Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Sekjen PBB: Kematian dan Kehancuran di Gaza akan Dikenang sebagai Kegagalan Terbesar Umat Manusia

POROS PERLAWANAN – Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres menyatakan bahwa tragedi kemanusiaan di Gaza akan tercatat sebagai salah satu kegagalan paling kelam dalam sejarah umat manusia.

Menurut laporan IRNA, pada Senin 24 Novembr, Guterres menyampaikan hal tersebut dalam pidatonya pada KTT Tahunan Uni Afrika–Uni Eropa ke-7. Ia membandingkan berbagai konflik global yang sedang berlangsung, sambil menyoroti skala penderitaan warga sipil.

“Invasi Rusia ke Ukraina, konflik terburuk di Eropa dalam satu generasi telah menimbulkan penderitaan luar biasa bagi warga sipil serta mengguncang ekonomi global,” kata Guterres. “Kematian dan kehancuran di Gaza akan dikenang sebagai kegagalan terbesar umat manusia. Di Sudan, Sudan Selatan, Somalia, Libya, Mali, dan Republik Demokratik Kongo, banyak orang masih terus menghadapi kekerasan dan penderitaan.”

Guterres menyebut dunia sedang berada dalam fase perubahan cepat, baik dari sisi teknologi, iklim, maupun dinamika geopolitik. Ia menilai dunia bergerak menuju konfigurasi multipolar, dengan perpindahan kekuatan yang terus berlangsung.

Ia memperingatkan risiko terpecahnya dunia ke dalam dua blok besar yang dipimpin kekuatan utama. “Kita membutuhkan dunia multipolar dengan hubungan lintas bidang, perdagangan, pembangunan, lembaga keuangan, dan koordinasi politik. Multipolaritas tidak otomatis membawa perdamaian,” ujarnya. “Eropa pada 1914 juga multipolar, tetapi tanpa tata kelola multilateral yang kuat, justru melahirkan perang.”

Menurutnya, multipolaritas saat ini hanya dapat berhasil bila ditopang lembaga-lembaga internasional yang mampu menjaga stabilitas dan keseimbangan.

Guterres menilai kerja sama antara Uni Afrika dan Uni Eropa dapat menjadi poros penting dalam arsitektur global yang baru. Ia menyebut terbukanya peluang untuk “mengoreksi ketidakadilan historis” dan menciptakan kesetaraan bagi negara-negara yang selama ini tersisih dari proses pengambilan keputusan global.

Mengenai pembangunan berkelanjutan, Guterres mengkritik arsitektur keuangan internasional yang dianggapnya “tidak adil dan tidak efisien” karena lebih menguntungkan negara-negara kaya. Ia menegaskan pentingnya reformasi, termasuk mengakhiri siklus utang besar yang membebani negara berkembang.

Ia mendorong peningkatan kapasitas pinjaman bank pembangunan multilateral hingga tiga kali lipat serta perluasan peran negara-negara berkembang dalam lembaga keuangan global. Langkah ini dianggap penting untuk menyesuaikan sistem keuangan internasional dengan tantangan masa kini.

Guterres juga menyinggung keselarasan antara Agenda 2063 Uni Afrika dan Agenda 2030 PBB. Ia menyatakan keduanya dapat menjadi dasar kerja sama untuk mengakhiri kemiskinan, menangani akar persoalan migrasi, dan mengoptimalkan potensi ekonomi Afrika.

Dalam isu iklim, Guterres mengatakan Afrika memiliki modal besar berupa energi surya, angin, dan mineral penting. Permintaan terhadap mineral tersebut diperkirakan meningkat tiga kali lipat pada 2030 seiring transisi energi bersih. Ia menilai momen ini harus menjadi kesempatan bagi Afrika untuk meningkatkan produksi bernilai tambah, bukan mengulang pola lama eksploitasi sumber daya.

Dengan pendidikan dan pembiayaan yang memadai, menurutnya, energi terbarukan dapat mendorong kemajuan Afrika, asalkan terdapat kerja sama internasional untuk menjamin transisi yang adil dari energi fosil sekaligus memastikan ketersediaan listrik di seluruh benua.

Ia mendesak negara-negara maju untuk memenuhi komitmen pendanaan iklim, termasuk menggandakan dana adaptasi tahun ini dan berupaya melipatgandakannya tiga kali lipat pada 2035.

Guterres kembali menekankan perlunya multilateralisme yang kuat. Ia menyoroti “Pakta Masa Depan”, yang disepakati tahun lalu yang menyerukan penambahan kursi permanen untuk Afrika di Dewan Keamanan PBB demi mengatasi ketidakadilan historis dan memperkuat kapasitas Dewan dalam menjaga perdamaian global.

Menurutnya, Uni Afrika dan Uni Eropa, yang mewakili 40 persen keanggotaan PBB, memiliki kekuatan untuk menegakkan Piagam PBB, memediasi berbagai perjanjian, dan memandu dunia menuju tatanan global yang lebih stabil dan inklusif.

Guterres menutup pidatonya dengan nada optimistis: “Dari kekacauan dunia saat ini, kita dapat membangun era harapan baru, harapan akan persatuan, kesetaraan, dan perdamaian.”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *