Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Trump Kembali Berpaling dan ‘Merapat’ kepada Putin, Eropa dan Zelensky Dipermalukan

POROS PERLAWANAN – Dalam langkah mengejutkan lainnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump tampak kembali merapat ke arah Presiden Rusia, Vladimir Putin. Sambil menyindir Eropa dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat tidak akan mengirimkan rudal Tomahawk ke Ukraina dan berencana mengadakan pertemuan dengan Putin di Hongaria.

Kepribadian Trump yang dikenal narsistik dan mudah berubah arah, sekali lagi menunjukkan ketidakstabilannya dalam menentukan sikap terhadap perang Ukraina. Sebelum pemilihan presiden, Trump sempat menyatakan bahwa jika terpilih, ia akan menghentikan dukungan AS terhadap Ukraina dan mengakhiri perang hanya dalam satu hari. Namun, setelah lebih dari sembilan bulan berlalu, perang masih terus berkecamuk, sementara Trump beberapa kali berbalik arah dari pernyataan-pernyataannya sendiri.

Beberapa kali ia menyebut akan menangguhkan bantuan militer ke Kiev, tetapi kemudian justru mengirimkannya kembali. Ia juga pernah menyatakan bahwa Ukraina tidak akan mampu merebut kembali wilayah yang telah dikuasai Rusia, namun di waktu lain kembali mendorong Zelensky untuk melancarkan ofensif baru dengan dukungan NATO. Bahkan, tokoh yang dulu keras mengkritik keputusan Presiden Biden mengirim rudal ke Ukraina ini, bulan lalu justru mengumumkan pengiriman rudal jarak jauh Tomahawk ke Kiev.

Langkah tersebut segera menuai kecaman dari Moskow. Presiden Putin bahkan memperingatkan bahwa pengiriman rudal semacam itu akan membuat hubungan Rusia–AS “tidak dapat dipulihkan lagi”.

 

Trump: “Tidak Ada Rudal”

Trump, dengan gaya khasnya yang inkonsisten, kembali membalikkan posisi secara dramatis. Usai berbicara melalui telepon dengan Putin, dan menjelang pertemuannya dengan Zelensky di Gedung Putih, Trump mengumumkan bahwa pengiriman rudal Tomahawk ke Ukraina dibatalkan.

Dalam konferensi pers pada Kamis malam, Trump menyebut percakapan telepon dengan Putin itu “sangat produktif”. Ia mengeklaim bahwa kedua pihak sepakat untuk segera bertemu guna membahas jalan keluar bagi perang Ukraina.

“Kami juga membicarakan kerja sama perdagangan antara Rusia dan Amerika Serikat setelah perang berakhir,” ujar Trump. “Kami sepakat untuk mengadakan pertemuan antara para penasihat utama minggu depan. Dari pihak AS, Menteri Luar Negeri Marco Rubio akan memimpin delegasi, bersama sejumlah pejabat lain yang akan diumumkan kemudian.”

Trump menambahkan bahwa dirinya dan Putin akan bertemu langsung di Budapest, Hongaria, untuk “melihat apakah perang yang memalukan ini bisa segera diakhiri”.

Ketika ditanya wartawan mengenai nasib rudal Tomahawk, Trump menjawab dengan nada santai: “Rudal-rudal itu tidak akan dikirim ke Ukraina. Amerika membutuhkannya sendiri, dan kami tidak akan menghabiskan cadangan nasional kami.”

 

Kejutan bagi Zelensky dan Eropa

Pernyataan Trump itu menjadi tamparan ganda bagi Zelensky dan Uni Eropa. Presiden Ukraina tersebut dijadwalkan bertemu Trump di Gedung Putih sehari setelah panggilan telepon Trump–Putin. Laporan awal menyebut bahwa agenda utama pertemuan itu seharusnya membahas finalisasi pengiriman rudal Tomahawk.

Dengan langkah mengejutkan menelepon Putin dan mengumumkan pertemuan di Hongaria, Trump secara efektif menunjukkan kepada Zelensky bahwa ia tidak menganggap serius komitmen atau kesepakatan sebelumnya.

Ironisnya, dalam beberapa pekan terakhir Trump juga menekan Uni Eropa agar memutus hubungan dagang dengan Rusia, tetapi justru membicarakan peluang perluasan perdagangan dengan Putin dalam percakapan telepon yang sama.

Rencana pertemuan di Hongaria semakin menegaskan sikap Trump yang tidak memedulikan sentimen Eropa maupun posisi NATO. Waktu pengumuman pertemuan ini pun berdekatan dengan serangan drone dan jet Rusia di langit Eropa, seolah menjadi pesan simbolik bahwa Trump kini menempatkan Eropa di posisi sekunder dalam prioritas kebijakannya.

 

Axios: Zelensky Terkejut

Situs berita Axios melaporkan bahwa Zelensky terkejut mendengar kabar percakapan Trump–Putin tersebut. Menurut laporan itu, Trump tidak hanya membuat para analis terperangah, tetapi juga membuat Zelensky kelabakan, karena pengumuman tersebut muncul tepat ketika dirinya baru tiba di Washington.

Zelensky disebut sempat menyatakan optimismenya terhadap “kesediaan Presiden AS mengirimkan rudal jarak jauh Tomahawk”. Namun, hanya beberapa menit setelah mendarat di Pangkalan Udara Andrews, Trump menulis di media sosial bahwa ia telah berbicara dengan Putin dan sepakat untuk bertemu di Budapest, Ibu Kota negara yang dikenal paling bersimpati kepada Rusia di Uni Eropa.

Axios menggambarkan berita itu sebagai “seperti hujan salju yang mengguyur tim Zelensky”.

Kunjungan yang diharapkan menghasilkan kesepakatan senjata baru kini justru berpotensi menenggelamkan prioritas Kiev di Gedung Putih.

Trump sebelumnya juga pernah mengatakan bahwa Zelensky akan memintanya menyetujui transfer rudal Tomahawk. Namun kini, suasana baru dalam hubungan Washington–Moskow membuat keputusan itu semakin sulit diambil.

 

The Telegraph: Tamparan bagi Uni Eropa

Surat kabar The Telegraph menulis bahwa rencana pertemuan Putin–Trump di Hongaria akan menjadi pukulan telak bagi Uni Eropa. Dalam laporannya, media Inggris itu menulis: “Pertemuan antara Putin dan Trump di Budapest merupakan penghinaan besar bagi Eropa sekaligus kemenangan simbolik bagi Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orbán, yang kini tampil sebagai mediator dalam isu Ukraina, sementara Uni Eropa justru tersisih dari proses perundingan.”

Manuver terbaru Donald Trump memperlihatkan pola lama: politik luar negeri yang didorong oleh ego dan kalkulasi pribadi, bukan konsistensi strategis.

Dengan mempermalukan Eropa dan membuat Zelensky kehilangan pijakan diplomatik, Trump sekali lagi menegaskan bahwa “Trumpisme” lebih loyal pada dramanya sendiri ketimbang pada sekutu-sekutu tradisional Amerika.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *