Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Meluasnya Gelombang Unjuk Rasa, Ancang-ancang Perang Saudara Amerika?

POROS PERLAWANAN — Luasnya gelombang unjuk rasa, dari kota-kota besar di pesisir seperti New York dan Los Angeles hingga kota-kota kecil dan daerah pedesaan, menunjukkan bahwa ketidakpuasan terhadap kebijakan Pemerintahan Trump tidak lagi terbatas pada basis tradisional Partai Demokrat.

Menurut laporan Kantor Berita Tasnim, pada Selasa 21 Oktober, Amerika Serikat menyaksikan salah satu mobilisasi protes terbesar dalam sejarah modernnya pada Sabtu 18 Oktober. Hampir tujuh juta orang turun ke jalan di lebih dari 2.600 lokasi di seluruh negeri, mengusung slogan utama “No Kings”.

Aksi yang digambarkan sebagai belum pernah terjadi sebelumnya dari segi skala maupun penyebaran geografis itu, mencerminkan kekhawatiran yang mendalam dan terus berkembang di berbagai lapisan masyarakat Amerika, terutama di kalangan independen moderat. Mereka menilai Pemerintahan Presiden Donald Trump menunjukkan “kecenderungan otoriter” dan “korupsi yang merajalela”.

Kerumunan besar, nyanyian yang menggema, dan yang paling simbolis, adalah nama demonstrasi itu sendiri (No Kings), menandakan terbentuknya bipolaritas yang kian dalam di Amerika Serikat: di satu sisi Trump dan para pendukungnya, di sisi lain mereka yang menentangnya. Dalam konteks ini, peringatan tentang kemungkinan perang saudara Amerika, seperti yang pernah diutarakan oleh mantan Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, terasa semakin nyata.

Demonstrasi besar-besaran yang dipimpin oleh organisasi seperti Gerakan Indivisible bukan semata-mata protes politik, melainkan pernyataan sipil yang kuat, sebuah kritik tajam terhadap struktur kekuasaan yang semakin asimetris di Amerika. Para pengunjuk rasa, mengenakan warna merah, putih, dan biru dari bendera nasional, serta membawa boneka-boneka tiup simbolis, menyuarakan penolakan mereka terhadap pemusatan kekuasaan.

Para pemimpin senior Partai Demokrat menyatakan dukungan terhadap gerakan tersebut, sementara Partai Republik menudingnya sebagai “unjuk rasa kebencian terhadap Amerika”. Pertukaran tuduhan ini semakin menegaskan dalamnya jurang politik di tengah masyarakat Amerika, jurang yang kini melampaui batas klasik antara Demokrat dan Republik.

Luasnya aksi, dari metropolis pesisir hingga pelosok pedesaan, menjadi bukti bahwa ketidakpuasan terhadap Pemerintahan Trump meluas lintas ideologi dan demografi. Meskipun slogan “No Kings” diarahkan langsung kepada Trump, isi poster dan seruan para demonstran mengungkapkan bahwa motivasi mereka jauh melampaui penolakan terhadap satu individu. Di baliknya tersimpan kegelisahan terhadap perubahan mendasar dalam tatanan kelembagaan Amerika.

Isu ini menimbulkan kecemasan di kalangan elite kekuasaan, baik yang tampak maupun tersembunyi, karena yang sedang tumbuh bukan hanya perlawanan terhadap seorang politisi, melainkan terhadap seluruh struktur Pemerintahan Amerika Serikat.

Kendati aksi kali ini berlangsung dengan nuansa sipil dan relatif tanpa kekerasan, potensi untuk berkembang menjadi konflik sosial berskala besar, bahkan perang saudara modern sepertinya tidak dapat diabaikan oleh siapa pun.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *