Diplomat Barat di Lebanon: Kesabaran Hizbullah Sudah Habis
POROS PERLAWANAN — Seorang diplomat Barat mengatakan kepada jaringan KAN Israel bahwa serangan Israel terhadap Lebanon selatan semakin meningkatkan kemungkinan Hizbullah akan melanjutkan aksi militernya.
Menurut laporan Tasnim News Agency pada Jumat 7 November, di tengah serangan udara intensif yang terus dilakukan Rezim Pendudukan Zionis di Lebanon selatan, dalam pelanggaran berulang terhadap gencatan senjata, sumber diplomatik Barat di Beirut memperingatkan bahwa kesabaran Hizbullah telah mencapai batasnya. Dukungan kuat dari basis massa dan para pendukung Gerakan tersebut kini mendorong langkah balasan militer yang tegas dan menghancurkan.
Mengutip KAN, sumber tersebut yang identitasnya dirahasiakan dan diduga merupakan diplomat Barat yang berbasis di Beirut, menyatakan, “Kesabaran Hizbullah telah habis, dan basis pendukungnya menuntut tindakan militer.”
Pernyataan itu muncul setelah Hizbullah menerbitkan surat terbuka pada Rabu 5 November yang ditujukan kepada para pemimpin dan rakyat Lebanon. Dalam surat tersebut, Hizbullah menolak segala bentuk negosiasi politik dengan Rezim Zionis dan menegaskan hak sah untuk melakukan perlawanan bersenjata terhadap agresi berkelanjutan Israel.
“Kami menegaskan hak sah kami untuk mempertahankan diri dari musuh yang telah memaksakan perang terhadap Lebanon dan tidak menghentikan serangannya”, tulis Hizbullah, sambil menyebut tuntutan pelucutan senjata sebagai bentuk “pemerasan politik dan jebakan negosiasi”.
Situasi di lapangan terus memanas. Tentara Israel kembali melanggar perjanjian gencatan senjata dengan membombardir kota-kota di Lebanon selatan, termasuk wilayah Aita al-Shaab. Juru Bicara Militer Israel berdalih bahwa serangan tersebut dilakukan demi “menjaga keamanan” Tel Aviv. Namun, para analis Lebanon menilai aksi itu sebagai upaya memaksa Poros Perlawanan untuk menyerahkan senjatanya.
KAN juga melaporkan bahwa tekanan dari kelompok Syiah dan pendukung Hizbullah di Lebanon berpotensi memicu eskalasi konflik dan membuka front baru melawan Israel. Di sisi lain, Pemerintah Lebanon dilaporkan tengah mengadakan pertemuan darurat untuk membahas rencana pelucutan senjata.
Meski demikian, Hizbullah menegaskan bahwa kesepakatan apa pun mengenai pelucutan senjata “tidak mungkin tercapai” selama serangan Zionis terhadap wilayah Lebanon masih berlanjut.
