Gaza: Gerbang Perubahan Opini Publik di Barat
POROS PERLAWANAN – Perang Gaza, yang dimulai dengan dukungan politik dan media yang luas dari Barat untuk Israel, dengan cepat berubah setelah terungkapnya fakta-fakta di lapangan. Terungkapnya keberpihakan media dan standar ganda Pemerintah-pemerintah Barat memicu “pemberontakan opini publik”, terutama di kalangan generasi muda. Perubahan ini tidak hanya memperkuat narasi Palestina tetapi juga menciptakan jurang yang dalam pada kredibilitas Barat dan partai-partai politiknya.
Dilaporkan Fars, pada awal perang Gaza, Israel mendapatkan kesempatan untuk memperoleh dukungan internasional yang luas—baik di tingkat politik maupun di opini publik Barat. Narasi sepihak tentang “serangan teroris terhadap warga sipil Israel” mendominasi media mainstream Barat. Namun, situasi tersebut segera berkembang menjadi kampanye populer yang lebih luas; kampanye yang semakin intensif setelah terungkapnya keberpihakan media dan diskursus politik Barat yang pro-Israel. Akibatnya, perang ini menjadi titik balik dalam opini publik Barat dan memicu evaluasi ulang terhadap nilai-nilai Barat mengingat sikap politik dan kinerja media mainstream.
Posisi Politik Barat terhadap Konflik
Posisi politik Barat terhadap perlawanan Palestina terhadap Israel dalam beberapa tahun terakhir telah dibentuk sedemikian rupa, sehingga masalah Palestina sering kali didefinisikan sebagai “krisis kemanusiaan” daripada masalah politik-nasional. Pendekatan ini semakin intensif sejak tahun 2000-an, setelah kemenangan Hamas dalam pemilu 2006 dan pengambilalihan Gaza olehnya, yang menyebabkan slogan “Solusi Dua Negara” secara efektif memudar dari diskursus resmi Barat.
Dalam kerangka ini, Barat berusaha menghilangkan dimensi nasional dan pembebasan dari perjuangan Palestina. Barat menyederhanakannya menjadi isu kemanusiaan semata. Meskipun mengakui ketidakabsahan pendudukan Israel, kebijakan Barat secara efektif dibatasi pada pernyataan kritis yang tidak mengikat.
Proses “humanisasi” ini telah mendorong Pemerintah-pemerintah Barat untuk menekankan bantuan kemanusiaan kepada Palestina guna membenarkan kontradiksi dalam pendekatan mereka, sambil menghindari dimensi politik dari pendudukan Israel. Perspektif ini juga membuka jalan bagi dukungan Barat terhadap perang Israel di Gaza—terutama setelah Operasi Badai al-Aqsa—dan meningkatkan sensitivitas Pemerintah Barat terhadap bentuk solidaritas politik apa pun dengan Gaza.
Menurut pandangan Pemerintah-pemerintah ini, mengaitkan peristiwa 7 Oktober dengan pendudukan dapat melegitimasi konsep perlawanan di mata publik dan mengubah solidaritas kemanusiaan menjadi solidaritas politik antipendudukan; suatu perkembangan yang membuat mereka khawatir. Pengalaman survei juga menunjukkan bahwa opini publik Barat lebih berubah ketika Palestina dilihat bukan hanya sebagai korban, tetapi sebagai aktor yang melakukan perlawanan.
Pentas Narasi dalam Diskursus Publik Barat
Dalam gelombang perlawanan Palestina kali ini, narasi menjadi poros utama perdebatan dalam opini publik Barat. Pada awal perang, narasi Israel mendapat dukungan luas di tingkat politik, partai, dan media mainstream. Reaksi publik Barat dapat dibagi menjadi dua fase dan dua tren utama.
Pada fase pertama, narasi Israel mendominasi, sementara opini publik pro-Palestina lebih fokus pada sejarah panjang pelanggaran Israel yang mengarah pada peristiwa 7 Oktober, daripada peristiwa itu sendiri. Suara pendukung pro-Palestina dibungkam oleh diskursus media dan politik Barat yang kaku, yang berusaha mengabaikan konteks historis serangan tersebut. Media bahkan meminta jurnalis untuk tidak mengaitkan serangan tersebut dengan sejarah pendudukan Israel.
Pada fase kedua, seiring dengan terungkapnya realitas dan sifat perang genosida Israel di Gaza serta pelanggaran semua batas kemanusiaan dan sipil, esensi narasi Israel pun terungkap. Pembantaian brutal terhadap warga Palestina menciptakan dasar untuk narasi alternatif dari pendukung Palestina, yang melampaui peristiwa 7 Oktober. Dinamika manusiawi ini memperkuat solidaritas populer dengan Palestina dan menimbulkan gejolak politik di Barat. Pemerintah-pemerintah dan partai-partai berusaha mempertahankan sikap dukungan mereka terhadap Israel, sambil juga mengadopsi inisiatif kemanusiaan, seperti bantuan keuangan dan seruan untuk gencatan senjata terbatas.
Pergeseran opini publik ini menunjukkan kekuatan narasi kemanusiaan dalam melemahkan narasi politik dan media yang dominan serta dampaknya terhadap pembentukan kebijakan di Barat.
Opini Publik Barat dan Media Tradisional
Pembentukan opini publik terkait kebijakan luar negeri terutama dipengaruhi oleh tiga faktor: fakta, nilai, dan identitas, dengan peran fakta sebagai yang paling menentukan. Pada hari-hari awal perang, media mainstream Barat mendasarkan narasinya pada simpati terhadap Israel dan mengabaikan Palestina. Namun ketika esensi sebenarnya dari perang Israel menjadi jelas, pendekatan ini memicu kemarahan publik. Contohnya adalah penyelenggaraan demonstrasi solidaritas pro-Gaza pertama di London di luar gedung BBC. Keberpihakan media yang jelas ini secara signifikan merusak kepercayaan publik terhadap media tradisional, hingga sepuluh hari setelah perang dimulai, simpati pemuda Inggris terhadap Palestina hampir empat kali lipat dibandingkan dengan simpati terhadap Israel.
Keberpihakan Pemerintah Barat yang secara eksplisit mendukung Israel, dan refleksinya dalam media mainstream, menjadi pendorong utama terbentuknya opini publik pro-Gaza. Di sisi lain, media sosial dan “layar kecil” menyediakan sumber informasi yang beragam.
Media-media tradisional menghadapi krisis etika yang belum pernah terjadi sebelumnya. BBC, khususnya, meliput narasi Israel dengan keberpihakan parah pada awal perang, menyoroti “pembunuhan 1.400 warga Israel” selama 23 hari berturut-turut, sementara korban Palestina melebihi 7.000 orang. Gaya pelaporan ini memicu gelombang kritik yang luas dan mendorong generasi muda untuk bereaksi dengan kuat terhadap keberpihakan media tersebut.
Tren ini menunjukkan bagaimana fakta dan keberpihakan media dapat mengubah opini publik dan memicu “pemberontakan opini publik”, terutama di kalangan muda.
Akibat dan Dampak
Meskipun Barat memberikan dukungan resmi yang tegas terhadap perang Israel di Gaza, tekanan publik menyebabkan beberapa perubahan sikap. Misalnya, Prancis dan Spanyol mendukung resolusi PBB untuk gencatan senjata, dan narasi di Paris bergeser menuju seruan untuk menghentikan pembunuhan perempuan dan anak-anak oleh Israel. Pergeseran ini didorong oleh tingkat simpati tertinggi terhadap Palestina di opini publik Prancis (47%) dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya.
Meskipun simpati yang luas ini belum terwujud dalam pengaruh politik langsung, karena isu Palestina bukan masalah lokal atau prioritas pemilihan di sebagian besar masyarakat demokratis Barat, dukungan dan solidaritas ini membuka cakrawala baru bagi perkembangan politik Barat: Pertama, dukungan ekstrem partai-partai terhadap perang Israel, yang mempertanyakan prinsip-prinsip tradisional diskursus Barat tentang solusi damai; dan kedua, jarak yang diambil oleh partai-partai kiri dari basis massa mereka, yang dengan mendukung atau diam terhadap pembunuhan warga Palestina, telah mengungkap krisis dan perpecahan di dalam kubu kiri Eropa.
Krisis di Barat
Krisis di kalangan kiri di Eropa sangat jelas terlihat, seiring dengan meningkatnya penolakan publik terhadap sikap resmi Barat yang mendukung perang Israel. Para demonstran, yang seringkali merupakan pemilih partai kiri dan progresif, telah menciptakan perpecahan serius di dalam partai-partai tersebut. Partai-partai oposisi menemukan diri mereka bertentangan dengan prinsip-prinsip mereka sendiri dan agak terisolasi, karena mayoritas partai-partai berkuasa bertindak serempak dengan kebijakan resmi pro-Israel. Krisis ini paling parah di Prancis, Inggris, dan Spanyol.
Perpecahan antara elit partai dan basis akar rumput mereka menawarkan peluang potensial untuk memengaruhi kebijakan dan pemilihan di masa depan. Gerakan-gerakan solidaritas dengan Palestina kali ini tidak mendapat dukungan partai, dan hal ini dapat menyebabkan penolakan untuk memilih atau dukungan terhadap partai-partai kecil sebagai bentuk “hukuman (untuk partai-partai besar)”. Meskipun partai-partai ini tidak akan menggantikan partai utama di negara mereka, mereka mampu melemahkan mereka. Di bawah tekanan publik, Uni Eropa berusaha menandakan posisinya dengan kembali menekankan “Solusi Dua Negara” dan mengutuk pembangunan pemukiman Zionis secara seimbang. Tetapi tindakan ini belum memiliki dampak signifikan tanpa langkah-langkah efektif untuk menghentikan perang di Gaza dan memungkinkan bantuan kemanusiaan masuk.
Kesimpulan
Narasi Palestina menghadapi tekanan yang sangat berat di Barat, dan Pemerintah-pemerintah Barat berusaha untuk mendistorsi atau mengabaikan aspek-aspek kunci narasi tersebut, terutama legitimasi hak Palestina untuk membela diri. Di beberapa negara, solidaritas dengan Palestina bahkan dikriminalisasi, lantaran dianggap sebagai dukungan terhadap terorisme atau antisemitisme. Namun meskipun menghadapi tekanan ini, narasi Palestina tetap bertahan dan kini, lebih dari sebelumnya, diperkuat oleh penekanan pada keadilan yang jelas dari perjuangan Palestina.
Keberpihakan terang-terangan Barat terhadap Israel selama perang Gaza telah menciptakan jurang yang dalam dalam kredibilitas negara-negara “demokratis”, memicu debat luas di opini publik global tentang standar ganda mereka, terutama ketidakadilan dalam perlakuan mereka terhadap perang di Ukraina dan Gaza.
Dengan kata lain, Perlawanan Palestina dan narasinya yang mencari keadilan telah berhasil, bahkan di tengah tekanan media dan politik yang luas, menarik perhatian publik terhadap ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi manusia, serta memperkuat solidaritas rakyat. Tren ini tidak hanya mencerminkan ketahanan perjuangan Palestina tetapi juga menantang opini publik Barat, mengungkap kesenjangan antara diskursus resmi dan keadilan insani.
Hasilnya, narasi Palestina bukan hanya tidak tersingkirkan, tetapi dengan menonjolnya keadilan dan legitimasi perlawanan, telah menjadi faktor penting dalam membentuk opini publik dan mengkritik kebijakan Barat.
