Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Jenderal Jalali: Kota Rudal adalah Lambang Keberhasilan Model Pertahanan Pasif Hadapi Ancaman Musuh

POROS PERLAWANAN — Kepala Organisasi Pertahanan Pasif Nasional, Brigadir Jenderal Gholamreza Jalali menegaskan bahwa pendekatan almarhum Mayor Jenderal Syahid Amir Ali Hajizadeh dalam merancang dan membangun kota-kota rudal berdasarkan prinsip pertahanan pasif telah memungkinkan negaranya menegakkan kekuatan militer terhadap Rezim Zionis.

Mengutip laporan Kayhan pada Senin 27 Oktober, Jenderal Jalali dalam sebuah pertemuan yang dihadiri para pejabat serta keluarga para syuhada di Yayasan Urusan Syuhada dan Veteran, mengenang jasa para martir — khususnya para syuhada pertahanan nuklir dan pertahanan suci.

Dalam pidatonya, ia menyoroti dinamika Perang 12 Hari, dengan menyatakan bahwa “model pertahanan suci 12 hari mencerminkan pencapaian luar biasa sekaligus menyingkap sejumlah kerentanan. Dari perspektif pertahanan pasif, kelemahan-kelemahan tersebut, terutama pada sektor infrastruktur nasional, harus segera diperbaiki.”

Lebih lanjut, Jenderal Jalali menegaskan bahwa, sesuai ketentuan hukum, lembaga-lembaga eksekutif wajib melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh Kelompok Kerja Tetap Pertahanan Pasif. Ia menambahkan: “Dalam Perang 12 Hari, di wilayah yang menerapkan prinsip-prinsip pertahanan pasif secara akurat dan menyeluruh, dampak ancaman dapat ditekan hingga titik minimal.”

Menurut laporan ISNA, Jenderal Jalali juga menekankan bahwa Mayor Jenderal Hajizadeh merupakan salah satu tokoh yang paling serius memperhatikan isu pertahanan pasif. Ia menambahkan: “Pendekatan Hajizadeh dalam membangun kota-kota rudal berdasarkan prinsip-prinsip pertahanan pasif menjadi fondasi keberhasilan strategis dalam menyeimbangkan kekuatan terhadap Rezim Zionis.”

Ia kemudian menegaskan: “Kota-kota rudal merupakan simbol keberhasilan model pertahanan pasif dalam menghadapi ancaman musuh.”

Selain itu, Jenderal Jalali menyoroti pentingnya kesiapsiagaan di sektor infrastruktur dan menekankan perlunya keseriusan dalam implementasinya. Ia menyampaikan bahwa Organisasi Pertahanan Pasif, sejalan dengan kebijakan Staf Umum Angkatan Bersenjata dan Pemerintah, memiliki sejumlah program untuk meningkatkan kesiapan nasional, termasuk pelaksanaan latihan strategis.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan penghormatan kepada para martir Revolusi Islam, Pertahanan Suci Delapan Tahun, dan Pertahanan Suci Dua Belas Hari. “Semangat kesyahidan adalah kekuatan pendorong Revolusi Islam, dan keamanan yang kita nikmati hari ini merupakan buah pengorbanan para syuhada dan keluarga mereka,” ujarnya.

Pelatihan Publik dan Latihan Operasional Jadi Prioritas Pekan Pertahanan Pasif

Di sisi lain, pertemuan antara pemimpin Organisasi Pertahanan Pasif Nasional dengan para jurnalis dan aktivis media juga digelar untuk memaparkan program serta tujuan Pekan Pertahanan Pasif. Dalam forum tersebut, para jurnalis dan aktivis dunia maya menyampaikan pandangan publik terkait pentingnya kesiapan pertahanan pasif, terutama pascapengalaman Pertahanan Suci Dua Belas Hari.

Menanggapi berbagai pertanyaan dan kekhawatiran yang disampaikan, pemimpin organisasi menjelaskan peran dan misi lembaganya dalam memperkuat stabilitas nasional sesuai mandat hukum. Ia juga mengumumkan bahwa Pekan Peringatan Pertahanan Pasif Nasional akan diselenggarakan pada 26 Oktober hingga 1 November 2025, dengan tema “Pertahanan Pasif: Ketahanan Infrastruktur, Keberlanjutan Sosial”.

Jenderal Jalali menegaskan bahwa kepatuhan media terhadap prinsip pertahanan pasif sesuai peraturan perundang-undangan merupakan bagian dari “aksi jihad dan gerakan revolusioner” dalam rangka memperluas pengabdian kepada masyarakat.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa berdasarkan Undang-Undang Pembentukan Organisasi Pertahanan Pasif yang disahkan pada tahun 1402 (2023), lembaga ini memiliki mandat untuk menyusun kebijakan, memimpin koordinasi, dan melaksanakan pertahanan pasif di tingkat nasional. Pelaksanaannya berada di bawah otoritas pejabat tertinggi pada setiap lembaga, serta gubernur di tingkat provinsi.

Menurut laporan Mehr, Pekan Pertahanan Pasif tahun ini difokuskan pada peningkatan pelatihan publik dan kesiapan lembaga eksekutif, disertai pelaksanaan berbagai latihan penilaian kesiapan di tingkat nasional, provinsi, dan kota.

Sebagai tindak lanjut penetapan 8 November sebagai Hari Pertahanan Pasif Nasional oleh Dewan Tertinggi Revolusi Kebudayaan serta perintah Panglima Tertinggi untuk memperluas budaya pertahanan pasif, instruksi pelaksanaan perayaan tahun 1404 (2025) telah diterbitkan dalam bentuk 10 pasal oleh Kelompok Kerja Tetap Pertahanan Pasif Nasional.

Tags: