Jeritan Pena yang Dibungkam: Media Global Desak Akses ke Gaza Pascagencatan Senjata
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, dalam atmosfer gencatan senjata yang masih menyisakan bara penderitaan, dunia menyaksikan keheningan yang bukan hanya hasil dari dentuman rudal yang terhenti, melainkan juga dari suara kebenaran yang dibungkam dengan sengaja. Wartawan internasional kini angkat suara, menuntut hak untuk menyaksikan langsung luka Gaza, yang selama dua tahun terakhir menjadi medan pembantaian paling brutal terhadap para jurnalis dalam sejarah modern.
Lebih dari 250 wartawan Palestina telah gugur syahid sejak agresi penjajah Zionis meletus pada Oktober 2023. Namun hingga kini, Rezim Pendudukan Israel tetap menutup rapat pintu Gaza dari pantauan media asing. Wartawan yang diperbolehkan masuk hanyalah mereka yang bersedia mengikuti narasi resmi, digiring dalam “tur propaganda” oleh Militer Pendudukan, di bawah sorotan senjata dan pengawasan ketat.
Dalam pernyataan terbaru pada Jumat 10 Oktober lalu, Asosiasi Pers Asing (FPA) mengecam keras blokade terhadap media dan menuntut agar entitas Zionis segera membuka perbatasan untuk akses bebas dan independen ke Jalur Gaza. FPA mencatat bahwa Mahkamah Agung Israel bahkan akan menggelar sidang pada 23 Oktober mendatang untuk menanggapi gugatan yang telah lebih dari setahun dibiarkan mengendap, sebuah penundaan yang menggambarkan betapa hak publik terhadap informasi dianggap sepele oleh otoritas penjajah.
Peluru yang Mengincar Mikrofon
Sementara dunia bicara tentang “dehumanisasi”, jurnalis Palestina telah hidup di tengahnya. Mereka bukan hanya saksi, melainkan juga korban langsung dari mesin pembunuh kolonial. Menurut laporan Committee to Protect Journalists (CPJ), sebanyak 197 jurnalis Palestina telah dibunuh selama dua tahun terakhir, namun sumber lain menyebut angka sebenarnya melebihi 250 jiwa.
Pada 25 Agustus 2025, dua nama kembali masuk dalam daftar panjang syuhada pena, Mariam Dagga, jurnalis muda dari AP dan Independent Arabia, serta Hussam al-Masri dari Reuters. Keduanya gugur dalam serangan pengecut Rezim Zionis di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, simbol nyata bahwa tak ada tempat aman, bahkan di fasilitas medis.
Di medan lain, para jurnalis di Lebanon Selatan juga menjadi sasaran. Sejak Oktober 2023, serangkaian serangan Israel telah menewaskan sedikitnya enam jurnalis, termasuk Farah Omar dan Rabih Me’mari dari Al Mayadeen, serta tiga pejuang media dari Al-Manar yaitu Ghassan Najjar, Mohammad Reda, dan Wissam Qassem. Mereka gugur dalam tugas, ketika lokasi mereka yang bertanda “PRESS” dihantam rudal Zionis secara langsung.
Investigasi mendalam oleh AFP, Airwars, dan bahkan PBB mengungkap bahwa amunisi yang digunakan adalah senjata khusus Militer Zionis, dan tak ada pertempuran yang terjadi saat serangan diluncurkan, sebuah bukti kuat bahwa para jurnalis ini dibunuh secara sengaja.
Kebebasan Pers atau Ilusi di Tengah Api?
Penjajah boleh mencoba membungkam kamera dan mikrofon, tetapi tuntutan akan kebenaran tak bisa dihilangkan. Pada Juli 2025, empat raksasa media dunia AFP, AP, BBC, dan Reuters mengeluarkan pernyataan bersama menuntut agar akses internasional ke Gaza segera dibuka. Seruan serupa telah datang sejak awal 2024 dari 30 lebih media global termasuk The Guardian.
Bahkan Asosiasi Jurnalis Arab dan Timur Tengah (AMEJA) menuntut pembebasan jurnalis Amerika, Emily Wilder, yang ditahan hanya karena berani bergabung dalam konvoi kemanusiaan “Hati Nurani” yang mencoba masuk ke Gaza melalui laut.
“Pelaporan independen di Gaza sangat penting untuk transparansi, akuntabilitas, dan pemahaman global terhadap krisis kemanusiaan,” tegas FPA dalam pernyataannya.
Kini, dengan dentuman bom yang (sementara) berhenti, tekanan kembali mengarah ke Tel Aviv. Dunia menanti apakah Rezim Zionis bersedia membuka tabir kebohongan dan membiarkan cahaya kebenaran menembus puing-puing Gaza. Atau, apakah dunia akan kembali membiarkan pembantaian ini dilanjutkan dalam diam, sementara wartawan sebagai pejuang garis depan informasi terus diburu dan dibungkam.
