Hizbullah Tegaskan Otoritas Penuh atas Respons: Waktu dan Medan Balasan Ada pada Kami
POROS PERLAWANAN – Dilansir Press TV, dalam sebuah upacara peringatan yang sarat pesan keteguhan, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qasim menegaskan bahwa Gerakan Perlawanan Lebanon itu akan menentukan sendiri waktu dan lokasi respons terhadap serangan Israel yang menewaskan Komandan senior Haitsam Ali Thabathabai. Pernyataan ini disampaikan pada Jumat malam 28 November, menandai babak baru ketegangan pascaserangan udara yang mengguncang pinggiran selatan Beirut pada Minggu 23 November lalu.
Thabathabai adalah seorang Komandan veteran, penggerak struktur militer, sekaligus figur penting dalam pendirian Hizbullah. Beliau gugur dalam serangan yang diklaim Israel sebagai operasi “pencegahan”. Namun bagi Hizbullah, sebagaimana ditegaskan Syekh Qasim, operasi tersebut hanyalah “agresi pengecut” yang tidak akan dibiarkan berlalu tanpa konsekuensi.
“Serangan ini tidak akan dibiarkan tanpa jawaban. Hizbullah-lah yang menentukan kapan dan di mana,” tegasnya di hadapan massa.
Sekjen Hizbullah menambahkan bahwa keputusan respons bukanlah sekadar reaksi emosional, melainkan bagian dari kalkulasi strategis yang selama ini menjadi ciri Gerakan Perlawanan.
Syekh Qasim menyebut entitas Zionis terus melakukan pelanggaran terhadap kedaulatan Lebanon, memanfaatkan dukungan intelijen regional dan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa tujuan Israel untuk melemahkan moral Perlawanan melalui pembunuhan tokoh-tokoh kunci “tidak akan pernah tercapai”.
Dalam pidatonya, Syekh Qasim juga menyinggung gencatan senjata yang berlaku sejak 27 November 2024, menyebutnya sebagai “kemenangan politik dan moral” bagi Poros Perlawanan. Menurutnya, Israel masuk ke dalam perjanjian itu bukan karena keinginan damai, melainkan karena “gagal mencapai tujuan militernya dan terpaksa menelan kekalahan yang berat”.
Ia menegaskan tanggung jawab Pemerintah Lebanon untuk mendorong penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah selatan serta memastikan kehadiran efektif Angkatan Darat Lebanon di sepanjang perbatasan.
Syekh Qasim memperingatkan bahwa agresi Israel bukan hanya menyasar Hizbullah, melainkan seluruh Lebanon baik ekonominya, kedaulatannya, maupun keberadaannya sebagai negara. Karena itu, menurutnya, siapa pun yang menuntut pelucutan senjata Perlawanan pada dasarnya sedang melayani agenda Rezim Pendudukan.
Ia menyatakan bahwa Hizbullah bersedia membahas strategi pertahanan nasional, termasuk isu senjata, namun tidak dalam kondisi tekanan atau pemaksaan. “Kami terbuka untuk dialog politik, tetapi bukan untuk menyerah atau membongkar perjanjian yang ada,” ujarnya.
Menutup pidato, Syekh Qasim menegaskan bahwa jalan perlawanan akan terus berlanjut. “Darah para syuhada tidak akan pernah sia-sia. Musuh tidak akan membuat kami merasakan sakit tanpa menerima balasan dari penderitaan yang mereka sebabkan sendiri.”
