Inspektur Vijay dan Sindikat Internasional Pencuri Sejarah
POROS PERLAWANAN – Inspektur Vijay bukan tipe sentimental. Ia tidak menangis menonton berita, tidak terharu membaca pidato, dan tidak percaya pada orang yang kelewat rajin mengaku-ngaku warisan peradaban. Namun pagi itu, Rabu 26 November, kopi hitamnya mendadak terasa seperti air bekas mencuci kuas cat. Penyebabnya sederhana, sebuah laporan segar dari benua seberang.
Erdogan, selaku Presiden Turki, baru saja mengumumkan sesuatu yang membuat Wikipedia ingin pensiun dini. “Kami memiliki sifat penyembuh dalam gen kami,” katanya tegas.
Vijay melirik catatannya. “Gen penyembuh? Yang benar saja. Kalau gen itu aktif, mestinya hubungan dengan rezim pembantai sudah putus… bukan malah dipelihara kayak tanaman bonsai.”
Ia mendesah seperti guru tua yang dipaksa menjelaskan Aljabar pada murid yang sibuk mengeklaim menemukan Kalkulus.
Laporan berikutnya masuk, lebih aneh dari yang pertama. “Kami adalah pewaris Luqman al-Hakim dan Ibnu Sina,” ujar sang Presiden.
Vijay mengucek mata. “Ibnu Sina orang Iran. Luqman dari Sudan. Bukannya apa-apa, tapi kalau mau klaim warisan, setidaknya pastikan almarhumnya berasal dari kode pos yang sama.”
Untuk memverifikasi keanehan ini, Vijay turun langsung ke lapangan, membongkar arsip tua, perpustakaan penuh debu, dan ruang rapat internasional tempat kebenaran biasanya dipukul mundur oleh retorika yang lebih nyaring.
Di sebuah ruangan konferensi, ia menemukan adegan yang membuatnya ingin memanggil tim forensik linguistik. Seorang pria berdiri dengan dada membusung sambil membacakan bait Hafez. “Ini karyaku!” serunya.
Ketika dikoreksi, ia membalas, “Hafez mencurinya dariku.”
Vijay menatap udara kosong selama lima detik. Itu rekor dunia barunya. “Jadi begini,” gumamnya, “bukan hanya mencuri sejarah, mereka sekarang mencuri masa lalu orang lain. Tinggal tunggu waktu sebelum ada yang mengeklaim piramida sebagai cabang usaha keluarga.”
Ia berjalan keluar aula dan di lorong bertemu sekelompok pengawal yang sedang berdiskusi serius.
“Apa lagi ini?” tanya Vijay.
“Kami sedang mendata tokoh-tokoh dunia yang kemungkinan besar juga pernah ‘dicuri’,” jawab salah satu. “Daftarnya terus bertambah. Galileo, Shakespeare, Confucius…”
Vijay mengangkat tangan. “Cukup. Kalau daftar itu ditambah terus, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa seluruh sejarah peradaban manusia hanyalah katalog barang hilang milik satu orang.”
Akhirnya Vijay duduk di sebuah bangku panjang, menyalakan recorder kecil, dan berkata pelan dengan nada putus asa bercampur geli: “Kasus ini bukan pencurian. Ini wabah. Kalau klaim ngawur dibiarkan menular, suatu hari nanti seseorang akan mengumumkan bahwa ia adalah penemu gravitasi, dan Newton cuma numpang nama.”
Recorder dimatikan. Vijay berdiri. Berkas kasus ditutup dengan catatan ringkas: “Beberapa orang mencuri pengetahuan bukan karena mereka membutuhkan kebenaran… melainkan karena kenyataan terlalu kecil untuk menampung ambisi mereka.”
Hari itu, Inspektur Vijay pulang tanpa membawa tersangka, karena pencuri jenis ini tidak bisa ditangkap. Mereka hanya bisa ditertawakan.
