Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Sisi Lain KTT ke-47 ASEAN: Perjalanan Kontroversial Trump ke Asia Timur Antara Diplomasi, Penghinaan, dan Perang Dagang

POROS PERLAWANAN — Di tengah krisis politik dalam negeri dan ekonomi global yang bergejolak, Presiden AS Donald Trump memulai tur Asia Timur yang sarat drama, dari penghinaan terhadap Qatar hingga konfrontasi terbuka dengan Tiongkok.

Krisis di Dalam Negeri, Ambisi di Luar Negeri

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memulai perjalanan luar negeri terpanjang pada masa jabatan keduanya di tengah situasi domestik yang genting. Washington masih terjebak dalam penutupan Pemerintah terlama dalam sejarah modern Amerika. Lebih dari satu juta pegawai Federal dirumahkan tanpa bayaran; program bantuan pangan nasional terhenti; dan Pemerintah bahkan bergantung pada donasi anonim untuk membayar sebagian gaji pegawai.

CNN melaporkan bahwa akibat penghentian program SNAP (sistem penanggulangan kelaparan terbesar di AS) sekitar 42 juta warga Amerika kini menghadapi risiko kekurangan pangan.

Di tengah krisis ini, Trump justru memilih untuk meninggalkan Washington menuju Asia Timur, menghadiri KTT ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur, diikuti kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan, dengan kemungkinan pertemuan puncak dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping di Gyeongju.

Momen Diplomatik yang Dibayangi Penghinaan

Perjalanan ini dimulai dengan insiden yang segera menjadi perbincangan global. Dalam penerbangan menuju Malaysia, pesawat kepresidenan AS berhenti di pangkalan Al-Udeid, Qatar, untuk mengisi bahan bakar. Pemerintah Qatar telah menyiapkan upacara penyambutan megah dan mewah, namun Trump menolak turun dari pesawat.

Pertemuan akhirnya berlangsung di dalam pesawat, dengan Emir Qatar naik ke pesawat Air Force One untuk menemui Trump. Sebuah pemandangan yang segera memicu kemarahan publik Arab dan ejekan di media sosial.

Banyak pengguna menggambarkan peristiwa itu sebagai “penghinaan simbolik” terhadap negara Teluk yang telah memberikan ratusan miliar Dolar investasi ke AS.

Absennya India dan Isyarat Geopolitik Baru

KTT ASEAN di Kuala Lumpur juga diwarnai ketidakhadiran Perdana Menteri India, yang memilih berpartisipasi secara virtual. Keputusan itu dibaca sebagai sinyal penolakan diplomatik terhadap tekanan Washington, terutama terkait hubungan dagang New Delhi dengan Moskow.

Beberapa analis di media India menilai langkah tersebut sebagai “pernyataan halus” bahwa India akan terus menempatkan kepentingan energinya di atas tekanan geopolitik AS.

Diplomasi Perdamaian yang Sarat Kepentingan

Trump hadir di KTT ASEAN dengan mengusung citra baru: pendamai global. Dalam salah satu sesi utama, ia menghadiri penandatanganan perjanjian damai antara Kamboja dan Thailand, dua negara yang sebelumnya berselisih di wilayah perbatasan.

“Saya memainkan peran kunci dalam menengahi perdamaian ini,” klaim Trump, seraya menekankan bahwa Washington siap menutup konflik serupa di kawasan lain.

Namun, analis dari Mehr News Agency pada Senin 27 Oktober, mencatat bahwa klaim tersebut berlebihan. Perjanjian tersebut merupakan hasil perundingan multilateral di bawah koordinasi ASEAN, dan Tiongkok juga terlibat dalam tahap awal prosesnya, meskipun Gedung Putih kemudian meminta Beijing dikecualikan dari upacara penandatanganan.

Demonstrasi di Kuala Lumpur dan Seoul

Kunjungan Trump ke Malaysia disambut dengan gelombang protes anti-Amerika di Kuala Lumpur. BBC melaporkan bahwa banyak warga Malaysia menentang kedatangan Trump karena dukungan Washington terhadap Israel dalam perang di Gaza.

Spanduk bertuliskan “Trump Not Welcome” memenuhi jalan-jalan utama Ibu Kota. Di Seoul, ratusan demonstran juga turun ke jalan menentang tekanan Washington agar Korea Selatan meningkatkan investasi di AS.

Protes di dua negara itu memperlihatkan jurang persepsi antara agenda ekonomi Trump dan opini publik di Asia.

Dari Retorika Perdamaian ke Realpolitik Ekonomi

Lembaga think tank Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai perjalanan ini membawa dua pesan utama:

Pertama, Trump ingin tampil sebagai pendamai. Kedua, ia tetap seorang negosiator bisnis yang agresif.

Setelah menghadiri perjanjian damai Kamboja–Thailand, Trump menandatangani paket perjanjian perdagangan baru dengan Malaysia, Thailand, dan Kamboja.

Menurut Reuters, AS akan mempertahankan tarif 19% untuk sebagian besar ekspor dari ketiga negara, namun membuka peluang kerja sama dalam rantai pasok mineral penting, sebuah langkah yang dipandang sebagai upaya membatasi dominasi Tiongkok di sektor tersebut.

Selain itu, dua komitmen investasi besar menjadi inti dari strategi ekonomi Trump:

1. Jepang berjanji berinvestasi USD 550 miliar di ekonomi AS.

2. Korea Selatan tengah menegosiasikan investasi USD 350 miliar, yang diharapkan difinalisasi selama kunjungan ini.

Sebagai imbalannya, Trump berjanji mengurangi tarif impor dari 25% menjadi 15%, menunjukkan sisi pragmatis yang jarang terlihat dari Presiden AS tersebut.

Bayang-bayang Beijing

Puncak dari perjalanan ini diharapkan terjadi di Korea Selatan, di mana Trump berencana bertemu Presiden Xi Jinping. Namun hingga kini Beijing belum mengonfirmasi pertemuan tersebut.

Kedua negara masih terjebak dalam perang dagang yang memanas. Trump telah mengancam tarif 100% baru terhadap barang-barang asal Tiongkok mulai 1 November, sebagai respons terhadap kebijakan Beijing memperluas kontrol ekspor unsur tanah jarang dan teknologi strategis.

“Kami mungkin akan membuat beberapa konsesi untuk menenangkan situasi,” ujar Trump kepada wartawan di pesawat kepresidenan, menandakan ruang negosiasi masih terbuka.

Namun, The Economist dalam laporannya pekan ini menulis bahwa “Tiongkok, sejauh ini, memenangkan perang dagang”, menyoroti kebangkitan daya tahan ekonomi Beijing di tengah tekanan tarif AS.

Diplomasi yang Berjalan di Atas Krisis

Perjalanan Trump ke Asia Timur bertepatan dengan KTT ke-47 ASEAN, namun maknanya melampaui forum tersebut. Dia memperlihatkan paradoks klasik politik luar negeri Amerika: menawarkan perdamaian di luar negeri sambil bergulat dengan krisis di dalam negeri.

Di satu sisi, Trump menampilkan diri sebagai pendamai dan mitra dagang strategis; di sisi lain, langkah-langkahnya menimbulkan gesekan baru dengan sekutu dan lawan.

Dengan penghinaan simbolik terhadap Qatar, absennya India, protes di Malaysia, dan ketegangan dengan Tiongkok, perjalanan ini menjadi potret mini dari politik luar negeri Trump: kombinasi antara diplomasi oportunistik dan ego politik yang menabrak tata krama internasional.

Analisis Redaksi

Perjalanan ini menunjukkan bagaimana Washington berupaya menegaskan kembali pengaruhnya di Asia Timur dalam konteks multipolar baru, di mana Beijing, Tokyo, dan bahkan New Delhi kini memainkan peran otonom.

Namun, cara Trump menjalankan diplomasi, yakni campuran antara transaksionalisme ekonomi dan ego personal, berisiko mengikis soft power Amerika di kawasan yang semakin sensitif terhadap simbol dan harga diri nasional.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *