Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Washington Post Beberkan Tikaman Belati Negara-negara Arab ke Punggung Gaza

Washington Post Beberkan Tikaman Belati Negara-negara Arab ke Punggung Gaza

POROS PERLAWANAN – Surat Kabar Washington Post dalam laporannya menyoroti bantuan yang diberikan oleh negara-negara Arab kepada rezim Zionis selama perang melawan Gaza.

“Dokumen yang berasal dari AS menunjukkan bahwa pejabat militer Israel dan beberapa negara Arab dalam beberapa tahun terakhir, bahkan di puncak perang di Gaza, telah menjalin kerja sama yang luas dengan perantara komando pusat militer AS (CENTCOM). Kerja sama ini mencakup pertemuan, latihan, dan pertukaran informasi mengenai ancaman regional, Iran, dan terowongan bawah tanah,” kutip Fars dari Washington Post.

Meskipun negara-negara Arab penting secara terbuka telah mengutuk perang di Gaza, dokumen ini menunjukkan bahwa hubungan militer mereka dengan Israel telah berkembang secara diam-diam. Kerja sama ini sempat mengeruh setelah serangan udara Israel terhadap Qatar pada September 2024, namun kini dapat memainkan peran penting dalam mengendalikan eskalasi baru di Gaza.

Selama tiga tahun terakhir, petinggi militer Israel dan enam negara Arab di Bahrain, Mesir, Yordania, dan Qatar mengadakan rapat perencanaan bersama. Kesepakatan awal antara Israel dan Hamas juga mencakup pembebasan kelompok-kelompok dan penarikan sebagian pasukan Israel dari Gaza. AS telah mengirim 200 tentara ke Israel untuk mendukung pelaksanaan gencatan senjata ini, dan tentara dari negara-negara Arab yang berpartisipasi juga akan bergabung dengan mereka.

Sebelum pengumuman resmi oleh AS, negara-negara Arab yang terlibat mendukung rencana 20 poin Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza. Rencana tersebut mencakup partisipasi Arab dalam pembentukan pasukan internasional untuk melatih pasukan polisi Palestina di Gaza. Lima dari enam negara Arab dalam pernyataan bersama menyatakan dukungan mereka terhadap pembentukan mekanisme untuk menjamin keamanan semua pihak, tetapi tidak secara terbuka berkomitmen untuk mengirim pasukan.

Qatar, yang Ibu Kotanya menjadi sasaran serangan rudal Israel pada September lalu, termasuk di antara negara-negara yang memperkuat hubungan militernya dengan Israel. Pada bulan Mei 2024, pejabat militer Israel dan Arab bertemu di pangkalan udara al-Udeid di Qatar. Dokumen menunjukkan bahwa delegasi Israel terbang langsung ke pangkalan udara tersebut, karena kedatangan mereka melalui rute-rute nonmiliter berpotensi bocor ke publik.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, setelah tekanan dari Trump, pada September meminta maaf kepada Qatar dan mengatakan serangan serupa tidak akan terjadi di masa depan. Dokumen menunjukkan bahwa ancaman Iran merupakan faktor utama dalam mendekatkan kedua negara ini, dan CENTCOM memainkan peran sentral dalam kerja sama ini.

Lima presentasi PowerPoint yang dianalisis oleh Konsorsium Jurnalis Investigasi Internasional (ICIJ) mengungkapkan detail pembentukan “struktur keamanan regional”. Negara-negara yang terlibat meliputi Israel, Qatar, Bahrain, Mesir, Yordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Kuwait dan Oman juga disebut sebagai “mitra potensial”.

Latihan militer mencakup pelatihan untuk melacak dan menghancurkan terowongan bawah tanah yang digunakan Hamas melawan tentara Israel. Pertemuan lain juga diadakan untuk menanggapi narasi Iran soal dukungannya terhadap Palestina.

Kendati ada perluasan kerja sama militer, negara-negara Arab mengecam serangan Israel di Gaza. Mesir, Yordania, Qatar, dan Arab Saudi menyebutnya sebagai “pembantaian”, dan pejabat Qatar menggambarkan serangan Israel ke Gaza sebagai “perang pembantaian terhadap rakyat Palestina”. Kontradiksi ini, menurut dokumen, dikelola secara rahasia dan tidak dimaksudkan untuk membentuk aliansi resmi.

Rencana utama kerja sama ini adalah membuat sistem pertahanan udara untuk menghadapi rudal dan drone Iran. Sejak tahun 2022, Israel dan negara-negara Arab telah mencapai kesepakatan dalam konferensi keamanan untuk menyediakan latihan militer bersama dan peralatan yang diperlukan untuk sistem ini. Hingga tahun 2024, CENTCOM berhasil menghubungkan banyak negara mitra ke sistem ini dan berbagi data radar dan sensor antara mereka dan AS.

Namun demikian, sistem pertahanan udara tidak dapat mendeteksi serangan Israel pada bulan September terhadap Qatar, karena sistem radar umumnya difokuskan pada ancaman dari Iran dan wilayah-wilayah yang menjadi prioritas.

Arab Saudi memainkan peran aktif dan membagikan informasi politik dan militer terkait Suriah, Yaman, dan kelompok-kelompok bersenjata, yang terkait dengan Iran, kepada Israel dan mitra-mitra lainnya. Dokumen menunjukkan bahwa AS berusaha untuk mendekatkan hubungan antara Israel dan negara-negara Arab di tahun-tahun mendatang.

Kesepakatan awal antara Israel dan Hamas hanya mencakup tahap-tahap awal perdamaian, dan masalah-masalah yang lebih luas terkait pengelolaan Gaza masih belum jelas. Para analis keamanan percaya bahwa negara-negara Arab di sekitar Teluk Persia mungkin akan memberikan dukungan finansial dan diplomatik, namun kemungkinan besar mereka tidak akan melibatkan pasukan militer mereka dalam misi yang rumit dan berbahaya ini.

Dokumen tersebut juga menunjukkan bahwa negara-negara Arab di sekitar Teluk Persia, meskipun khawatir terhadap tindakan Israel yang “tidak terkendali”, tetap bergantung pada AS sebagai penjamin keamanan mereka dan masih mewaspadai Iran.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *