Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Retorika Baru Utusan Khusus AS untuk Suriah Soal Senjata Hizbullah

POROS PERLAWANAN — Retorika lama dengan kemasan baru kembali terdengar dari Washington. Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Suriah, Tom Barak, kembali menegaskan sikap intervensionis terhadap Kelompok Perlawanan Lebanon, Hizbullah.

Mengutip laporan Al Jazeera, pada Senin 20 Oktober, Barak menyatakan bahwa Lebanon kini berada di persimpangan jalan: melucuti senjata Hizbullah atau bersiap menghadapi konflik militer dengan Rezim Zionis Israel.

Menurut Barak, pelucutan senjata Hizbullah bukan hanya “kebutuhan keamanan bagi Israel”, melainkan juga “peluang bagi Lebanon”. Ia bahkan menyebut, mitra regional siap berinvestasi di Lebanon asalkan negara itu membatasi kepemilikan senjata hanya pada Angkatan Bersenjatanya, sebuah janji yang terdengar lebih seperti tekanan politik ketimbang tawaran ekonomi.

Pernyataan Barak ini bukan kali pertama menunjukkan tangan intervensi Washington dalam urusan internal Lebanon. Retorika serupa kerap muncul setiap kali tensi militer meningkat di perbatasan selatan, seolah menjadi pola tetap untuk menekan Kelompok Perlawanan di bawah dalih stabilitas regional.

Respons Hizbullah: “Kami Siap Hadapi Segala Kemungkinan”

Menanggapi eskalasi wacana tersebut, Hizbullah menyatakan kesiapan penuh menghadapi segala bentuk ancaman.

Mengutip Kantor Berita Mehr melalui saluran Al-Manar, petugas Humas Hizbullah di wilayah Bekaa, Ahmad Riya menegaskan bahwa Perlawanan Lebanon telah membangun kembali kekuatan dan kapasitasnya.

“Perlawanan di Lebanon belum terkalahkan dan siap menghadapi tantangan serta kemungkinan apa pun,” ujar Riya.

Ia menambahkan bahwa kesiapan ini merupakan hasil pengalaman panjang dan upaya berkelanjutan Hizbullah dalam mempertahankan pencegahan terhadap musuh Zionis.

Pernyataan tersebut memperkuat posisi Hizbullah sebagai aktor militer dan politik yang tidak mudah ditundukkan oleh tekanan eksternal, baik dari Washington maupun Tel Aviv.

Analisis Singkat: Tekanan Lama dalam Kemasan Baru

Ucapan Barak mengingatkan pada strategi klasik AS di Timur Tengah: menggunakan narasi keamanan untuk melanggengkan pengaruh politik. Di balik wacana pelucutan senjata, terselip kepentingan mempertahankan keunggulan Militer Israel dan menekan kekuatan Perlawanan yang dianggap mengganggu tatanan hegemonik Kawasan.

Sementara di lapangan, situasi justru menunjukkan sebaliknya: Hizbullah tetap eksis, solid, dan secara terbuka menyatakan kesiapan menghadapi skenario terburuk. Dengan kata lain, retorika Washington tampak lebih sebagai propaganda tekanan daripada peta jalan damai.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *