Komandan IRGC: Jika Iran Diserang, Kami Akan Ciptakan Neraka Bagi Musuh
POROS PERLAWANAN — Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, pada Selasa 21 Oktober menegaskan kesiapan penuh Iran untuk menanggapi secara tegas setiap bentuk agresi di masa depan. Ia memperingatkan: “Kami akan menciptakan neraka bagi musuh.”
Menurut laporan resmi IRGC yang dinukil oleh IRNA, pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan antara Mayor Jenderal Pakpour dan Penasihat Keamanan Nasional Irak, Qassim Al-Araji, beserta delegasinya. Pertemuan itu membahas situasi keamanan regional dan pelaksanaan perjanjian keamanan antara kedua negara.
Dalam sambutannya, Jenderal Pakpour menilai pertemuan ini sangat penting di tengah dinamika Kawasan, terutama di Irak, dan memperingatkan bahwa: “Musuh-musuh regional berupaya melemahkan persatuan internal negara-negara.”
Ia menyinggung Perang 12 Hari antara Iran dan Rezim Zionis, dengan menyatakan bahwa Israel berusaha menabur kekacauan dan menargetkan para komandan Iran untuk memecah persatuan nasional.
Namun, katanya, “Dengan kebijaksanaan Pemimpin Tertinggi Revolusi dan kewaspadaan bangsa, rencana ini sepenuhnya digagalkan.”
Menyoroti kemampuan pertahanan Iran selama konflik tersebut, Pakpour menegaskan bahwa kekuatan rudal Iran tidak hanya bertahan tetapi justru menunjukkan peningkatan efektivitas: “Musuh mengira kemampuan rudal kami akan menurun pada hari-hari awal, tetapi kami justru bertindak dengan kekuatan dan akurasi tinggi, menghantam seluruh target yang dituju.”
Ia kembali menekankan kesiapan penuh Iran untuk menghadapi setiap ancaman dan menyatakan dengan tegas: “Jika Iran diserang, kami akan menciptakan neraka bagi musuh.”
Jenderal Pakpour juga mengapresiasi peran Irak dalam menekan aktivitas kelompok-kelompok oposisi bersenjata selama konflik, dan menyerukan implementasi penuh perjanjian keamanan bilateral, termasuk pembentukan komite lapangan gabungan untuk memantau kawasan perbatasan.
“Kelompok-kelompok ini adalah ancaman bagi keamanan kedua negara dan harus dibendung melalui kerja sama langsung,” ujarnya.
Sementara itu, Qassim Al-Araji menyampaikan salam dari Presiden dan Perdana Menteri Irak kepada Jenderal Pakpour serta menegaskan kembali komitmen negaranya terhadap perjanjian keamanan Iran–Irak. Ia menekankan prinsip bahwa: “Keamanan Iran adalah keamanan Irak”.
Al-Araji menolak tegas segala bentuk penyalahgunaan wilayah Irak untuk aktivitas yang merugikan Iran, dan mengumumkan pembentukan komite gabungan untuk memantau implementasi perjanjian tersebut serta mencegah pergerakan ilegal di sepanjang perbatasan.
Menanggapi situasi di Gaza, ia juga memperingatkan bahwa Rezim Zionis kemungkinan besar akan melanggar gencatan senjata yang baru disepakati, sembari menegaskan: “Persatuan negara-negara Kawasan adalah kunci terciptanya perdamaian dan stabilitas.”
Dalam konteks Perang 12 Hari, ia menambahkan bahwa Israel berharap masyarakat Iran akan berbalik melawan sistemnya, namun yang terjadi justru sebaliknya, rakyat Iran memperlihatkan kesetiaan dan persatuan nasional yang semakin kuat.
Sebagai penutup, kedua pihak menekankan pentingnya memperkuat kerja sama keamanan dan mempercepat operasionalisasi perjanjian bilateral. Delegasi Irak menegaskan kembali komitmen moral dan politik mereka terhadap Iran, menyatakan bahwa kerja sama ini merupakan fondasi utama bagi keamanan bersama di Kawasan.
