Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Khawatirkan Serangan Balasan Hizbullah, Israel Tingkatkan Patroli Udara di Lebanon

POROS PERLAWANAN – Pembunuhan Komandan senior Hizbullah, Sayyid Haitsam “Abu Ali” Thabathabai, dalam serangan Israel di pinggiran Beirut pekan lalu, dipandang oleh Perlawanan Lebanon sebagai “pelanggaran batas merah”. Hizbullah menegaskan bahwa pihaknya “bertekad menghancurkan seluruh proyek musuh Zionis dan sponsor Amerika Serikat”. Sebagai respons, sejumlah komandan militer Israel menyatakan bahwa mereka tidak akan mengulangi aksi serupa bila Hizbullah tidak membalas.

Menurut analisis Saadallah Zarei yang diterbitkan Kayhan pada Kamis 27 November, Israel meningkatkan patroli udara di Lebanon pascaserangan tersebut, pertanda bahwa rezim itu mengantisipasi balasan. Eskalasi ini memicu spekulasi baru mengenai masa depan bentrokan antara Israel dan Hizbullah.

Tekanan Setelah Gencatan Senjata: Perang yang Berjalan Sepihak

Selama hampir satu tahun pascagencatan senjata dengan Hizbullah, Israel terus melakukan serangan sporadis terhadap Lebanon, terutama di wilayah selatan. Menurut data Hizbullah, lebih dari 350 warga gugur dan hampir 1.000 lainnya terluka. Hizbullah selama ini menahan diri, berdasarkan pertimbangan keamanan nasional Lebanon, namun serangan pada Minggu disebut telah mengubah situasi, melemahkan makna gencatan senjata, dan memberi legitimasi bagi Hizbullah untuk bereaksi.

Zarei mencatat bahwa pembunuhan Thabathabai menjadi “titik akhir” yang dipaksakan Israel atas proses setahun terakhir. Kini, menurut para pengamat militer, langkah selanjutnya berada di tangan Hizbullah.

Israel Khawatirkan Babak Baru Perang

Sejumlah analis, termasuk mantan Kepala Intelijen Militer Tamir Hayman, menilai serangan ini dapat menandai awal babak baru. Hayman menyatakan bahwa “masalah Israel dengan Hizbullah belum selesai”, sebab setiap komandan yang gugur selalu memiliki pengganti, dan Hizbullah tetap memiliki rudal, roket, serta drone yang mampu menjangkau garis depan Israel.

Di sisi lain, serangkaian pernyataan dan tindakan Israel, khususnya patroli intensif di langit Lebanon menggambarkan ketakutan yang sama terhadap kemungkinan perang besar. Meski beberapa pejabat Israel menyerukan serangan skala luas, kecemasan mereka mengenai potensi balasan Hizbullah menyeimbangkan pernyataan bernada ofensif tersebut.

Kondisi ini menciptakan suasana ambigu, bahwa kedua pihak berbicara tentang risiko perang besar, namun keduanya juga terlihat tidak yakin mampu mengendalikan konsekuensinya.

Kegagalan Israel di Enam Front dan Kebangkitan Poros Perlawanan

Menurut laporan intelijen yang dikutip Zarei, Israel berada dalam kondisi frustrasi setelah terlibat konflik di Gaza, Tepi Barat, Lebanon, Yaman, dan bahkan benturan tidak langsung dengan Iran selama lebih dari dua tahun. Enam front ini tidak menunjukkan perubahan signifikan, sementara kemampuan aktor-aktor Perlawanan tetap terjaga atau bahkan meningkat.

Dalam pandangan Israel, Iran sebagai pusat gravitasi Poros Perlawanan tidak hanya mempertahankan strategi melawan AS dan Israel, tetapi juga meningkatkan kapasitas taktisnya. Seorang analis AS menulis di New York Times bahwa dalam konflik mendatang “Iran mungkin menembakkan 2.000 rudal secara serentak ke wilayah Israel”, empat kali lipat dibandingkan Perang 12 Hari.

Israel juga menilai bahwa Hizbullah telah memulihkan struktur militernya meski kehilangan tokoh-tokoh penting. Upaya tekanan diplomatik, seperti yang dipimpin Thomas Barak pada masa Pemerintahan Trump, dinilai gagal.

Di Irak, kemenangan besar kelompok pro-Perlawanan, khususnya Asaib Ahl al-Haq pimpinan Qais al-Khazali, menambah kekhawatiran Israel karena berpotensi memperkuat koordinasi regional melawan serangan Israel atau AS. Gaza tetap menjadi pusat perlawanan yang tidak dapat dipatahkan, sementara Yaman, menurut evaluasi Israel, akan kembali aktif dalam setiap eskalasi baru.

Israel Berusaha Mengubah Doktrin Keamanan, tapi Risiko Besar Menanti

Israel tampak ingin menciptakan “persamaan baru” yang menguntungkannya melalui serangan terbatas dan perang atrisi terhadap Hizbullah dan Perlawanan Palestina. Mantan Kepala Intelijen, Amos Yadlin mengatakan bahwa pembunuhan komandan Hizbullah merupakan pesan bahwa “doktrin keamanan Israel telah berubah”.

Namun dua pertanyaan muncul. Pertama: mengapa doktrin lama gagal? Israel dulu bergantung pada perjanjian dengan Mesir dan Yordania untuk mengamankan perbatasan. Kini, ancamannya berasal dari aktor non-negara yang tidak dapat dinegosiasikan: Lebanon, Irak, Gaza, Tepi Barat, hingga Yaman.

Kedua: perubahan doktrin bukan keputusan sepihak. Penilaian intelijen Israel sendiri menyebut bahwa Hizbullah mungkin membanjiri perbatasan utara sebagai balasan. Mengubah doktrin dari defensif menjadi ofensif dapat menjebak Israel dalam perang berkepanjangan, tanpa kepastian kemenangan.

Kritik internal juga muncul. Sehari setelah serangan di Beirut, Avigdor Lieberman menulis kepada Netanyahu: “Anda berbicara tentang kemenangan mutlak, tetapi yang Anda ciptakan hanyalah front-front baru yang terbuka bagi Israel.”

Dinamika Internal Lebanon: Serangan Israel Justru Memperkuat Hizbullah

Dalam penilaian politik Lebanon, pembunuhan Thabathabai justru menjadi “paku kuat di peti mati proyek pelucutan senjata Hizbullah”. Tindakan Israel itu memperkuat posisi politik Hizbullah di dalam negeri. Bahkan kelompok-kelompok yang cenderung dekat dengan Pemerintah menyebut bahwa serangan ini menekan posisi Amerika Serikat, pihak yang selama ini berupaya mengikis pengaruh Hizbullah dalam struktur politik Lebanon.

Israel berulang kali menyebut adanya dukungan internal Lebanon terhadap serangannya, namun reaksi publik dan politik pascaserangan Minggu lalu menunjukkan hal sebaliknya: posisi Hizbullah tetap kuat, bahkan menguat.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *