Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Otopsi Narasi Inspektur Vijay: Dari Kapan Sampai Sekarang?!

POROS PERLAWANAN — Inspektur Vijay tidak langsung membaca isi beritanya. Ia berhenti cukup lama di judul, seolah sedang memastikan waktu kematian sebuah nalar.

“Apa yang Dilakukan 15 Tahun Sanksi terhadap Iran?!”

Angka itu dicetak besar. Lima belas tahun. Bulat, rapi, tampak objektif. Vijay mencatat satu hal sederhana, sebuah narasi yang terlalu rapi biasanya telah dibersihkan dari asal-usulnya.

Surat kabar itu menyebut dirinya reformis, sebuah klaim yang diumumkan, bukan dibuktikan. Pertanyaannya pun terdengar cerdas, padahal premisnya sudah diatur. Sanksi diperlakukan seperti fenomena alam yang datang entah dari mana, bekerja entah bagaimana, dan dampaknya bisa dibicarakan tanpa perlu menyebut sebab. Konteksnya dipotong, lalu akibat diperdebatkan. Metode lama dengan hasil yang selalu sama.

Vijay membuka berkas pendukung. Tidak ada rahasia di sana. Hillary Clinton, saat Resolusi 1929 disahkan, menyatakan secara terbuka bahwa resolusi itu dimaksudkan untuk mendukung Gerakan Hijau. John McCain mengulang pernyataan tersebut tanpa basa-basi. John Bolton bahkan lebih jujur, bahwa sanksi adalah instrumen untuk menekan dinamika politik internal Iran pasca-2009.

Fakta-fakta ini tidak tersembunyi. Tidak bocor. Tidak diselundupkan. Berdiri di ruang publik selama bertahun-tahun, seperti mayat di ruang tamu yang disepakati bersama untuk tidak disebut namanya.

Michael Ledeen melengkapi gambar itu. Bahkan Ledeen mengonfirmasi adanya surat-surat rahasia para arsitek fitnah tahun 88 yang secara eksplisit meminta sanksi keras terhadap Iran. Dokumen-dokumen tersebut pernah dipublikasikan, tidak dibantah, dan kemudian dilupakan dengan disiplin yang mengagumkan.

Ketika surat kabar reformis itu menyebut “15 tahun sanksi”, mereka tanpa sadar mengakui kronologi yang ingin mereka hapus. Angka itu berarti satu hal, bahwa sanksi utama lahir setelah krisis politik yang mereka bungkus sebagai romantisme demokrasi. Lima belas tahun bukan argumen. Lima belas tahun adalah pengakuan yang lolos dari sensor redaksi sendiri.

“Ini bukan kekeliruan,” catat Inspektur Vijay. “Ini teknik.”

Narasi ini tidak berbohong secara telanjang, namun melakukan sesuatu yang lebih halus, yaitu menyederhanakan ingatan. Ketika sebab diturunkan menjadi latar, latar dijadikan kebisingan, dan kebisingan dipakai sebagai alasan untuk bertanya seolah-olah dari nol.

Vijay menutup laporannya dengan ilustrasi klinis, karena kasus ini bukan sebatas kasus politik, melainkan patologi wacana.

Seorang pria datang ke dokter dan mengeluh lupa ingatan.
Dokter bertanya dengan tenang, “Sejak kapan?”
Pria itu terdiam, lalu menjawab, “Sejak kapan apa?”

Diagnosisnya jelas. Ini bukan kehilangan memori, melainkan kegagalan menentukan titik awal.. dan siapa pun yang menguasai titik awal, menguasai seluruh cerita.

Inspektur Vijay menandatangani laporan itu tanpa emosi. Dalam otopsi ini, penyebab kematian nalar bukan sanksi, bukan waktu, bukan kebetulan. Penyebabnya adalah pilihan sadar untuk melupakan satu pertanyaan paling menentukan, yaitu dari kapan semuanya dimulai.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *