Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Sharm el-Sheikh: Opera Ketiga dari Tragedi Trump

POROS PERLAWANAN — Ketika panggung diplomasi dunia disulap menjadi arena ego pribadi, Sharm el-Sheikh tampil bukan sebagai konferensi perdamaian, melainkan episode ketiga dari serial panjang “Trump and His Delusions of Grandeur”.

Setelah kabut propaganda media Barat perlahan menyingkap, tersisa hanya satu hal yang jelas, bahwa “KTT Perdamaian” ini bukan pertemuan para pemimpin, melainkan audisi massal bagi mereka yang rela menjadi figuran di panggung kekuasaan Donald Trump.

Diplomasi Bergaya Reality Show

Lebih dari dua puluh negara disebut hadir, tapi yang berbicara hanya satu. Seolah dunia hadir bukan untuk berdiskusi, tapi untuk menyimak monolog seorang presiden yang masih menganggap politik global sebagai acara televisi primetime.

Iran, Tiongkok, dan Rusia menolak hadir, bukan karena diundang terlambat, melainkan karena mereka tahu teater jika mereka melihatnya.

Para pemimpin yang hadir? Mereka tak lebih dari dekorasi panggung, tersenyum kaku di antara lampu sorot, menunggu giliran difoto, bukan didengar.

Ketika Etika Diplomasi Tersesat di Lobi Hotel

Di tengah acara yang seharusnya penuh kehormatan, Trump memeragakan kembali gaya khasnya, menggantikan etika diplomatik dengan sarkasme pasar. Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi, sang tuan rumah, dibuat kehilangan warna di wajahnya ketika Trump enggan berjabat tangan. Kepada Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, ia bertanya seolah belum pernah mendengar nama negaranya: “Inggris? Siapa perwakilan mereka?”

Macron bahkan menjadi korban diet diplomasi versi Trump, disentil soal tubuh kurusnya di hadapan kamera. Sementara Giorgia Meloni mendapat “pujian” yang lebih mirip pelecehan verbal.

Spesial untuk pejabat Uni Emirat Arab, Trump mengabadikan satu kalimat yang akan tercatat dalam sejarah kebodohan diplomatik modern: “Uang yang banyak. Uang yang tak terbatas!”

Inilah politik luar negeri versi Wall Street, di mana nilai manusia diukur dengan saldo cadangan devisa.

Media Barat: Panggung, Bukan Penonton

Media Barat pun memainkan perannya dengan terampil, menyebut semua ini sebagai “forum bersejarah”. Tentu saja bersejarah. Tidak setiap hari dunia menyaksikan 20 kepala negara berbaris seperti peserta kontes kecantikan politik, hanya untuk disuruh berfoto oleh satu pria yang percaya bahwa perdamaian bisa dicapai dengan kontrak dan kamera.

Kritik dari Timur dan Barat

Dari Teheran hingga London, suara kritik kemudian bergema.

Koresponden BBC menulis getir: “Jika Iran hadir, mereka akan dipermalukan”.

Seorang reformis Iran di pengasingan, Akbar Ganji menyindir: “Sharm el-Sheikh bukan forum diplomasi, tapi ritual pemujaan Trump.”

Bahkan dari Barat sendiri, sinisme terdengar lembut tapi mematikan.

Macron menyebut rencana Trump “penuh ambiguitas”. Robert Malley menilai “tak realistis”, sementara Fareed Zakaria, dengan elegansi khasnya, menyimpulkan, “Tidak ada yang dinegosiasikan di sini selain citra pribadi.”

Paradoks Seorang Penyelamat Palsu

Trump berbicara tentang “rekonstruksi Gaza” dengan mulut yang sama yang sebelumnya memerintahkan warga Gaza untuk “pergi atau mati”. Ia menepuk pundak Netanyahu sambil berkata: “Anda melakukan pekerjaan hebat,” tanpa menyinggung bahwa “pekerjaan” itu menewaskan puluhan ribu jiwa.

Dari 21 miliar Dolar bantuan Amerika kepada Israel, sebagian besar menguap menjadi asap mesiu, bukan benih perdamaian. Lalu kini Trump datang membawa proposal perdamaian?

Itu seperti serigala yang menawarkan diri menjadi penjaga kandang domba, dengan janji akan “mengatur populasi”.

Iran dan Logika Moral yang Tetap Konsisten

Iran menegaskan satu prinsip yang tampaknya terlalu rumit bagi politisi Barat. Bahwa perdamaian sejati tidak lahir dari gencatan senjata, tetapi dari keadilan. Bahwa selama dunia masih menyebut Rezim Pendudukan sebagai “demokrasi”, tidak ada solusi yang layak disebut damai.

Sejarah sudah berbicara. Dari Camp David hingga Oslo, dari Madrid hingga dua Sharm el-Sheikh sebelumnya, semuanya gagal karena satu penyakit kronis, yaitu keangkuhan yang menolak mengakui hak korban.

Di panggung teater ini, di mana posisi Indonesia?

Prabowo tampak memainkan peran broker geopolitik dengan senyum penuh kalkulasi.

Dalam dunia multipolar, ia tahu bahwa ideologi sudah usang, yang penting adalah siapa yang paling cepat menandatangani MoU. Diplomasi, dalam versinya, tampak seperti leasing agreement, dengan opsi beli bila modal sudah kembali.

Epilog: Aib yang Dibungkus Panggung

Maka berakhirlah episode ketiga dari trilogi aib politik Trump, setelah Kabul dan Baghdad, kini Sharm el-Sheikh. Trump datang membawa “perdamaian”, tapi meninggalkan jejak kesembronoan dan arogansi yang mempermalukan sekutunya sendiri.

Perdamaian sejati tak memerlukan tepuk tangan, apalagi kamera. Apa yang terjadi di Sharm el-Sheikh akan tercatat bukan sebagai titik balik sejarah, melainkan sebagai catatan kaki tentang bagaimana dunia, sekali lagi, bertepuk tangan untuk kebodohan yang bersetelan jas necis dan rapi.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *