Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Picu Kecurigaan, FBI Bungkam Selama 16 Bulan Soal Pelaku Penembakan Trump

Picu Kecurigaan. FBI Bungkam Selama 16 Bulan Soal Pelaku Penembakan Trump

POROS PERLAWANAN – Lebih dari setahun telah berlalu sejak seorang pemuda berusia 20 tahun mencoba membunuh Donald Trump dalam sebuah kampanye pemilihan. Namun FBI secara aneh tetap memilih tutup mulut tentangnya.

Fars melaporkan bahwa dalam konferensi pers yang menandai peringatan satu tahun upaya pembunuhan terhadap Trump, seorang jurnalis mengajukan pertanyaan yang menarik.

Dia bertanya: “Bagaimana mungkin hanya beberapa jam setelah terungkapnya hubungan gelap antara sepasang kekasih di konser Coldplay di media sosial, kita memiliki lebih banyak informasi tentang mereka daripada tentang Thomas Crooks, yang tembakannya setahun lalu hanya meleset beberapa sentimeter dari Presiden?”

Thomas Crooks adalah orang yang mencoba membunuh Donald Trump, calon presiden Partai Republik saat itu, selama kampanye di Butler, Pennsylvania, pada 13 Juli 2024.

Dia menembak Trump dari jarak dekat, tetapi peluru mengenai telinga Trump dan dia selamat. Sebaliknya, Crooks tewas dalam serangan tersebut.

Malam lalu, jurnalis konservatif AS, Tucker Carlson dalam pesannya di platform media sosial X mencuit, FBI telah menyatakan bahwa “tidak ada jejak online dari orang yang mencoba membunuh Trump”.

“FBI telah berbohong, dan kita bisa membuktikan mereka berbohong, karena kita memiliki postingannya. Pertanyaannya adalah: mengapa mereka berbohong?” cuitnya.

Menanggapi pertanyaan ini, FBI dengan cepat membuat akun di X bernama “FBI Rapid Response”. FBI mengaku bahwa tujuan akun ini adalah untuk melawan kampanye kebohongan dan informasi serta berita palsu.

Pembuatan akun ini dengan cepat telah menjadi masalah baru bagi FBI, karena beberapa aktivis media kini bertanya-tanya bagaimana sebuah lembaga yang mampu memantau jurnalis dengan cepat dan membuat akun untuk menanggapi mereka, hingga saat ini belum membocorkan informasi apa pun tentang Crooks?

Siapa yang Berkuasa?

Anggota Kongres AS dari Partai Republik, Eric Burlison, adalah salah satu orang yang berulang kali mengkritik kurangnya transparansi FBI dalam kasus ini.

Dalam memo yang diunggah di halaman situs web Dewan Perwakilan Rakyat pada 29 Juli, ia menyatakan bahwa meskipun ada laporan tentang “ribuan wawancara dan ratusan jam meninjau foto dan video”, FBI menolak memberikan informasi penting apa pun tentang Crooks.

Motif pemuda tersebut masih belum jelas. Belum diketahui bagaimana ia mendapatkan akses ke atap gedung di sebelahnya atau bagaimana ia membuat dua bom yang dikendalikan jarak jauh, yang pada akhirnya tidak ia gunakan.

“Penahanan informasi ini bukan sekadar kelemahan dalam penyelidikan, tetapi bagian dari ciri khas organisasi yang memiliki sejarah panjang dalam menyembunyikan informasi penting dari publik”, tulis Burlison.

“Budaya main rahasia ini, yang sering kali disamarkan dengan alasan keamanan nasional, telah menjadi prinsip di Washington; di mana elite birokrasi dan pemangku kepentingan mereka merasa berhak memutuskan apa yang seharusnya atau tidak seharusnya diketahui oleh publik”.

Kritikus juga mengatakan bahwa, dari sudut pandang lain, kerahasiaan ini merupakan pengulangan pola historis, seperti kasus pembunuhan John F. Kennedy yang tetap menjadi isu yang kabur meskipun ada keraguan publik, dengan lembaga intelijen dan keamanan menolak untuk menjelaskannya.

“Para kritikus berargumen bahwa jika Kongres, yang mendirikan CIA, atau bahkan para Presiden, tidak mampu memaksa lembaga-lembaga ini untuk mematuhi sepenuhnya undang-undang transparansi, maka siapa sebenarnya yang memegang kekuasaan di Washington?” imbuh Burlison.

Kebisuan FBI sekali lagi memicu spekulasi di dunia maya bahwa insiden Juli 2024 mungkin merupakan peristiwa yang direkayasa untuk meningkatkan popularitas kampanye Trump saat itu.

Pada hari kejadian, beberapa kritikus, terutama dari kalangan kiri dan netizen independen, mengeklaim bahwa insiden tersebut “direkayasa” atau “palsu”, yang dirancang untuk meningkatkan popularitas elektoral Trump atau untuk mendorong agenda politik tertentu.

Pada saat itu, ekspresi Trump, khususnya saat ia meninggalkan panggung, dengan tinjunya yang terkepal mengajak pendukungnya untuk terus berjuang, telah menimbulkan banyak kecurigaan.

Seorang pengguna di X pada saat itu menulis bahwa foto Trump dengan tinju terkepal terlihat begitu sempurna, sehingga sepertinya mustahil bukan hasil rekayasa.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *