Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Darah yang Menjadi Cahaya: Wasiat Terakhir Jurnalis Syahid Saleh al-Ja’frawi

POROS PERLAWANAN – “Biarkan darah saya menjadi cahaya yang menggembar-gemborkan kebebasan.” Begitulah kata-kata terakhir Saleh al-Ja’frawi, sang pena perlawanan, sebelum tubuhnya diselimuti tanah Gaza yang ia bela dengan setiap tetes napasnya. Wartawan dan pejuang kata ini gugur syahid setelah menjadi sasaran pembunuhan keji oleh kelompok bersenjata yang didukung langsung oleh Rezim Pendudukan Zionis.

Dilansir Press TV, surat wasiat Ja’frawi yang dirilis Selasa 14 Oktober lalu, bukan sekadar pesan perpisahan, melainkan deklarasi iman dan keberanian. Di dalamnya, Ja’frawi menulis dengan keyakinan yang menyala, bahwa kematian bukan akhir, melainkan kelanjutan dari jalan pengorbanan menuju kemerdekaan. Ia menggemakan pesan jurnalis syahid lainnya, Anas al-Sharif, seraya menegaskan “Buat darah saya cahaya yang menerangi jalan kebebasan bagi rakyat saya.”

Sumber-sumber Palestina menyebut para pembunuhnya berasal dari kelompok yang berafiliasi dengan keluarga Daghmash, jaringan milisi yang diakui sendiri oleh Benyamin Netanyahu sebagai penerima dukungan dan persenjataan dari Tel Aviv untuk menekan Gerakan Perlawanan di Gaza. Dengan demikian, pembunuhan al-Ja’frawi bukan hanya kejahatan acak, melainkan bagian dari strategi Pendudukan untuk membungkam suara kebenaran.

Namun, mereka yang mengira dapat memadamkan suara Palestina salah besar. Ja’frawi menulis: “Kebenaran adalah saksi abadi, ia berdiri di sisi Gaza dan menentang mereka yang memilih diam.” Dengan kalimat itu, ia mengubah tintanya menjadi peluru, dan darahnya menjadi obor bagi kebebasan.

Sebelum gugur, al-Ja’frawi menerima ancaman dan fitnah, tapi tak pernah berhenti menyampaikan kisah rakyatnya, di mana anak-anak yang kehilangan rumah, ibu yang mencari putranya di bawah reruntuhan, dan bumi Gaza yang terus bergetar di bawah bom.

Kini namanya sejajar dengan ratusan jurnalis dan lebih dari 67.500 syuhada Palestina yang dibantai dalam perang genosida sejak 7 Oktober 2023. Namun sebagaimana ia tulis sendiri bahwa darahnya bukan tangisan, melainkan cahaya. Hingga cahaya itulah yang kini memandu bangsa Palestina menuju fajar kebebasan yang semakin dekat.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *