Loading

Ketik untuk mencari

Yaman

Ikhwanul Muslimin (IM) Yaman Korban Konspirasi Saudi dan Uni Emirat Arab

POROS PERLAWANAN — Militan yang berafiliasi dengan Partai Islah yang dipandang sebagai cabang Ikhwanul Muslimin (IM) Yaman, telah menyerahkan posisi mereka di Provinsi Hadhramaut. Para analis menilai bahwa mereka menjadi korban skema politik dan militer Saudi–UEA terkait masa depan Yaman.

Menurut Kantor Berita Tasnim pada Minggu 7 Desember, dua provinsi di Yaman selatan dan timur Hadhramaut dan Al-Mahra mengalami perkembangan strategis penting dalam beberapa hari terakhir. Pasukan Dewan Transisi Selatan (STC), yang berafiliasi dengan Uni Emirat Arab, berhasil mengambil alih wilayah-wilayah yang sebelumnya berada di bawah kontrol milisi suku.

Pasukan STC menguasai Istana Presiden di kota Siyon yang merupakan Ibu Kota Hadhramaut bagian tengah, serta bandara kota tersebut pada Kamis pagi, sambil mengibarkan bendera Yaman Selatan di atas gedung-gedung pemerintahan.

Kota Siyon merupakan pusat terpenting di kawasan Wadi Hadhramaut, wilayah yang selama ini berada di bawah kendali koalisi milisi suku berdasarkan kesepakatan tidak tertulis yang pada praktiknya berarti kekuasaan berada di tangan Partai Islah dan milisi yang dipimpin Mohsen al-Ahmar.

Partai Islah, cabang Ikhwanul Muslimin di Yaman, selama bertahun-tahun dianggap sekutu tradisional Arab Saudi serta pihak-pihak yang didukungnya. Sebaliknya, pasukan dukungan UEA yang dikenal sebagai Elite Al-Hadhrami, bermarkas di Mukalla, kota pesisir terbesar sekaligus Ibu Kota Hadhramaut.

Perebutan Hadhramaut dan Eskalasi Baru

Konflik yang melibatkan Hadhramaut, provinsi terbesar yang mencakup sekitar 40 persen wilayah Yaman sebenarnya telah berlangsung sejak tahun lalu. Ketegangan meningkat ketika pasukan suku menguasai sejumlah ladang minyak dan pekan lalu menduduki fasilitas “Al-Masilah”.

Menanggapi hal itu, pasukan Emirat bergerak untuk merebut kembali fasilitas minyak di Mukalla. Media regional memperingatkan potensi pecahnya bentrokan berdarah yang menyerupai tragedi “Fasher” di Sudan, namun kali ini di Hadhramaut.

Di tengah situasi genting tersebut, delegasi Saudi tiba untuk bernegosiasi. Sebuah kesepakatan dicapai pada Rabu. Namun, hanya 24 jam setelahnya, pasukan UEA bergerak cepat memanfaatkan gencatan senjata untuk mengambil alih fasilitas minyak di Hadhramaut, sebuah operasi kilat yang mengejutkan banyak pihak.

Konspirasi yang Menjerat Partai Islah

Koalisi suku mengeluarkan pernyataan keras yang menuding adanya konspirasi dan mendesak Arab Saudi serta UEA bertanggung jawab atas perkembangan tersebut. Para pemimpin politik Yaman pun mengkritik “kekeliruan strategis” Partai Islah yang dianggap naif dalam bermain di antara Riyadh dan Abu Dhabi. Mereka menilai bahwa Arab Saudi telah “menjual” Partai Islah kepada UEA.

Surat kabar Al-Akhbar, dalam laporannya, menilai bahwa perkembangan di Yaman selatan merupakan bukti bahwa Arab Saudi tengah berusaha melepaskan diri dari beban mendukung Partai Islah. Meskipun Islah merupakan salah satu kekuatan politik tradisional Yaman, kegagalan terbaru ini membuat partai tersebut kehilangan salah satu pusat kekuatan terpentingnya.

Para analis berpendapat bahwa Partai Islah kini telah menjadi korban permainan Saudi dan UEA: UEA mengonsolidasikan kendalinya atas Yaman selatan, sementara Saudi kemungkinan bersiap mengamankan pengaruhnya di Yaman utara.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *