Tahanan Palestina yang Dibebaskan: Saya Terlahir sebagai Orang Merdeka dan Selalu Berupaya Kabur dari Penjara Israel
POROS PERLAWANAN – Dalam wawancara eksklusif dengan al-Mayadeen, Mahmoud al-Arida, tahanan Palestina yang dibebaskan, menjelaskan penyiksaan dan perlakuan kejam yang dialami tahanan Palestina di penjara Israel. Ia juga menceritakan pelariannya dari Penjara Gilboa bersama rekan-rekannya dalam Operasi Terowongan Kebebasan, dan menyerukan dukungan yang kuat untuk perjuangan Palestina.
Al-Arida menegaskan bahwa semua sarana komunikasi telah diputus sepenuhnya, dan para tahanan yang terlibat dalam Operasi Terowongan Kebebasan (upaya pelarian dari Penjara Gilboa pada tahun 2021) diisolasi dari tahanan lain untuk mencegah informasi bocor ke luar.
Al-Arida mengatakan bahwa selama kesepakatan pertukaran tahanan sebelumnya, Otoritas Israel telah memberitahunya bahwa dia akan dibebaskan. Tetapi malah dia dibawa keluar dan dipukuli, hanya untuk mengetahui bahwa semua itu tidak benar.
“Kami mendengar tentang pemukulan, penyiksaan, pengikatan, dan penjaga penjara memamerkan di depan tahanan tentang merobek Alquran,” kata al-Arida. Dia menyoroti bahwa Direktur penjara tidak dapat menentang keputusan penjaga, lantaran Menteri Keamanan Domestik Israel, Itamar Ben-Gvir, mengatakan kepada mereka, “Lakukan apa pun yang kalian inginkan, asalkan tidak di depan kamera pengawas.”
Selain itu, ia menjelaskan bagaimana Ben-Gvir mengunjungi penjara al-Naqab untuk secara langsung memantau perlakuan terhadap tahanan dan mengawasi operasi penyiksaan.
Al-Arida mengungkapkan bahwa pada hari ia diberi tahu akan dibebaskan, dia keluar dari penjara Megiddo selama satu hari.
“Saya bertemu dengan tahanan lain dan terkejut dengan semangat mereka yang tinggi.”
“Saya hidup sebagai orang bebas yang menolak pendudukan. Sejak detik pertama penangkapan saya, saya berusaha untuk melarikan diri. Tidak ada satu menit pun berlalu tanpa saya memikirkannya.”
Tahanan yang dibebaskan itu mengingat bahwa pada hari Operasi Badai al-Aqsa, suara ledakan menggema di wilayah tersebut. “Ketika kami melihat rekaman serangan Brigade al-Qassam, kami merasa sangat gembira.”
Menurut al-Arida, perasaan meninggalkan saudara-saudara di penahanan sangatlah sulit, terutama para pemimpin, orang sakit, dan khususnya Yaaqoub Qadri (salah satu rekan al-Arida dalam Operasi Terowongan Kebebasan) yang membutuhkan perawatan medis.
“Kami memegang harapan besar bahwa Marwan Barghouti dan pemimpin lain seperti [Ahmad] Sa’adat akan dibebaskan, karena hal itu akan menjadi titik balik yang besar.”
Menyikapi kabar duka tentang syahidnya para pemimpin, dia menyatakan keyakinan yang teguh bahwa pengorbanan besar semacam itu membuka jalan menuju kemenangan. Ia berkata bahwa rakyat Gaza melakukan pengorbanan mereka untuk membawa kebahagiaan bagi orang lain. Oleh karena itu merupakan suatu kewajiban untuk merayakannya, yang memungkinkan mereka melihat hasil dari pengorbanan mereka.
Saat menceritakan detail Operasi Terowongan Kebebasan, al=Arida menjelaskan bahwa ia sempat mempertimbangkan untuk menutup terowongan setelah gerbang rusak. Namun ia menemukan bahwa “plat yang rusak sebenarnya justru menguntungkan kami.”
Ia menjelaskan bahwa saat mereka menembus beton dan masuk ke bawah tanah, mereka merasa bebas sejak saat itu juga.
Ia menekankan bahwa ia tidak pernah menyesali operasi tersebut, menyoroti bahwa operasi itu menjadi pesan yang kuat dan banyak orang mengakui dampaknya yang signifikan terhadap perjuangan Palestina.
Ia mengakhiri wawancara dengan al-Mayadeen dengan seruan untuk solidaritas terhadap perjuangan Palestina, Ia menegaskan bahwa setiap orang di negara ini memiliki peran untuk dimainkan dalam mewujudkan harapan bersama mereka untuk merdeka.
