Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Kerja Sama Iran–Rusia yang ‘Belum Pernah Terjadi Sebelumnya’ Bikin NATO Khawatir

Hubungan Mesra Iran-Rusia, Mimpi Buruk yang Hantui Amerika

POROS PERLAWANAN — Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte menyatakan keprihatinan mendalam atas peningkatan luar biasa dalam kerja sama antara Rusia dan sekutunya, termasuk Iran, yang dinilai dapat mengubah keseimbangan kekuatan global.

Menurut laporan Kantor Berita Tasnim pada Jumat 7 November, Rutte dalam pidatonya di Bucharest, Rumania, pada Kamis 6 November, menyerukan negara-negara anggota aliansi untuk bersiap menghadapi konfrontasi jangka panjang dengan Rusia serta mitra-mitranya seperti Tiongkok, Iran, dan Korea Utara. Ia menekankan perlunya peningkatan produksi militer dan penguatan kemampuan pertahanan bersama.

“Bahaya yang ditimbulkan Rusia tidak akan berakhir bersamaan dengan selesainya perang di Ukraina. Dalam jangka panjang, Rusia akan tetap menjadi kekuatan yang mengguncang stabilitas di Eropa dan dunia,” ujar Rutte.

Ia menambahkan bahwa Rusia tidak bertindak sendirian dalam upaya melemahkan “tatanan global”, dengan menuding bahwa Moskow bekerja sama secara erat dengan Tiongkok, Korea Utara, Iran, dan sejumlah negara lain. “Mereka meningkatkan kolaborasi industri pertahanan hingga ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka sedang mempersiapkan konfrontasi jangka panjang,” tudingnya.

Rutte juga menyinggung komitmen negara-negara NATO untuk meningkatkan anggaran pertahanan hingga 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2035. Namun, ia menekankan bahwa “uang saja tidak menjamin keamanan”, seraya menegaskan kebutuhan akan peningkatan kemampuan nyata di lapangan. “Kita memerlukan peralatan, daya tembak, dan tentu saja teknologi militer tercanggih. Ini berarti produksi harus ditingkatkan dan waktu pengiriman dipersingkat,” ujarnya.

Respons Rusia

Moskow menepis tuduhan bahwa pihaknya memiliki niat agresif terhadap NATO. Pemerintah Rusia menilai tudingan semacam itu digunakan oleh politisi di Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk menakut-nakuti publik sekaligus membenarkan peningkatan besar-besaran anggaran militer mereka.

Kremlin juga berpendapat bahwa meningkatnya campur tangan NATO di Ukraina justru memperburuk eskalasi konflik sejak 2022.

Menanggapi pernyataan Rutte, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova meminta Sekjen NATO tersebut menjelaskan apa yang dimaksud dengan “aturan global” dan menantangnya untuk memublikasikan “daftar lengkap aturan itu” di situs resmi NATO.

Dalam pernyataannya di kanal Telegram, Zakharova menulis bahwa Moskow, Beijing, dan negara-negara dari apa yang disebut “mayoritas global” selalu menegaskan komitmen terhadap hukum internasional, berbeda dengan NATO yang berulang kali melanggarnya. Ia menyatakan bahwa aliansi Barat itu melakukan tindakan agresif dan operasi ilegal, termasuk serangan ke Irak dengan “dalih palsu” serta pemboman terhadap Yugoslavia.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *