibungkam.
Kemenangan Moral dan Krisis Legitimasi
Badai Al‑Aqsa menandai awal kehancuran moral blok Barat. Negara‑negara yang selama puluhan tahun mengeklaim diri sebagai penjaga hak asasi manusia kini terbukti sebagai pelindung tirani modern. Mereka membiayai mesin perang, melindungi pendudukan, dan menutup mata terhadap pembunuhan anak‑anak. Legitimasi moral mereka runtuh bersamaan dengan runtuhnya kepercayaan dunia terhadap slogan‑slogan kemanusiaan yang kosong.
Namun di sisi lain, Palestina yang selama bertahun‑tahun dibungkam, dikepung, dan dicabut hak hidupnya, kembali menjadi simbol perlawanan universal. Dari universitas di Eropa hingga jalanan Amerika Latin, nama “Gaza” kini berarti kehormatan, bukan penderitaan. Dunia telah menemukan kembali kebenaran sederhana: bahwa siapa pun yang menentang penindasan berada di sisi sejarah yang benar.
Badai yang Belum Reda
Dua tahun setelah 7 Oktober, badai itu belum reda. Bahkan kini berhembus dalam bentuk kesadaran global yang menolak tunduk pada dominasi naratif Barat. Rencana Amerika dan Israel untuk membentuk “Timur Tengah Baru” telah gagal sebelum sempat mapan, karena perlawanan sejati tidak lahir dari meja konferensi, melainkan dari tanah yang terluka dan rakyat yang menolak menyerah.
Badai Al‑Aqsa bukan hanya operasi; ini adalah deklarasi bahwa zaman penipuan telah berakhir. Dunia kini tahu, bahwa kekuatan yang dibangun di atas ketidakadilan tidak pernah abadi, dan sejarah selalu berpihak pada mereka yang berdiri di sisi kebenaran, betapapun kecilnya mereka di mata dunia.
