Perang 12 Hari: Laboratorium Nyata untuk Menguji Proposisi ‘Cacat’ Musuh terhadap Iran
POROS PERLAWANAN — Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh menyebut agresi militer atau Perang 12 Hari terhadap Iran sebagai “laboratorium nyata” untuk menguji banyak proposisi keliru yang selama bertahun-tahun disebarkan oleh Rezim Israel dan pihak-pihak anti-Iran melalui media arus utama.
Berbicara pada Kamis 6 November di Yayasan Perdamaian Sasakawa di Tokyo dalam seminar bertajuk “Tinjauan Perang 12 Hari dan Perspektif Regional: Pandangan Iran tentang Kerja Sama Damai”, Khatibzadeh, yang juga menjabat sebagai Kepala Institut Studi dan Penelitian Internasional Iran (IPIS), menegaskan bahwa perang tersebut telah membongkar mitos geopolitik dan propaganda lama yang ditujukan untuk mendiskreditkan Iran di mata publik internasional.
Pelanggaran terhadap Hukum Internasional
Dalam pidatonya, Khatibzadeh menyoroti agresi terbaru Rezim Zionis atas Iran sebagai pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip hukum internasional. Ia menekankan bahwa tidak ada bukti keberadaan senjata nuklir di Iran, maupun pengalihan tujuan program nuklir sipil menjadi program militer.
“Mengingat negosiasi dan diplomasi masih berlangsung,” ujarnya, “pertanyaannya adalah: mengapa Israel melakukan serangan ini dengan dukungan erat Amerika Serikat? Jawaban atas pertanyaan ini akan memperjelas tanggung jawab moral dan hukum negara-negara dalam menanggapi tindakan agresi tersebut.”
Ambisi Ekspansionis dan Ilusi Geopolitik Israel
Menganalisis motif di balik tindakan Israel, Khatibzadeh menilai bahwa agresi tersebut merupakan refleksi dari “ilusi geopolitik dan keserakahan ekspansionis” Tel Aviv. Ia menyebut bahwa Israel, dalam upaya menciptakan kedalaman strategis dan superioritas regional, justru menabur instabilitas dan permusuhan di seluruh kawasan Asia Barat.
“Israel berupaya memperluas pengaruhnya dengan menciptakan perbatasan baru dan memperluas jangkauan strategisnya,” katanya. “Namun agresi semacam ini tidak hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga mengancam keseimbangan keamanan Kawasan. Negara-negara di Kawasan dan komunitas internasional harus menghentikan pola agresi semacam itu sebelum menimbulkan krisis lebih besar.”
Perang 12 Hari sebagai Ujian Propaganda
Khatibzadeh menekankan bahwa Perang 12 Hari menjadi laboratorium nyata bagi dunia untuk menilai kebenaran berbagai tuduhan terhadap Iran. Menurutnya, banyak tudingan yang selama ini disebarkan Israel dan pihak anti-Iran, melalui saluran diplomatik maupun media global, terbukti tidak berdasar.
“Selama bertahun-tahun, opini publik global telah dibentuk oleh propaganda sistematis yang mendistorsi persepsi terhadap Iran,” ujarnya. “Namun dalam perang ini, semua proposisi keliru itu terbantahkan berkat ketahanan rakyat Iran, respons patriotik yang heroik, dan persatuan nasional yang luar biasa.”
Ia menambahkan bahwa hasil perang tersebut menunjukkan bahwa Iran tetap konsisten dalam kebijakan defensifnya dan tidak mencari konfrontasi, melainkan menekankan pada prinsip pembelaan diri dan stabilitas Kawasan.
Kritik terhadap Tindakan Tiga Negara Eropa
Dalam bagian akhir pidatonya, Khatibzadeh menyinggung keputusan tiga negara Eropa untuk memicu mekanisme snapback, upaya mengembalikan sanksi PBB terhadap Iran. Ia menilai langkah itu sebagai tindakan yang salah secara hukum, tidak bijaksana secara politik, dan keliru secara strategis.
“Tindakan tersebut tidak memiliki dasar hukum, memperburuk eskalasi, dan menimbulkan perpecahan di dalam maupun di luar Dewan Keamanan,” tegasnya. “Langkah ini justru mengeluarkan ketiga negara Eropa itu dari lingkaran aktor utama dalam proses negosiasi dengan Iran.”
Refleksi: Ketika Persepsi Bertemu Realitas
Pernyataan Khatibzadeh menggambarkan perubahan besar dalam diplomasi Iran, dari sikap defensif menjadi ofensif naratif. Dengan menekankan bahwa Perang 12 Hari bukan sekadar bentrokan militer, melainkan ujian bagi kredibilitas tudingan terhadap Iran, Teheran tampaknya berusaha membalikkan arus opini global.
Di tengah retorika agresif Israel dan ketegangan yang melibatkan kekuatan besar, pernyataan ini menegaskan satu hal: bagi Iran, pertarungan utama bukan hanya di medan perang, melainkan di ranah persepsi, perang untuk membongkar narasi yang selama ini digunakan untuk melegitimasi agresi terhadapnya.
